Artikel Kesehatan


15-01-2018 | Hit : 66

BANTUAN DOKTER DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP)
Dr. ARIF RAHMAN SADAD SH., SpF.,Msi.Med., DHM
KSM KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

Dalam beberapa tahun terakhir ini, seringkali kita membaca berita mengenai peristiwa kejahatan, misalnya kasus penganiayaan, pembunuhan, dan kematian mendadak. Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dokter dalam kapasitasnya sebagai ahli dapat diminta bantuan untuk memberikan keterangan dalam rangka menemukan kebenaran materiil. Pada tingkat penyelidikan tujuannya membantu penyelidik menentukan apakah suatu peristiwa merupakan tindak pidana atau bukan, sedangkan pada tingkat penyidikan dan penyidikan tambahan membantu penyidik mengumpulkan bukti-bukti supaya dengan bukti itu perkara menjadi lebih jelas dan pelaku dapat
ditangkap.

BANTUAN DOKTER DI TKP
Bantuan dokter dalam menangani korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP) memang sangat dibutuhkan. Bantuan dokter tersebut tidak hanya ditujukan untuk korban meninggal saja tetapi juga korban hidup.


1. Tujuan Bantuan Dokter di TKP
Pemeriksaan dokter di TKP terhadap diri korban, bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat dalam waktu singkat dan melakukan beberapa tes lapangan yang berguna bagi pihak penyidik agar dapat melakukan strategi serta langkah yang tepat untuk dapat memperjelas dan membuat terang suatu perkara pidana yang menyangkut tubuh manusia.
Bantuan dokter di TKP adalah melakukan pemeriksaan yaitu berupa pemeriksaan korban, dan pengolahan TKP, yang meliputi pengamanan TKP, pembuatan sketsa dan pemotretan, dan pengumpulan barang bukti.

2. Manfaat
a. Menentukan saat kematian
b. Menentukan pada saat itu sebab akibat tentang luka
c. Mengumpulkan barang bukti
d. Menentukan cara kematian

3. Peranan Dokter di TKP
Peranan dokter di TKP adalah membantu penyidik dalam mengungkap kasus dari kedokteran forensik. Pada dasarnya semua dokter dapat bertindak sebagai pemeriksa di TKP, namun dengan perkembangan spesialisasi dalam ilmu kedokteran, lebih baik bila dokter ahli forensik yang hadir.
Pemeriksaan kedokteran forensik di TKP harus mengikuti kententuan yang berlaku umum pada penyidikan di TKP, yaitu menjaga agar tidak mengubah keadaan TKP. Semua benda bukti di TKP yang ditemukan agar dikirim ke laboratorium setelah sebelumnya diamankan sesuai prosedur. Selanjutnya dokter dapat memberikan pendapat dan mendiskusikan dengan penyidik dengan memperkirakan terjadinya peristiwa dan merencanakan langkah penyidikan lebih lanjut. Bila perlu dokter dapat melakukan anamnesa dengan saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran riwayat medis korban.

Adapun tindakan yang dapat dikerjakan dokter adalah:
a. Menentukan apakah korban masih hidup atau telah meninggal, apabila masih hidup upaya yang dilakukan terutama untuk menolong jiwanya. Hal yang berhubungan dengan kejahatan dapat ditunda untuk sementara. Jangan memindahkan jenazah sebelum seluruh pemeriksaan TKP selesai.
b. Bila korban telah meninggal, menentukan perkiraan saat kematian, dari penurunan suhu, lebam mayat, kaku mayat, dan perubahan post mortem lainnya. Pada umumnya perkiraan saat kematian ini berkaitan dengan alibi dari tersangka.
c. Menentukan identitas korban baik secara visual, pakaian, perhiasan, dokumen, dokumen medis dan dari gigi, pemeriksaan serologi, sidik jari. Identitas korban dibutuhkan untuk memulai penyidikan, karena biasanya ada hubungan antara korban dengan pelaku. Pelaku umumnya telah mengetahui siapa korbannya.
d.Menentukan jenis luka dan jenis kekerasan, dapat memberikan informasi mengenai alat atau senjata yang dipakai serta perkiraaan proses terjadinya kejahatan tersebut yang berguna dalam interogasi dan rekonstruksi. Dengan diketahui jenis senjata, pihak penyidik dapat melakukan pencarian secara lebih terarah.
e. Membuat sketsa keadaan di TKP secara sederhana dan dapat memberikan gambaran posisi korban dikaitkan dengan situasi yang terdapat di TKP.
f. Mencari, mengumpulkan, dan menyelamatkan barang-barang bukti (trace evidence) yang ada berkaitan dengan korban, bagi kepentingan pemeriksaan selanjutnya. Semakin banyak barang bukti ditemukan, termasuk barang bukti medik akan semakin mempermudah penegak hukum membuat terang perkara pidana. Barang bukti medik tersebut harus diselamatkan dari kerusakan dan dokter memiliki kemampuan untuk itu.

Kerugian jika dokter tidak melakukan pemeriksaan TKP :
a. Ketika jenazah dipindahkan ke kamar mayat, luka lecet baru dapat terjadi pada jenazah selama pemindahan.
b. Pakaian akan kusut; noda darah akan terbentuk pada bagian-bagian pakaian yang awalnya tidak ada noda darah. Jika tubuh terlentang dengan sebuah luka tusuk pada bagian depan dada atau abdomen, kehilangan darah eksternal sangat minimal atau tidak ada. Ketika tubuh dibalikkan, sejumlah besar darah dapat keluar dari luka dan menodai pakaian.
c. Robekan baru pada pakaian dapat terjadi dari penanganan yang kasar
d. Kaku mayat yang telah ada dapat hilang sebagian.


