Berita Terbaru


15-03-2019 | Hit : 36

8 Hal yang Membuat Anda Berisiko Terkena Kanker Kolorektal

 

Usus besar merupakan bagian dari saluran pencernaan pada manusia yang merupakan tempat penyerapan nutrisi terakhir kali dan tempat pembentukan feses sebelum dipindahkan ke bagian rektum lalu dibuang melalui anus. Kanker kolorektal merupakan salah satu penyakit paling serius yang dapat terjadi di bagian usus besar dan rektum.

 

Seberapa seringkah kejadian kanker kolorektal?

Menurut American Cancer Society, kanker kolorektal (KKR) adalah kanker ketiga terbanyak dan merupakan kanker penyebab kematian ketiga terbanyak pada pria dan wanita di Amerika Serikat. Berdasarkan survei GLOBOCAN 2012, insidens KKR di seluruh dunia menempati urutan ketiga (1360 dari 100.000 penduduk [9,7%], keseluruhan laki-laki dan perempuan) dan menduduki peringkat keempat sebagai penyebab kematian (694 dari 100.000 penduduk [8,5%], keseluruhan laki-laki dan perempuan). Di Amerika Serikat sendiri pada tahun 2016, diprediksi akan terdapat 95.270 kasus KKR baru, dan 49.190 kematian yang terjadi akibat KKR.

Secara keseluruhan risiko untuk mendapatkan kanker kolorektal adalah 1 dari 20 orang (5%). Risiko penyakit cenderung lebih sedikit pada wanita dibandingkan pada pria. Banyak faktor lain yang dapat meningkatkan risiko individual untuk terkena kanker kolorektal. Angka kematian kanker kolorektal telah berkurang sejak 20 tahun terakhir. Ini berhubungan dengan meningkatnya deteksi dini dan kemajuan pada penanganan kanker kolorektal (KKR).

 

Apa itu kanker kolorektal?

Kanker kolorektal adalah keganasan yang berasal dari jaringan usus besar, terdiri dari kolon (bagian terpanjang dari usus besar) dan/atau rektum (bagian kecil terakhir dari usus besar sebelum anus). Kanker kolorektal dapat berupa kanker kolon atau kanker rektum, bergantung pada tempat munculnya kanker pertama kali. Keduanya memiliki banyak kesamaan seperti proses pertumbuhan dan bentuk kanker.

 Tanda dan gejala kanker kolorektal

Saat awal terjadinya tumor dan fase perubahan menjadi sel kanker, seringkali tidak ditemukan gejala pada penderita. Gejala kanker kolorektal mulai tampak setelah kanker membesar dan mengganggu fungsi pencernaana tubuh. Beberapa gejala yang sering dialami penderita adalah:

  • Keluar darah dari anus, tinja berwarna gelap, atau ditemukannya darah pada tinja.
  • Perut terasa masih sakit setelah buang air besar.
  • Perubahan aktivitas sistem pencernaan yang disertai dengan diare, sembelit, atau jumlah feses yang dikeluarkan terlalu sedikit dan berlangsung beberapa hari.
  • Penurunan berat badan secara tiba-tiba.
  • Sering mengalami nyeri ataupun kram perut.
  • Mengalami anemia karena penurunan jumlah sel darah.

Jika Anda mengalami gejala ini, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

 

Terjadinya kanker kolorektal

 

Sebagian besar kanker kolorektal diawali dengan pertumbuhan benjolan kecil (polip) pada bagian dalam usus besar atau rektum. Sebagian besar polip tidak berkembang menjadi kanker, hanya jenis tertentu saja yang dapat menjadi kanker, yaitu adenomatous polip, hiperplastik polip dan inflammatory polip. Sebanyak 95% sel kanker kolorektal berasal dari adenomatous polip dan berkembang menjadi adenokarsinoma.

Sel kanker pada bagian kolon dan rektum tumbuh pada lapisan organ yang paling dalam (mukosa) dan terus tumbuh mempengaruhi semua lapisan. Jika sel kanker sudah tumbuh mencapai pembuluh darah organ, maka sel kanker dengan mudah menyebar (metastasis) dan merusak pertahan tubuh sekitar dengan menyerang nodus limfa atau hingga organ tubuh yang lebih jauh. Perkembangan kanker kolorektal dapat dinilai berdasarkan pertumbuhan tumor pada lapisan dinding usus besar atau rektum penderita, penyebaran sel kanker untuk mengenai nodus limfa di sekitar sel kanker, dan seberapa jauh penyebaran sel kanker  di dalam organ tubuh. Biasanya sel kanker kolorektal dapat menyebar hingga hati dan paru-paru.

