Artikel Kesehatan


04-10-2017 | Hit : 11

BANTUAN HIDUP DASAR Untuk Masyarakat Awam

Widya Istanto SpAn, KAKV, KAR

KSM Anestesiologi dan Terapi Intensif  RSUP Dr. Kariadi, Semarang

Latar Belakang

Tahukah anda, 30% Kematian Dunia Disebabkan oleh Penyakit Jantung? Menurut WHO, 17,5 juta (30%) dari 58 juta kematian di dunia, disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah pada tahun 2005. Dari seluruh angka tersebut, penyebab kematian antara lain disebabkan oleh serangan jantung (7,6 juta penduduk), stroke (5,7 juta penduduk), dan selebihnya disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah (4,2 juta penduduk).

Berdasarkan seluruh data yang telah dikumpulkan dari WHO, pada tahun 2015 diperkirakan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat menjadi 20 juta jiwa. Kemudian akan tetap meningkat sampai tahun 2030, diperkirakan 23,6 juta penduduk akan meninggal akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Angka yang cukup besar mengingat penyakit jantung dan pembuluh darah dikategorikan sebagai penyakit tidak menular. Salah satu kasus kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa jika tidak menadapatkan penanganan yang baik dari petugas kesehatan adalah cardiac arrest atau henti jantung.

Apa itu henti jantung?

Henti jantung adalah hilangnya fungsi jantung untuk memompa darah yang terjadi secara mendadak.  Hal ini menyebabkan kurangnya oksigen yang dapat disalurkan ke seluruh tubuh terutama otak dan jantung itu sendiri. Bila kurang oksigen ke otak, maka sel-sel otak akan mati dan hilangnya kesadaran dan fungsi otak lainnya. Pada jantung, sel-sel jantung akan kekurangan oksigen, dan akan mati. Sel-sel  yang telah mati tidak dapat dihidupkan kembali. Bila tidak cepat di tangani, maka dapat berujung pada kematian.

 Penyebab dari henti jantung

  • Gangguan irama jantung
  • Penyakit jantung koroner
  • Abnormalitas lainnya pada jantung

Penyebab lainnya dapat berupa:

  • gangguan metabolik/elektrolit seperti kekurangan kalium dapat menyebabkan gangguan irama jantung
  • pemakaian obat-obatan,
  • keracunan obat,
  • trauma atau kecelakaan

Tanda-tanda waspada:

Tanda-tanda gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan henti jantung dapat dirasakan seperti pusing, atau rasa seperti mau pingsan, nyeri dada, sesak nafas, kehilangan keseimbangan tubuh. Dapat juga langsung terjatuh dan kehilangan kesadaran.

Data dan Fakta

Kasus henti jantung sebagian besar terjadi di luar rumah sakit sehingga membutuhkan bantuan yang cepat dan tepat dalam menanganinya agar tidak terjadi kematian. Berdasarkan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang melakukan survey terhadap kejadian henti jantung di Amerika Serikat selama periode 1 Oktober 2005–31 December  2010 didapatkan sekitar 31,689 kasus henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit.

Dari kejadian tersebut, sejumlah 33, 3% dari kasus cardiac arrest yang memperoleh bantuan CPR dari penolong (bystander) dan hanya 3,7% yang mendapatkan bantuan automated external defibrillator (AED) sebelum personel Rumah Sakit terdekat datang. Tingkat kelangsungan hidup pasien dengan kejadian cardiac arrest di luar rumah sakit yang berhasil masuk rumah sakit (MRS) sebesar 26, 3%. Dari keseluruhan jumlah pasien henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit, kelompok yang paling mungkin untuk bertahan hidup adalah orang-orang yang dijumpai mengalami serangan henti jantung oleh penolong dan segera dilakukan pertolongan.

Ada sekitar 360.000 korban Out-of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) di Amerika Serikat setiap tahunnya, di mana OHCA merupakan 15% dari penyebab seluruh kematian (Sasson, 2011).

Untuk jumlah prevalensi penderita henti jantung di Indonesia tiap tahunnya belum didapatkan data yang jelas, namun diperkirakan sekitar 10 ribu warga, yang berarti 30 orang per hari. Kejadian terbanyak dialami oleh penderita jantung koroner (Depkes, 2006). Menurut data di ruang perawatan koroner intensif RSCM (2006), menunjukkan, terdapat 6,7 % pasien mengalami atrial fibrilasi, yang merupakan kelainan irama jantung yang bisa menyebabkan henti jantung.

