Artikel Kesehatan


23-01-2018 | Hit : 116

“STROKE, Serangan Mendadak yang Bisa Menimbulkan Kecacatan”

Dr. Dodik Tugasworo, Sp.S(K)

(KSM Neurologi RSUP. Dr. Kariadi Semarang)

 

Pada tubuh manusia terdapat sistem saraf yang memegang peranan penting dalam mekanisme kerja seluruh organ dalam tubuh. Sebagaimana sebuah “sistem” jika terjadi gangguan pada salah satu sel-nya maka akan berpengaruh pada kinerja sel maupun organ lainnya. Karena kompleksitas susunan sistem saraf, maka bila terjadi kerusakan dapat berakibat pada munculnya banyak kelainan.

undefinedst

Terganggunya sistem saraf pada tubuh manusia dapat berakibat fatal bagi kesehatan. Pada umumnya penderita akan sulit menjalankan rutinitas kehidupannya secara normal. Salah satu penyakit akibat terganggunya sistem saraf pusat adalah kelainan pembuluh darah, yang dapat mengakibatkan stroke.

Banyak definisi penyakit stroke yang dimengerti orang awam, diantaranya adalah kelumpuhan separuh badan, koma, kejang, mulut perot atau bicara pelo. Sedangkan secara ilmiah stroke dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana terdapat sekumpulan gangguan yang diakibatkan terganggunya aliran darah otak yang terjadi mendadak. Otak berfungsi dalam mengatur gerakan, sensibilitas, koordinasi gerakan, bahasa, pengaturan emosi, fungsi luhur, kecerdasan, memori dan metabolisme. Sehingga gangguan yang timbul akibat stroke dapat sangat luas dan bermacam – macam, tergantung dari area mana yang terganggu di otak.

Stroke adalah penyakit yang menyebabkan kecacatan pertama dan kematian tersering kedua di dunia serta penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Stroke sering dijumpai di masyarakat modern saat ini. Jumlahnya diperkirakan akan semakin meningkat dikemudian hari, oleh karena perubahan gaya hidup, lingkungan yang semakin tidak sehat, jenis makanan yang semakin beragam dan semakin berlemak. Stroke  berpengaruh pada meningkatnya beban ekonomi yang harus ditanggung oleh setiap keluarga untuk pemeliharaan kesehatan bagi pasien stroke.

Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penderita stroke di Indonesia. Saat ini juga terdapat kecenderungan stroke menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Stroke juga menjadi penyebab utama dari gangguan fungsional, 20% dari penderita stroke yang dapat bertahan membutuhkan perawatan pada unit khusus selama 3 bulan dan 15%-30% menjadi kecacatan permanen. Stroke menyebabkan perubahan pola hidup yang berpengaruh tidak hanya pada penderitanya namun juga pada seluruh keluarga dan orang yang merawatnya.

Apakah kita sudah cukup mengetahui bahwa gaya hidup / lifestyle sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan otak dan memori kita? Setidaknya terdapat 6 pilar lifestyle yang memiliki dampak penting terhadap kesehatan otak, antara lain : exercise  / aktifitas fisik, makanan dan minuman yang kita makan, kualitas kesehatan fisik, kualitas tidur dan relaksasi, interaksi sosial, dan manajemen stress.

Para peneliti di bidang kesehatan telah berupaya mencari penyebab dan faktor risiko terjadinya stroke. Faktor risiko adalah karakteristik yang ada pada seseorang yang dapat menimbulkan atau meningkatkan risiko untuk menderita penyakit tertentu. Ada 2 kelompok utama faktor risiko stroke. Kelompok pertama ditentukan secara genetik atau berhubungan dengan fungsi tubuh yang normal sehingga tidak dapat dimodifikasi. Yang termasuk kelompok ini adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat stroke dalam keluarga. Kelompok yang kedua merupakan akibat dari gaya hidup seseorang dan dapat dimodifikasi. Faktor risiko utama yang termasuk kelompok kedua adalah hipertensi / tekanan darah tinggi, diabetes mellitus / kencing manis, merokok, hiperlipidemia / peningkatan profil lemak, gangguan aliran darah jantung, kegemukan dan intoksikasi alkohol. Dari berbagai studi mengenai stroke, sampai saat ini tekanan darah tinggi serta kencing manis masih menempati peringkat utama.

