Artikel Kesehatan


11-12-2018 | Hit : 31

PERUBAHAN FISIOLOGI PADA LANSIA

Oleh dr Yudo Murti Mupangati, SpPD-Kger dari RSUP dr.Kariadi

Semarang (14/11/20180 – Sahabat sehat, usia lansia yang ditandai dengan usia 60 tahun keatas.  Pada usia-sia ini akan rentan pada kesehatan fisik dan mental. Secara fisik pun banyak perubahan – perubahan yang dirasakan.  Perubahan perubahan secra fisik pada sistem pernafasan, jantung, pembuluh darah,  pencernaan,  saraf, ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik serta perubahan pada kaki.

Perubahan  fisiologis pada sistem pernafasan yang dihubungkan dengan penuaan adalah  penurunan daya lentur  dinding dada, penurunan kekuatan otot pernafasan, perubahan jaringan paru berupa pelebaran kantung nafas atau emfisema senilis, penurunan diameter saluran nafas kecil dan perubahan elastisitas paru. Keempat faktor tersebut  menyebabkan peningkatan kerja pernafasan, menyebabkan seorang penderita lansia kurang memiliki cadangan untuk menghadapi infeksi bakteri yang terjadi pada paru.

Pada perubahan fisiologis jantung dan pembuluh darah, penuaan mengakibatkan penurunan elastisitas  arteri yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah sistolik. Tekanan darah diastolik akan meningkat sampai usia pertengahan dan kemudian menurun sesudah usia 60 tahun.

Perubahan–perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan sangat mempengaruhi status nutrisi pada lansia.  Hubungan  antara  faktor-faktor yang mempengaruhi status nutrisi pada lansia meliputi  kualitas dan kuantitas makanan yang didapat yang sangat dipengaruhi oleh pilihan, uang yang digunakan, ketersediaan dan cara mendapatkan makanan. Pilihan juga dipengaruhi oleh status mental, selera makanan dan pendidikan. Selera makan pada lansia sangat dipengaruhi oleh perubahan fisiologi yang berupa menurunnya sensasi lidah dan syaraf  pembauan seiring dengan pertambahan usia. Kemampuan untuk mendeteksi dan mendeskriminasi antara manis, asam, asin, dan rasa pahit memburuk pada tiap tingkatan usia lanjut. Rasa ambang untuk rasa asin dan pahit makin lama meningkat dengan perkembangan usia , walaupun untuk rasa manis cenderung menetap.

Adanya kehilangan daerah kortikal abu-abu pada usia pertengahan menyebabkan pengecilan otak, meskipun berapa jumlah hal tersebut yang berperan  dalam penuaan sendiri atau terjadinya penyakit degeneratif masih dalam penelitian. Pada tingkat neuron/syaraf  sendiri, hubungan kerumitan dari neuron menurun, sintesis zat penghantar menurun, dan enzim yang bertanggung jawab terhadap degradasi postsinap terjadi penurunan. Di samping metabolisme serebral, aliran darah, dan autoregulasi secara umum masih utuh, hilangnya sel syaraf dan berkurangnya zat penghantar menghambat kemampuan otak usia lanjut untuk menyatukan banyak perintah. Hal ini digambarkan sebagai hilangnya kecerdasan. Kehilangan neuronal dan demielinisasi juga terjadi pada medula spinalis. Secara fungsional perubahan reflek pada medula spinalis dan rasa raba yang menurun atau yang penting juga adalah adanya  penurunan dalam pengendalian kekurangan oksigen dan kelebihan karbondioksida.

Penurunan dalam fungsi penglihatan dan pendengaran memberikan komplikasi lebih lanjut dari sistem persyarafan untuk mendapatkan dan memproses informasi. Perubahan kombinasi ini dapat menghambat kemampuan usia lanjut untuk mengerti dan memproses informasi.

Penuaan dihubungkan dengan penurunan progresif aliran darah ke ginjal dan hilangnya parenkim ginjal. Pada usia 80 tahun telah terjadi penurunan aliran darah ginjal sebesar 50 %.  Hal ini bersama dengan pengecilan kortek ginjal, mengakibatkan 30 % penurunan sel ginjal pada akhir usia pertengahan. Penuaan dihubungkan dengan pengapuran sel ginjal sehingga menyebabkan gangguan fungsi  ginjal.

Konservasi dan pembuangan natrium terganggu pada usia lanjut. Homostasis cairan lebih rumit akibat perubahan mekanisme pengaturan haus dan pelepasan hormon antidiuretik yang mengakibatkan lebih sering terjadinya kekurangan cairan.

Penurunan aliran darah renal basal menyebabkan  ginjal pada usia lanjut khususnya lebih peka terhadap efek gangguan dari  rendahnya curah jantung, terjadinya tensi yang menurun, kekurangan cairan, dan perdarahan.

Efek perubahan distribusi dan efek obat pada komposisi tubuh bervariasi tergantung dari kelarutan obat dalam lemak atau air. Obat yang larut dalam air akan mempunyai konsentrasi serum yang lebih tinggi dan redistribusi yang lebih rendah, sedangkan obat yang larut dalam lemak cenderung mengalami distribusi dan akumulasi yang lebih lebar, disertai dengan pelepasan yang lebih lambat.

Meskipun perubahan komposisi akibat dari perbedaan plasma protein yang berhubungan dengan penuaan dapat memprediksi tentang farmakokinetik yang rumit pada usia lanjut, pada banyak obat turunnya ikatan dengan protein dan peningkatan fraksi bebas berpotensi meningkatkan efek farmakologi obat. Lagipula perubahan curah jantung dan ginjal dan bersihan ginjal dapat mengubah konsentrasi plasma efektif dan lama kerja obat. Hilangnya syaraf dan penurunan zat penghantar dalam sistem syaraf sentral dapat meningkatkan sensitifitas obat. Perubahan farmakokinetik dapat terjadi akibat penuaan yang membuat kesulitan  untuk mengidentifikasi efek independen penuaan pada farmakodinamik. Perubahan metabolisme diatas apabila disertai dengan polifarmasi akan menyebabkan lansia  cenderung mengalami efek samping obat.

Perubahan yang terjadi pada kaki yaitu penurunan sensitivitas kulit pada plantar; kuku pada daerah kaki  lebih mudah rapuh dan mudah terkena jamur; jaringan lunak pada daerah kaki sedikit menebal, lebih mampan, lebih kaku, dan fasia di daerah kaki menjadi lebih tebal; kaki lebih kaku , dan dorongan langkah lebih kurang; penurunan kekuatan, lingkup gerak sendi, sensitivitas, dan  rasa raba.

 

 

Navigation