 

Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya kanker kolorektal

Penyebab utama dari kanker kolorektal (KKR) belum diketahui secara pasti. Secara umum perkembangan KKR merupakan interaksi antara faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor lingkungan multipel beraksi terhadap predisposisi genetik atau defek yang didapat dan berkembang menjadi KKR.

Terdapat banyak faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan risiko terjadinya KKR; faktor risiko dibagi menjadi dua yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Termasuk di dalam faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah riwayat KKR atau polip adenoma individual dan keluarga, dan riwayat individual penyakit kronis inflamatorik pada usus. Yang termasuk di dalam faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah inaktivitas, obesitas, konsumsi tinggi daging merah, merokok dan konsumsi alkohol moderat sampai sering. Sementara aktivitas fisik yang cukup, diet berserat,  dan asupan vitamin D, termasuk dalam faktor protektif.

 

Faktor risiko yang tidak dapat diubah

  • Riwayat keluarga dengan kanker kolorektal dan familial adenomatous polyps

Riwayat keluarga perlu ditanyakan pada semua pasien kanker kolorektal. .Sekitar 20% kasus kanker kolorektal memiliki riwayat familial (+). Anggota keluarga tingkat pertama (orangtua, saudara sedarah, atau anak) yang didiagnosis adenoma kolorektal atau kanker kolorektal invasif akan meningkatkan risiko kejadian kanker kolorektal pada individu tersebut. Suseptibilitas genetik terhadap Karsinoma kolorektal meliputi sindrom Lynch (atau hereditary nonpolpyposis colorectal cancer [HNPCC] dan familial adenomotous polypasis. Jika ada anggota keluarga yang mengalaminya, lakukanlah deteksi kanker kolorektal secara rutin.

  • Usia di atas 50 tahun

Akan meningkatkan risiko terkena kanker. Kanker membutuhkan waktu untuk berkembang dari sel yang abnormal, sehingga individu akan terdiagnosis mengalami kanker pada usia lanjut.

  • Riwayat menderita polip atau kanker kolorektal

Seseorang yang sudah dinyatakan sembuh dari kanker kolorektal atau polip dapat mengalami tumbuhnya sel kanker baru di dalam usus. Risiko ini akan lebih besar jika seseorang sudah terkena kanker kolorektal saat usia muda.

  • Pernah mengalami inflammatory bowel disease (IBD) alias penyakit radang usus

Dinding usus penderita IBD mengalami munculnya sel abnormal yang dapat dilihat dengan mikroskop (dysplasia). Jika anda pernah terdiagnosis IBD, lakukanlah skrining kanker kolorektal secara rutin. IBD berbeda dengan inflammatory bowel syndrome (IBS) yang tidak meningkatkan risiko kanker kolorektal.

 

Faktor risiko yang dapat diubah

  • Kurang aktivitas fisik dan obesitas

Fisik yang tidak aktif atau "physical inactivity" merupakan faktor yang paling sering dihubungkan dengan Kanker kolorektal. Aktivitas fisik reguler mempunyai efek protektif dan dapat menurunkan risiko KKR sampai 50%. American Cancer Society (ACS) menyarankan untuk melakukan setidaknya aktivitas fisik moderat (seperti jalan cepat) selama 30 menit atau lebih selama 5 hari atau lebih setiap minggu. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan kelebihan berat yang juga merupakan faktor yang meningkatkan risiko KKR.

  • Pola makan

Beberapa studi, termasuk yang dilakukan oleh ACS, menemukan bahwa konsumsi tinggi daging merah dan/atau daging yang telah diproses meningkatkan risiko kanker kolon dan rektum. Risiko tinggi KKR ditemukan pada individu yang mengkonsumsi daging merah yang dimasak pada temperatur tinggi dan waktu masak yang lama. Selain itu individu yang kurang mengkonsumsi buah dan sayur juga mempunyai faktor risiko KKR yang lebih tinggi.

  • Merokok

Banyak studi telah membuktikan bahwa merokok dapat menyebabkan KKR. Hubungan antara merokok dan kanker lebih kuat pada kanker rektum dibandingkan dengan kanker kolon.

  • Alkohol

Konsumsi alkohol secara moderat dapat meningkatkan risiko KKR. lndividu dengan rata-rata 2 sampai 4 porsi alkohol per hari selama hidupnya, mempunyai 23% risiko lebih tinggi KKR dibandingkan dengan individu yang mengkonsumsi kurang dari satu porsi alkohol per hari.

 

Navigation