Mengapa orang – orang dengan faktor risiko di atas pada akhirnya dapat berkembang menjadi penyakit saraf yang telah terbukti banyak menimbulkan kecacatan bahkan kematian? Hal ini dikarenakan penyakit – penyakit yang menjadi faktor risiko stroke di atas terus menerus merusak pembuluh darah di semua organ tubuh termasuk otak, melalui proses “Aterosklerosis”. Aterosklerosis merupakan suatu proses peradangan kronis yang terjadi pada pembuluh darah, melibatkan proses yang kompleks, melibatkan lemak dan aktivasi agen – agen pro inflamasi (pro terhadap proses peradangan) sehingga hasil akhirnya akan membentuk suatu “Plak Aterosklerosis”. Terbentuknya plak atersklerosis ini akan menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah sehingga aliran darah menurun, bahkan bila sumbatannya total maka aliran darah akan total terhenti. Padahal darah merupakan sarana yang menghantarkan glukosa sebagai nutrisi untuk seluruh sel dalam tubuh serta menghantarkan oksigen untuk kelangsungan proses metabolisme dalam sel. Maka apabila terjadi sumbatan pembuluh darah, sel – sel tubuh akan kekurangan glukosa dan oksigen dan mengakibatkan kegagalan metabolisme, akibatnya fungsi sel tersebut akan menurun. Apabila sumbatan terjadi pada pembuluh darah di otak maka terjadilah Stroke. Secara umum ada dua penyebab stroke, yaitu : sumbatan di pembuluh darah otak dan pecahnya pembuluh darah otak.

Prosedur penunjang diagnosis adalah upaya yang penting untuk membantu dokter mengkonfirmasi atau menyingkirkan kelainan neurologis ataupun kondisi medis lainnya. Lebih dari satu abad lalu, satu-satunya cara untuk membuat diagnosis positif untuk berbagai kelainan neurologis adalah dengan melakukan otopsi setelah pasien meninggal. Tapi beberapa dekade terakhir telah banyak pengembangan prosedur penunjang diagnosis yang dapat memungkinkan seorang dokter untuk melihat aktivitas sistem saraf maupun pembuluh darah yang terlibat pada sistem saraf dengan menggunakan alat yang kuat dan akurat. Tujuan dari tes atau prosedur penunjang diagnosis tersebut tidak hanya untuk membantu penegakkan diagnosis, namun juga menguji seberapa baik penatalaksanaan yang telah dilakukan. Oleh karena itu perlu untuk melakukan deteksi dini kelainan otak untuk mencegah berkembangnya gejala awal kelainan otak menjadi suatu penyakit saraf yang lebih berat. Tes atau prosedur penunjang diagnosis yang dapat membantu untuk mendeteksi kelainan sistem saraf antara lain : layanan “Brain Clinic” untuk screening fungsi kognitif, TCD - TCCD, EEG, TMS, dan pemeriksaan neuroimaging (CT scan, MRI, dll). Adapun diagnosis pasti stroke ditegakkan dengan pemeriksaan neuroimaging (CT scan kepala).

Pendekatan terhadap kasus-kasus neurologi saat ini juga mulai berkembang ke arah penanganan yang lebih agresif dan sesegera mungkin, dengan tujuan menurunkan tingkat kematian, menurunkan angka kesakitan, mempersingkat lama perawatan, menurunkan angka kecacatan dan menekan biaya perawatan. Sebagian dari kasus neurologi termasuk stroke merupakan kasus dengan kondisi kritis yang membutuhkan penanganan intensif yang cepat, tepat dan cermat. Stroke merupakan keadaan emergensi sehingga akhir-akhir ini muncul istilah “brain attack”. Istilah ini harus dikampanyekan dan dimasyarakatkan sehingga muncul kesadaran dalam masyarakat bahwa begitu mengalami / menghadapi serangan stroke, harus segera meminta pertolongan kepada yang berkompeten. Sehubungan dengan itu tentu saja dituntut kesiapan rumah sakit, terutama sumber daya manusianya (dokter) dalam penanggulangan emergensi stroke. Pemanfaatan waktu emas (golden periode) < 6 jam hendaklah semaksimal mungkin dan harus tepat serta akurat sehingga kerusakan otak lebih lanjut (secondary insult) dapat dicegah.

Bagaimanapun mencegah lebih utama dibandingkan mengobati. Peran dokter di tingkat pelayanan primer (Puskesmas dan dokter keluarga) serta kesadaran masyarakat dalam mengendalikan faktor risiko stroke dan deteksi dini terhadap penyakit stroke sangat perlu untuk ditingkatkan. Usaha pencegahan terjadinya stroke meliputi upaya memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko stroke. Upaya ini ditujukan kepada orang sehat maupun kelompok risiko tinggi yang belum pernah terserang stroke. Adanya faktor risiko stroke ini  membuktikan bahwa stroke adalah suatu penyakit yang dapat diramalkan sebelumnya dan bukan merupakan suatu hal yang terjadi begitu saja. Banyak orang yang merasa pesimis bahwa penyakit stroke tidak bisa dicegah. Padahal faktanya stroke bisa dicegah dengan mengontrol berat badan, tekanan darah, dan kadar gula dan kolesterol. Semuanya bisa didapat dengan cara rajin berolahraga, makan sehat, dan mengurangi konsumsi alkohol serta rokok serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

.

 

Navigation