Dari korban OHCA didapatkan variasi keselamatan yang berbeda, hal ini sebagian disebabkan oleh tingkat yang berbeda dari penolong yang mengerti CPR, yang merupakan link penting dalam meningkatkan kelangsungan hidup bagi korban OHCA. Untuk setiap 30 orang yang menerima CPR dari masyarakat bystander (penolong), kemungkinan tambahan kehidupan dapat bertambah. Saat ini, setelah lima dekade kemajuan medis, penolong yang mengerti CPR menjadi komponen yang paling penting dalam menyelamatkan korban henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit  atau out-of-hospital cardiac arrest (OHCA).

   Komunitas yang mengalami peningkatan laju bystander (penolong) CPR telah mengalami perbaikan dalam kelangsungan hidup OHCA. Namun, sebagian besar pasien yang mengalami Out-of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) tidak mendapatkan pertolongan CPR atau intervensi lain yang tepat (misalnya, defibrilasi) untuk meningkatkan kelangsungan hidupnya.

Hampir setengah kejadian cardiac arrest di Amerika Serikat yang disaksikan sehingga upaya untuk meningkatkan kelangsungan hidup dari pasien berfokus pada pemberian penanganan oleh bystander (penolong)  dan personel EMS secara tepat dan efektif. Namun penyediaan bystander (penolong)  CPR bervariasi di setiap daerah, dengan kisaran antara 10% sampai 65% di Amerika Serikat. Dan dari jumlah tersebut,  rata-rata hanya sekitar seperempat dari semua peristiwa OHCA di Amerika yang ditolong dengan bystander (penolong) CPR.

Secara internasional, jumlah penolong (bystander) CPR juga bervariasi, dengan tingkat terendah 1% dan tertinggi sekitar 44% (Wissenberg, 2012). Oleh karena itu, penting untuk memahami mengapa masyarakat tertentu memiliki tingkat yang rendah untuk jumlah bystander CPR dan memberikan rekomendasi untuk bagaimana meningkatkan penyediaan bystander CPR dalam masyarakat.

 

Manfaat dan Harapan

Di Indonesia penyebaran informasi mengenai pemberian CPR sebagai salah satu penanganan pasien henti jantung juga masih belum maksimal. Padahal kasus henti jantung dapat terjadi di mana pun dan kapanpun di sekitar kita. Oleh karena itulah kampanye pendidikan publik mengenai penatalaksanaan CPR terhadap pasien henti jantung harus mulai digalakkan di masyarakat. Selain itu, tidak hanya penyebaran informasi saja tetapi juga perlu ditunjang dengan peningkatan ketrampilan CPR kepada masyarakat untuk dapat melakukan CPR yang efektif.

Sasaran masyarakat untuk pendidikan publik dan ketrampilan CPR dapat ditujukan untuk masyarakat di tempat-tempat umum (bandara, stasiun, terminal, pasar), anak sekolah maupun di tempat kerja. Harapannya, dengan penyebarluasan pendidikan publik dan peningkatan ketrampilan masyarakat tentang CPR bisa meningkatkan jumlah bystander CPR di kalangan masyarakat,.

Sehingga ketika menjumpai pasien dengan henti jantung, masyarakat dapat segera siap siaga untuk mengenali tanda dan gejala pasien dan segera memberikan penanganan CPR sambil menunggu pertolongan dari rumah sakit datang. Dengan begitu dapat berpengaruh pada peningkatan angka keselamatan dari pasien henti jantung yang terjadi di luar rumah sakit (OHCA). Pemberian bantuan dasar berupa CPR yang dilakukan oleh bystander (penolong)  saat menemui adanya serangan henti jantung sangat membantu kemungkinan bertahan hidup korban 2 – 3 kali lipat.

Teori Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR)

Prinsip utama dalam resusitasi adalah memperkuat rantai kelangsungan hidup (chain of survival). Keberhasilan resusitasi membutuhkan integrasi koordinasi rantai kelangsungan hidup. Urutan rantai kelangsungan hidup pada pasien dengan henti jantung (cardiac arrest) dapat berubah tergantung lokasi kejadian: apakah cardiac arrest terjadi di dalam lingkungan rumah sakit (HCA) atau di luar lingkungan rumah sakit (OHCA). Gambar 1 menunjukkan “chain of survival” pada kondisi HCA maupun OHCA

Gambar 1. Rantai Kelangsungan Hidup HCA dam OHCA

Dalam melakukan resusitasi jantung-paru, AHA (American Heart Association) merumuskan panduan BLS-CPR yang saat ini digunakan secara global. Gambar 2 menunjukkan skema algoritma dalam tindakan resusitasi jantung-paru pada pasien dewasa.

