Artikel Kesehatan


05-02-2013 | Hit : 3663

Aisyah, seorang guru yang mengalami penyakit ALS walaupun tidak bisa berjalan tapi tetap setia memberikan pelajaran di rumah, Kelurahan Pindrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah,  dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. (Suara Merdeka 12 Desember 2012). 

Tubuh kita dikaruniai Allah dengan persyarafan yang sangat lengkap. Mulai dari Saraf Motorik, Saraf Sensorik dan Saraf Otonom.
Saraf Motorik menjadikan kita dapat melakukan kegiatan dengan menggunakan otot-otot lurik. Di sekitar wajah, otot lurik menyebabkan kita dapat menggerakkan kelopak mata, menggerakkan bibir (tersenyum, menangis, menyeringai), pipi untuk mengunyah dan otot leher untuk menoleh, menengadah, dan menunduk.

Saraf sensorik, memudahkan kita merasakan dengan indera: penciuman, pengecapan, perabaan, pendengaran dan penglihatan.

Saraf otonom memungkinkan jantung berdetak otomatis, nafas memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Mampu Buang Air Kecil dan Buang Air Besar secara teratur. Kelenjar-kelenjar hormone (air liur, pancreas untuk insulin, tiroid) bekerja secara otomatis.

Pada keadaan tertentu saraf-saraf di atas dapat mengalami gangguan, diantaranya dalam bentuk ALS.

ALS atau Amyotrophic Lateral Sclerosis, merupakan penyakit yang menyerang saraf motorik, yang mengakibatkan kelemahan anggota gerak. Otot menjadi kaku, bicaranya sulit, kadang kesulitan menelan dan kesulitan bernafas.

Hal ini disebabkan karena degenerasi saraf motorik atas dan bawah. Yang terganggu hanyalah saraf motorik, sedangkan saraf sensorik dan saraf otonom tidak terganggu. Sehingga pasien ALS tetap bisa merasakan, membau, meraba, melihat dan mendengar dengan baik.

Pada awalnya pasien ALS dapat menunjukkan gejala kelemahan otot yang ringan. Jika mengenai tungkai maka ketika berjalan tiba-tiba mengalami kram di kaki, atau mendadak jatuh saat berdiri. Bila menyerang lengan maka pasien mengalamii kesulitan saat memakai baju. Tangan susah masuk ke baju. Kesulitan menulis atau saat akan menyalakan kendaraan (motor, mobil) tidak mampu memutar kunci kontak. Serangan ini bisa satu sisi ekstremitas (kanan atau kiri saja), sehingga disebut Monomelic amyotrophy.

Seperempat pasien (25%) mengalami kesulitan dalam berbicara. Bicaranya tidak jelas, terbata-bata, atau gagap. Kadang seperti sengau (Bindeng: Jawa). Sebagian mengalami gangguan gerakan lidah, sehingga seperti celad atau Pelo. Ada yang mengalami gangguan pernafasan (bernafas seperti berat /ampeg) karena otot dinding dada terganggu.

Di saat lain, ada pasien ALS yang memperlihatkan gangguan gerak (kesulitan berpindah posisi), kesulitan menelan, bicara terbata-bata.

Separo pasien ALS menunjukkan emosi yang labil, kadang tiba-tiba tertawa keras sekali, menangis diselingi tersenyum,

Penyebab:

Sebagian besar (95%) tidak diketahui sebabnya. Sisanya disebabkan oleh factor keturunan, bahan kimia, Trauma kepala (olahraga kontak yang mencederai kepala), atau tersengat listrik,

Diagnosis:

Tidak ada pemeriksaan khusus yang bisa mendiagnosis secara pasti ALS. Apalagi secara tepat menentukan apakah kelainannya di motor neuron atas atau bawah. Diagnosis ALS berdasarkan gejala dan tanda klinis yang dikeluhkan pasien dan dengan pemeriksaan dokter sambil menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain.

Pemeriksaan penunjang yang cukup membantu diagnosis adalah EMG (Elektro Miografi). Sambil mengevaluasi kelemahan otot, otot yang mengalami atropi (pengecilan), reflex otot yang berlebihan, serta spastisitas (kekakuan) otot. Pemeriksaan EMG dapat mendeteksi aktifitas listrik otot.

Pemeriksaan MRI dapat membantu menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain yang mirip ALS seperti: tumor medulla spinalis, Multipel sclerosis, Herniasi saraf di daerah leher, Syringomyelia atau Spondilosis servikal.
Tetap diperlukan pemeriksaan tes darah dan urin sebagai pemeriksaan rutin. Sebab ALS gejalanya mirip penyakit infeksi seperti: HIV, penyakit Lyme, Sifilis, dan Ensefalitis.

Terapi:

Pengobatan ALS yang pokok adalah fisioterapi atau rehabilitasi medic agar pasien mampu bergerak senyaman mungkin dan bisa beraktivitas sebagaimana sebelumnya. Diperlukan Terapi wicara bagi yang ada gangguan bicara dan Terapi okupasi dengan penuh perhatian.

Obat-obat yang dikonsumsi biasanya untuk mengurangi gejala yang timbul seperti: fatig, kram otot, pengontrol spastisitas otot, pengurang rasa nyeri, obat antidepresi, gangguan tidur dan disfagi (kesulitan menelan) serta konstipasi (kesulitan Buang air besar).

Pasien ALS dapat hidup sehat seperti orang lain dengan ketekunan dan ketelatenan dalam menjalani terapi. Seperti  DR Stephen Hawking, penulis terkenal yang terserang ALS saat mengambil studi doctoral. Dengan kesabarannya mampu menyelesaikan studi dengan baik walaupun menyandang ALS.

Namun ada juga yang harus tetap berada di tempat tidur, meskipun semua organ tubuh normal, kecuali tidak mampu berjalan dan untuk makanpun harus dibantu selang NGT (langsung ke lambung). Diperlukan kesabaran dan keihlasan bagi keluarga maupun pasien ALS. ****

 

Dr Retnaningsih SpS-KIC

Spesialis Saraf RSUP Dr Kariadi Semarang

Navigation