4. Prosedur Permintaan Dokter di TKP
Pada proses peradilan pidana, tugas yang paling utama dari penegak hukum adalah menemukan kebenaran materiil, yaitu kebenaran yang sesungguhnya. Dalam hal barang bukti berupa mayat, orang hidup, bagian tubuh manusia atau sesuatu yang berasal dari tubuh manusia maka ahli yang tepat adalah dokter. Alasannya karena disamping dapat melakukan berbagai macam pemeriksaan forensik, dokter juga menguasai ilmu anatomi, fisiologi, biologi, biokimiawi, dan patologi.
Bantuan dokter dalam melayani pemeriksaan korban diantaranya untuk pembuatan visum et repertum (hasil pemeriksaan di TKP disebut dengan visum et repertum TKP), sebagai saksi ahli di sidang pengadilan, penentuan identitas jenazah yang sudah tidak utuh , penentuan telah berapa lama luka terjadi atau telah berapa lama korban meninggal, penentuan sebab dan cara kematian korban tindak kekerasan dan kematian yang tidak wajar, tentang perkosaan, pemeriksaan korban keracunan dan lain-lain. Bantuan yang diminta dapat berupa pemeriksaan di TKP atau di Rumah Sakit. Dokter tersebut dalam pemeriksaan harus berdasarkan pengetahuan yang sebaik-baiknya.

Apabila dokter bila menerima permintaan harus mencatat, antara lain :
a. Tanggal dan jam dokter menerima permintaan bantuan
b. Cara permintaan bantuan ( telpon atau lisan)
c. Nama penyidik yang minta bantuan
d. Jam saat dokter tiba di TKP
e. Alamat TKP dan macam tempatnya (misal : gudang, rumah dan sebagainya)
f. Hasil pemeriksaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan setibanya di TKP :
a. Tanggal dan waktu kedatangan.
b. Nama orang di TKP pada saat kedatangan.
c. Kondisi cuaca.
d. Kondisi pencahayaan pada malam hari
e. Apa yang terjadi – insiden.
f. Apa yang telah terjadi – aktivitas sejak insiden.
g. Petugas yang bertanggung jawab atas kasus.
h. Penjagaan keamanan TKP.
i. Bantuan yang diberikan di lokasi dan sumber daya lain yang sudah diminta.

Saat melakukan pemeriksaan di TKP dokter harus membuat catatan yang adekuat yang meliputi :
• Tanggal, waktu, alamat atau lokasi
• Nama dan jenis kelamin jenazah
• Daftar semua orang yang ada di TKP
• Pengamatan umum tentang TKP; bukti perlawanan, seperti perabotan yang terjungkirbalik, hiasan dinding yang berantakan, pecahan kaca jendela atau pintu yang rusak, benda-benda yang tergeser atau tanah yang terinjak-injak. Jika di luar bangunan, catat keadaan cuaca, kondisi tanah dan tumbuhan yang ada.
• Temperatur lingkungan sekitar, dan temperatur rektal jenazah harus diukur.

• Membuat sketsa yang meliputi poin-poin penting seperti arah dan posisi darah (genangan atau percikan) pada tubuh atau pada TKP, posisi tubuh dan senjata apa pun. Jika senjata berada pada tangan jenazah, catat apakah tergenggam erat atau dipegang longgar. Harus dicari hubungan antara luka yang ada dan senjata yang mungkin mengakibatkannya atau benda-benda lain yang mungkin menyebabkan luka-luka tersebut. Catat jumlah perdarahan di TKP. Hal ini membuat evaluasi luka lebih akurat dan dapat memberikan informasi seperti lama korban hidup setelah korban terluka. Deskripsikan pakaian dan catat robekan pakaian, potongan, kancing yang hilang, dan lain-lain. Jangan letakkan benda-benda melalui defek pada pakaian atau luka. Periksa tangan dan lengan bawah akan adanya luka tangkisan. Buat catatan jejas dan catat dalam diagram tubuh.
• Posisi dan timbulnya kaku mayat, lebam mayat, dan lain-lain, yang membantu memperkirakan waktu kematian.
• Rambut yang terlepas, serat atau benda asing yang nampaknya tercabut ketika tubuh dipindahkan, harus dicari dan diambil dengan selotip.
• Jika terdapat bekas gigitan, harus diswab dengan sebuah swab kapas yang dibasahi dengan NaCl. Pengambilan swab saliva harus mengenakan sarung tangan untuk mencegah kontaminasi swab dengan keringat.
• Rambut pubis harus disisir in situ dalam kasus perkosaan, dan rambut yang lepas dikumpulkan.
• Pada kasus perkosaan dan dugaan aborsi, sebuah absorben harus diletakkan pada vulva untuk mengumpulkan cairan apa pun yang keluar selama pemindahan tubuh.
• Objek-objek di TKP, misalnya tanggal pada surat atau surat kabar, kondisi makanan di meja, dan lain-lain untuk menentukan waktu kematian.
• Foto semua jeratan sebelum dilepaskan, potong jika diperlukan dengan mempertahankan simpul tetap utuh
• Jika ditemukan senjata, tangani dengan hati-hati untuk mengamankan sidik jari, noda darah, rambut, serat, dan lain-lain.
• Tinggalkan senjata api pada kondisi ditemukannya. Catat posisi masing-masing peluru dan selongsong.
• Peluru dan lain-lain harus ditandai untuk identifikasi.

 

Navigation