Gambar 2. Algoritma Resusitasi Jantung Paru Pada Korban Dewasa

Dalam melakukan resusitasi jantung paru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

 

  1. Pengenalan dan pengaktifan cepat sistem tanggapan darurat

Jika melihat seorang yang tiba-tiba jatuh atau tidak responsive maka petugas kesehatan harus mengamankan tempat kejadian dan memeriksa respon korban. Tepukan pada pundak dan teriakkan nama korban sembari melihat apakah korban tidak bernafas atau terengah-engah. Lihat apakah korban merespon dengan jawaban, erangan atau gerakan. Penolong harus memanggil bantuan terdekat setelah korban tidak menunjukkan reaksi. Akan lebih baik bila penolong juga memeriksa pernapasan dan denyut nadi korban seiring pemeriksaan respon korban  agar tidak menunda waktu dilakukannya RJP..

 

  1. Resusitasi Jantung Paru dini

Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kompresi (sekitar 18 detik). Kriteria penting untuk mendapatkan kompresi yang berkualitas adalah:

  • Kompresi dada diberikan dengan kecepatan minimal 100 kali per menit dan maksimal 120 kali per menit. Pada kecepatan lebih dari 120 kali / menit, kedalaman kompresi akan berkurang seiring semakin cepatnya interval kompresi dada.
  • Kompresi dada dilakukan dengan kedalaman minimal 2 inci (5 cm) dan kedalaman maksimal 2,4 inci (6 cm). Pembatasan kedalaman kompresi maksimal diperuntukkan mengurangi potensi cedera akibat kedalaman kompresi yang berlebihan. Pada pasien bayi minimal sepertiga dari diameter anterior-posterior dada atau sekitar 1 ½ inchi (4 cm) dan untuk anak sekitar 2 inchi (5 cm). Pada pasien anak dalam masa pubertas (remaja), kedalam kompresi dilakukan seperti pada pasien dewasa.
  • Lokasi kompresi berada pada tengah dada korban (setengah bawah sternum). Petugas berlutut jika korban terbaring di bawah, atau berdiri disamping korban jika korban berada di tempat tidur. Tabel 1 mencantumkan beberapa hal yang perlu diperhatikan selama melakukan kompresi dada dan pemberian ventilasi

Tabel 1. Anjuran dan Larangan BLS untuk CPR Berkualitas Tinggi pada Korban Dewasa

  • Menunggu recoil dada yang sempurna dalam sela kompresi. Selama melakukan siklus kompresi dada, penolong harus membolehkan rekoil dada penuh dinding dada setelah setiap kompresi; dan untuk melakukan hal tersebut penolong tidak boleh bertumpu di atas dada pasien setelah setiap kompresi.
  • Meminimalisir interupsi dalam sela kompresi. Penolong harus berupaya meminimalkan frekuensi dan durasi gangguan dalam kompresi untuk mengoptimalkan jumlah kompresi yang dilakukan per menit.
  • Korban dengan tidak ada/tidak dicurigai cedera tulang belakang maka bebaskan jalan nafas melalui head tilt – chin lift. Namun jika korban dicurigai cedera tulang belakang maka bebaskan jalan nafas melalui jaw thrust.

Gambar 3. Head tilt dan chin lift

  • Menghindari ventilasi berlebihan. Berikan ventilasi sebanyak 2 kali. Pemberian ventilasi dengan jarak 1 detik diantara ventilasi. Perhatikan kenaikan dada korban untuk memastikan volume tidal yang masuk adekuat.
  • Setelah terpasang saluran napas lanjutan (misalnya pipa endotrakeal, Combitube, atau saluran udar masker laring), penolong perlu memberikan 1 napas buatan setiap 6 detik (10 napas buatan per menit) untuk pasien dewasa, anak-anak, dan bayi sambil tetap melakukan kompresi dada berkelanjutan
  • Jika ada 2 orang maka sebaiknya pemberi kompresi dada bergantian setiap 2 menit.

 

Jika korban  mempunyai denyut nadi namun membutuhkan pernapasan bantuan, ventilasi dilakukan dengan kecepatan 5-6 detik/nafas atau sekitar 10-12 nafas/menit dan memeriksa denyut nadi kembali setiap 2 menit. Untuk satu siklus perbandingan kompresi dan ventilasi adalah 30 : 2.

RJP terus dilakukan hingga alat defibrilasi otomatis datang, pasien bangun, atau petugas ahli datang. Bila harus terjadi interupsi, petugas kesehatan sebaiknya tidak memakan lebih dari 10 detik, kecuali untuk pemasangan alat defirbilasi otomatis atau pemasangan alat bantu nafas.

