Berita Terbaru


18-07-2018 | Hit : 39

BANYAK KORBAN KDRT, TERLAMBAT MELAPOR

Oleh dr. Gatot Suharto, Sp. F, dokter spesialis Forensik dari RSUP dr. Kariadi

 

Semarang, (16/07) Sahabat Sehat, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) banyak dijumpai telat melaporkan kejadian yang dialaminya, sehingga dalam pemeriksaan medis tidak semua hasilnya berupa visum. Untuk luka ringan yang diderita, apabila lkanya sudah sembuh, dokter forensik memberikan keterangan medis berdasar pengakuan orang yang melapor.

Korban tidak segera melapor pada korban KDRT diperkirakan karena adanya rasa malu yang ditanggung apabila lansung melapor. Sehingga, diperlukan kesiapan mental untuk melaporkan.

RSUP Dr. Kariadi menjadi salah satu rumah sakit di tingkat provinsi yang keterangan medis dan visumnya digunakan kepolisian dalam kasus KDRT. Tetapi banyak dijumpai juga bahwa diketahuinya kasus KDRT pada pasien setelah dua sampai tiga kali memeriksakan lukanya. Pasien tersebut kemudian menceritakan kekerasan yang dialaminya.

Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya fisik, tetapi juga psikis dan seksual. Tetapi paling banyak fisik dengan persentase sebanyak 80 persen dialami oleh perempuan. Dari pemeriksaan ini hasilnya dikategorikan luka ringan, sedang, dan berat sesuai dengan keperluan penyidikan jika kekerasan ini dilaporkan ke aparat penegak hukum. Faktor paling mendominasi KDRT dilatari persoalan ekonomi dan status sosial pasangan. Sahabat sehat, diperlukan pengawasan dari lingkungan mengenai KDRT ini. Siapapun yang mengetahui KDRT wajib lapor ke penegek hukum. Karena untuk kepentingan perlindungan korban.

Selain mengamati lingkungan, pengurus warga di tingkat paling dekat, yakni pihak RT dan RW juga memonitor KDRT di dala pemukimannya. Korban tidak hanya pada istri atau suami, tetapi juga anak.

 

Navigation