Artikel Kesehatan


25-01-2016 | Hit : 437



PENYEMBUHAN YANG LEBIH CEPAT DENGAN TEKNIK PARSIAL TORNIKET PADA ARTROPLASTY SENDI LUTUT .
OLEH : Dr.Robin Novriansyah, Msi.med.SpB,SpOT(K).
(Konsultan Bedah Pinggul dan Lutut, RSUP Dr.Kariadi Semarang )
 

Torniket sering  digunakan pada artroplasti sendi lutut total ( total  knee artroplasty atau TKA ) untuk mengurangi perdarahan intraoperatif yang lebih sedikit dan menciptakan lahan operasi bersih tanpa perdarahan, sehingga mempercepat durasi tindakan bedah, meningkatkan kualitas sementasi, dan memastikan ketahanan fiksasi  implan  jangka panjang. Meskipun demikian, penggunaan torniket juga menimbulkan beberapa kerugian, meliputi nyeri pasca operasi yang lebih lama, kelumpuhan otot, kesemutan pasca operasi yang lebih lama, iskemia, kerusakan jaringan lunak, komplikasi tromboemboli  penyembuhan luka pasca operasi yang buruk dan menyebabkan terjadinya maltracking pada patela.
 
 
Pemakaian Torniket  selama operasi dapat menyebabkan penyembuhan dan waktu fisioterapi pasca operasi berlangsung lebih lama sebagai akibat dari penurunan kekuatan otot dan rentang gerak ( range of motion atau ROM ) serta peningkatan nyeri, bahkan beberapa studi menunjukan adanya peningkatan nyeri dan gangguan ROM hingga satu tahun pasca operasi bila menggunakan torniket.
 
Beberapa studi terkontrol  teracak dan meta – analisis mengenai efek samping torniket sudah dipublikasikan , akan tetapi masih banyak pertentangan mengenai perlu atau tidaknya menggunakan torniket dalam TKA. Alasan paling utama masih digunakannya torniket dalam TKA adalah berhubungan sementasi dimana dengan pemakaian torniket tidak tedapat interdigitasi antara semen dan tulang yang adekuat akibat perdarahan disekitar medan operasi, adanya interdigitasi tersebut berakibat gangguan fiksasi implant dan menyebabkan gangguan survival implant jangka panjang. Namun, dampak penting  yang harus diperhatikan adalah  risiko kerusakan saraf dan kekuatan motorik akibat pemakaian torniket selama TKA.
 
 
Ejaz dan rekan meneliti mengenai efek penggunaan torniket pada luaran klinis dan fungsional, serta pada ROM sendi lutut. Penelitian  ini juga mendata mengenai kehilangan darah intra operatif, durasi operasi, tingkat kesulitan dan lapangan pandang saat operasi,nyeri pasca operasi penggunaan analgesik pasca operasi, serta keperluan operasi.
 
 
Sebanyak 70 pasien yang berusia 50-85 tahun yang menjalani TKA  pada periode Januari 2011 –Januari 2012 di RS Universitas Aalborg, Denmark , terbagi 2 grup dengan dan tanpa torniket. Semua operasi dilakukan dokter bedah yang sama dan pemantauan  selama 1 tahun. Luaran primer yang dievaluasi adalah  klinis dan fungsional, yang dievaluasi dengan KOOS dan ROM sendi  lutut. Luaran sekunder berupa kehilangan darah intra operatif , durasi operasi, lapangan pandang operatif, nyeri pasca operasi , konsumsi analgetik, dan kebutuhan transfusi.
 
Dalam studi ini, pasien pada grup  tanpa torniket menunjukan luaran yang lebih baik dalam skor KOOS dan ROM sendi lutut dini  yang lebih baik daripada operasi dengan torniket hingga minggu ke-8.Tidak ada perbedaan yang bermakna pada pemantauan bulan ke -6 dan ke-12. Nyeri pasca operasi dan konsumsi  analgetik jadi berkurang pada operasi tanpa torniket. Durasi dan lapangan pandang serupa pada kedua grup.Kehilangan darah intra operatif lebih banyak ketika torniket tidak digunakan, bahkan tercatat sampai  dibutuhkan transfusi  pasca operasi .
 
 
Dalam Penelitian ini, tampak bahwa operasi TKA tanpa torniket menghasilkan penyembuhan lebih cepat dan dalam hal luaran fungsional dan ROM sendi lutut operasi ini lebih baik. Pada grup  tanpa torniket didapatkan penurunan tingkat nyeri dan penurunan pemakaian analgesik pasca operasi serta tidak pula didapatkan kesulitan intraoperatif yang berarti. Pada penelitian ini tidak di evaluasi survivial implant jangka panjang yang mana sangat dipengaruhi oleh teknik dan kualitas sementasi saat fiksasi implant. Kualitas sementasi implant  akan sangat terpengaruh akibat medan operasi yang tidak bersih akibat darah, dimana adanya darah akan mempengaruhi interdigitasi bone –cement  yang berakibat mempengaruhi lamanya bertahan ( Survival )  implant.
 
Melihat kelebihan dan kekurangan operasi dengan atau tanpa menggunakan torniket,  kami di departemen bedah, khususnya bedah pinggul dan lutut RSUP Dr.Kariadi Semarang mengembangkan teknik Parsial torniket pada operasi  ganti sendi lutut.Pada teknik ini torniket hanya di inflasi saat fiksasi semen dengan menggunakan tekanan torniket rendah ( Low force )  berkisar tekanan 250 mmHg, apabila semen dan implant sudah kuat terpasang,dimana  hanya memerlukan  waktu 15 menit, kemudian torniket diturunkan tekanannya sampai 0 mmHg ( Deflate ).
 
Kami telah melakukan  peneletian  terhadap setiap kasus TKA di RSUP Dr.Kariadi semarang, dalam penelitian kami  dapatkan skor KOOS dan ROM sendi lutut sampai 6 bulan pasca operasi yang lebih baik. Lama operasi dan lapangan pandang operasi yang  tidak berbeda dengan operasi dengan torniket. Kehilangan darah rata-rata 200 cc dimana pasien tidak memerlukan transfusi pascaoperasi. Nyeri pasca operasi yang lebih ringan, serta lamanya fisioterpi pasca operasi lebih singkat, karena pasien memiliki kekuatan otot yang lebih baik pasca operasi. Penelitian tentang Partial Tourniquet-less TKA in Kariadi Ganeral Hospital Semarang, Central Java, telah kami presentasikan dalam Kongres Asean Artroplasty Assosiaciation ( AAA ) dan THKS di Bangkok, 11 Agustus 2015 silam.  


Navigation