 

  1. Alat defibrilasi otomatis

Gambar 4. Alat defibrilasi otomatis (AED)
AED digunakan sesegera mungkin setelah AED tersedia. Bila AED belum tiba, lakukan kompresi dada dan ventilasi dengan rasio 30 : 2. Defibrilasi / shock diberikan bila ada indikasi / instruksi setelah pemasangan AED. Pergunakan program/panduan yang telah ada, kenali apakah ritme tersebut dapat diterapi shock atau tidak, jika iya lakukan terapi shock sebanyak 1 kali dan lanjutkan RJP selama 2 menit dan periksa ritme kembali. Namun jika ritme tidak dapat diterapi shock lanjutkan RJP selama 2 menit dan periksa kembali ritme. Lakukan terus langkah tersebut hingga petugas Medis datang, atau korban mulai bergerak.

  1. Perbandingan Komponen RJP Dewasa, Anak-anak, dan Bayi

Pada korban anak dan bayi, pada prinsipnya RJP dilakukan sama seperti pada korban dewasa dengan beberapa perbedaan. Beberapa perbedaan ini seperti yang tercantum pada tabel 2.

Gambar 5. Rantai kelangsungan hidup anak

 

Pada korban pediatri, algoritma RJP bergantung apakah ada satu orang penolong atau dua (atau lebih) orang penolong (gambar 3 dan 4). Bila ada satu orang penolong, rasio kompresi dada dan ventilasi seperti korban dewasa yaitu 30 : 2; tetapi bila ada dua orang penolong maka rasio kompresi dada dan ventilasi menjadi 15 : 2. Jika anak/bayi mempunyai denyut nadi namun membutuhkan pernapasan bantuan, ventilasi dilakukan dengan kecepatan 3-5 detik/nafas atau sekitar 12-20 nafas/menit dan memeriksa denyut nadi kembali setiap 2 menit. Untuk satu siklus perbandingan kompresi dan ventilasi adalah 30 : 2 untuk satu orang penolong dan 15 : 2 untuk dua orang atau lebih penolong.

Tabel 2. Perbedaan Komponen RJP Pada Dewasa, Anak, dan Bayi

Gambar 6. Algoritma Resusitasi Jantung Paru Pada Korban Pediatri Dengan Satu Orang Penolong

Gambar 7. Algoritma Resusitasi Jantung Paru Pada Korban Pediatri Dengan Dua Orang Bystander (penolong)

Kesimpulan

            Henti jantung saat ini masih tetap menjadi salah satu kasus kegawatdaruratan yang mengancam nyawa bila tidak segera diberikan pertolongan. Sebagian besar kasus henti jantung terjadi di luar rumah sakit dan dapat disaksikan oleh orang lain. Pemberian bantuan dasar berupa CPR yang dilakukan oleh bystander (penolong) saat menemui adanya serangan henti jantung sangat membantu kemungkinan bertahan hidup korban 2 – 3 kali lipat. Oleh karena itulah sangat dibutuhkan sekali peningkatan jumlah dan kesiapsiagaan bystander CPR untuk memberikan pertolongan pada korban OHCA.

 

 

Daftar Pustaka

 

  1. Fokus Utama Pembaruan Pedoman American Heart Association 2015 Untuk CPR dan ECC. American Heart Association; 2015.
  2. American Red Cross. Basic Life Support for Healthcare Providers. 2015.
  3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Laporan Riset Kesehatan Dasar – RISKESDAS, 2007.
  4. , Fahrenbruch., Meischke, H., Allen, J., Bloomingdale., & Rea. (2011). Bystander CPR in out-of-hospital cardiac arrest: the role of limited English proficiency. Resuscitation. 82:680–684.
  5. , et al. (2011). Out-of-hospital cardiac arrest surveillance — cardiac arrest registry to enhance survival (CARES), united states. Morbidity and Mortality Weekly Report Surveillance Summaries / Vol. 60 / No. 8.
  6. Wissenberg, M. (2012). An increase in bystander CPR in Denmark led to marked improvements in survival rates after cardiac arrest. Paper presented at: 61st Annual Scientific Session of the American College of Cardiology; March 28, 2012; Chicago, IL.
  7. Sasson, Comilla et al. (2013). Increasing cardiopulmonary resuscitation provision in communities with low bystander cardiopulmonary resuscitation rates. Circulation.127:1-9. DOI: 10.1161/CIR.0b013e318288b4dd.

 

 

Navigation