• Informasi: Pendaftaran Online Rekrutmen Pegawai Kontrak Dokter Umum RSUP Dr Kariadi diperpanjang sampai dengan tgl 31 agustus 2014

PENANGANAN DEMAM BERDARAH DENGUE

14-Desember-2012 | hit : 8448


Dr Muchlis Achsan Udji Sofro SpPD-KPTI

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan bentuk infeksi Dengue yang disertai dengan manisfasi perdarahan dari ringan sampai berat. DBD menja
di problem kesehatan baik didaerah tropic maupun didaerah sub tropik (sebagai “imported cases”, kasus yang dibawah dari daerah tropik).
 
Sejak munculnya penyakit ini beberapa dekade yang lalu, sampai saat ini praktis tidak ada penurunan baik insiden maupun prevalensinya. Demam dengue adalah Demam yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue.
Dikenal 4 macam jenis Virus Dengue yaitu : Den-1,Den-2.Den-3,dan Den-4.
 
Tanda dan gejala klinik
Biasanya asimptomatik (tanpagejala). Pasien dibawa ke RS biasanya sudah dalam keadaan yang berat. Gejala dan tanda-kliniknya berupa sindrom (kumpulangejala) dari ringan berupa demam ringan sampai syok karena perdarahan yang hebat.
 
Perdarahan dan plasma leakage (kebocoran pembuluh darah) yang terjadi biasanya karena penderita mendapatkan serangan infeksi oleh satu jenis virus Dengue.Didaerah endemic (seperti Indonesia) sebaiknya kita mencurigai setiap demam yang terjadi sebagai Demam berdarah sampai pemeriksaan selanjutnya membuktikan bahwa ternyata bukan Demam berdarah.
 
Para dokter spesialis bedah (yang menduga ada radang usus buntu) dan dokter spesialis kandungan (yang menduga terdapat Kehamilan di luar kandungan) harus waspada bila berhadapan dengan penderita yang berasal dari daerah endemic atau baru kembali dari daerah endemic dengan demam tinggi disertai nyeri abdomen (perut). 
 
Jangan tergesa-gesa melakukan operasi, sebelum yakin bahwa nyeri perutnya bukan karena demam berdarah. Sebab gejalanya mirip antara Demam berdarah Dengue dengan Radang usus buntu, maupun Kehamilan di luar kandungan (kehamilan ektopik terganggu).
 
Pemeriksaan laboratorium ditandai dengan penurunan trombosit dan tanda-tanda plasma Leakage (perembesan plasma akibat kebocoran pembuluh darah) yaitu terjadinya hemokonsentrasi (kadar hematokrit meningkat). Perubahan klinik dan laboratorik penderita DHF Sangat cepat, sehingga diperlukan monitoring tanda vital secara ketat serta pemeriksaan laborat secara serial (tiap 12 jam atau 24 jam). 
 

Kriteria WHO masih dipakai untuk diagnosis DHF.Akan Tetapi dalam keadaan tertentu kita tidak boleh hanya berpegangan dengan satu macam pemeriksaan. Nilaitrombosit yang kurang dari 100.000 ( saja ) tidak bias dijadikan pegangan untuk memasukkan penderita ke Rumah sakit, karena trombosit yang masih diatas 100.000/mm3 dapat mendadak turun secara drastis. Sehingga kalau penderita masih dirumah tentu sangat membahayakan jiwa penderita.
 
Diagnosis DBD dengan pemeriksaan serologi ELISA maupun rapidtest (tescepat) dengan Dengue blot.Untuk Dengue Blot biasanya baru positif di hari kelima demam. Ada pemeriksaan lain: Antigen NS1,dianjurkan untuk pasien dengan demam kurang 3 hari, bila positif mendukung kearah Demam Dengue, Tetapi bila hasilnya negative harus dikonfirmasi lagi dengan Dengue Blot setelah hari ke 5 demam.
 
Penatalaksanaan
Terapi Demam Berdarah Dengue bersifat suportif (meningkatkan daya tahan tubuh) dan simtomatis (menghilangkan gejala). Belum ditemukan obat khusus untuk membunuh virus  Dengue.
 
Perlu mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma (virus Dengue menyerang dinding pembuluh darah) dan memberikan terapi substitusi (pengganti) komponen darah bilamana diperlukan. Jika jumlah trombosit sangat rendah dan timbul perdarahan, maka diberikan transfuse trombosit.
 
Dalam pemberian terapi cairan, perlu pemantauan pemberian cairan. Dengan memperhatikan pasien baik secara klinis maupun laboratories (melihat kadar Hemoglobin, Hematokrit, dantrombosit). Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia (trombosit yang turun) umumnya terjadi hari ke 4 hingga 6 sejak demam. Dengan demikian, perlu waspada bila merawat DBD di hari ke 4 hinggi ke 6. Pada hari tersebut pasien sering tidak mengeluh panas dan cenderung minta rawat jalan.
 
Hari  ke-7 demam, proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan kembali dari ruang interstitial (di sekitar pembuluh darah) ke intravascular (ke dalam pembuluh darah). Terapi cairan pada keadaan tersebut secara bertahap harus dikurangi. Sebab, akan menimbulkan timbunan cairan yang cukup banyak di pembuluh darah. 
 
Perlu pemantauan kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura (penumpukan cairan di lapisan paru) atau pun asites (penumpukan cairan di rongga perut). Dapat dilihat dari gejala klinis : sesak nafas, nafas terasa berat, dan perasaan tidak nyaman.
 
PerluTerapi nonfarmakologis (tanpa obat) yang meliputi tirah baring (pada trombosit openia= penurunan jumlah trombosit yang berat). Kadar trombosit normal: 150 ribu sampai  450 ribu. Apabila turun di bawah 100 ribu, sebaiknya dirawat di rumah sakit.  Karena dikhawatirkan akan terjadi perdarahan dan kemungkinan Syok (Sindrom Syok pada Dengue). 
 
Pemberian makanan dengan kandungan gizi: nasi biasa atau nasi lunak sesuai dengan selera pasien. Diperlukan makanan yang tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna (pedas, asam).
 

 Terapi simptomatis (penghilang gejala), diberikan antipiretik (obat penurun panas): parasetamol, mengatasi keluhan  dyspepsia (rasa tidaknyaman di uluhati, berupa mual, muntah, sebah, mudah kenyang, kembung, sering sendawa).
Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5 protokol, yang mengacu pada protokol WHO.
 
Protokol tersebut terbagi dalam 5 kategori, sebagai berikut:
1. Penanganan tersangka DBD tanpa syok. 
2. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat.
3. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit (kekentalan darah) >20% 
4. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa
5. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa
 
Demam Berdarah Dengue akan selalu ada sepanjang tahun. Kita bias mencegah penularan penyakit ini dengan bersama-sama mengusahakan pemutusan rantai penularan dengan pemberantasan sarang nyamuk.
 
Oleh: Dr Muchlis Achsan Udji Sofro SpPD-KPTI

SMF Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi Semarang