Artikel Kesehatan


14-05-2019 | Hit : 15

Cervikal Stenosis/ Penjepitan Sumsum Saraf Leher

Ajid Risdianto

Dokter Bedah Saraf, Konsultan Spine Neurosurgery RSUP Kariadi

 

Ringkasan

Cervikal stenosis adalah penyempitan saluran saraf pusat di tulang belakang setinggi leher.

Penyempitan saluran saraf akan menyebabkan penjepitan sumsum saraf tulang belakang sehingga menyebabkan fungsinya terganggu.

Cervikal stenosis sebagian besar terjadi karena proses penuaan.

Gejala

Cervikal stenosis menyebabkan penekanan pada sumsum saraf tulang belakang setinggi leher, sehingga akan menyebabkan keluhan :

Nyeri menjalar, nyeri menjalar dirasakan dari leher sampai bahu pada kedua sisi kanan dan kiri, nyeri menjalar bisa saja mencapai ujung jari kedua tangan.

Kesemutan, penderitanya sering mengalami kesemutan yang menjalar dari leher sampai bahu, bahkan sampai ke ujung jari tangan.

Kelemahan, kelemahan pada tangan dan kaki dapat muncul jika terjadi penekanan hebat pada sumsum saraf leher. Kelemahan terjadi perlahan, sehingga seringkali kelemahan tidak dirasakan oleh penderitanya.

Gangguan keseimbangan, Penekanan hebat pada sumsum saraf bagian leher dapat menyebabkan gangguan keseimbangan. Penderitanya merasa jalan terhuyung, atau jalan melayang.

Gangguan kencing dan BAB, Walaupun jarang terjadi, gangguan kencing dan BAB muncul jika saraf pengontrol kencing dan BAB tertekan.

Tidak semua gejala tersebut muncul pada penderita cervical stenosis. Dapat saja penderita memiliki cervikal stenosis tanpa ada gejala yang dirasakan oleh penderitanya.

MRI yang menunjukkan Cervikal stenosis setinggi C5-6
MRI yang menunjukkan Cervikal stenosis setinggi C5-6

 

Penyebab

 

Cervikal stenosis sebagian besar terjadi akibat proses penuaan jaringan tulang belakang. Berbagai penyebab cervikal stenosis diantaranya :

  • Pengapuran tulang.Peradangan tulang dapat menyebabkan proses pengapuran pada tulang, selain itu dapat saja muncul akibat proses penuaan.  Pengapuran tulang akan menyebabkan penyempitan saluran saraf tulang belakang dan menekan sumsum saraf.
  • Terjadi karena bantalan tulang yang sudah berkurang kemampuannya. Fungsi untuk membagi beban terganggu sehingga terjadi penonjolan bantalan tulang yang menenkan sumsum saraf.
  • Penebalan ligamen.Ligamen ini melekat pada tulang belakang, berfungsi untuk memperkuat struktur tulang belakang. Seiring waktu, tulang terjadi penebalan ligamen dan menyebabkan penekanan sumsum sarat tulang belakang.

 

 

Faktor resiko

Faktor resiko cervikal stenosis meliputi :

  • Seiring bertambah usia, terjadi proses penuaan dan penurunan fungsi tulang belakang.
  • Merokok dikaitkan dengan kejadian peningkatan cervikal stenosis.
  • Penderita yang sering mengangkat beban di kepala lebih beresiko untuk mengalami cervikal stenosis.
  • Faktor keturunan.Faktor keturunan juga berpengaruh terhadap terjadinya cervikal stenosis.

 

 

Diagnosis

Diagnosis cervikal stenosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis, foto MRI dan EMG jika diperlukan. Kekuatan dan kelemahan otot dapat dinilai dari pemeriksaan klinis.

Untuk melihat struktur tulang belakang, foto MRI perlu dilakukan. MRI digunakan untuk menilai kondisi saraf tulang belakang. Jika terdapat penekanan saraf tulang belakang, penekanan tersebut dapat terlihat.

Gambaran klinis dan foto MRI dapat memperkiranan apakah keluhan yang dirasakan oleh penderitanya sesuai dengan temuan kelainan di MRI. Jika diperlukan, pemeriksaan EMG dilakukan untuk memastikan diagnosis.

 

Tatalaksana

Tata laksana Cervikal stenosis dilakukan sesuai dengan kondisi klinis penderitaan. Jika keluhan ringan dilakukan pemberian obat-obatan dan fisioterapi untuk penguatan otot. Pilihan operasi dilakukan jika nyeri masih menetap, atau jika tangan dan kaki mengalami kelemahan. Prosedur operasi yang dilakukan merupakan prosedur yang aman dan disesuaikan dengan kondisi penderitanya,

Operasi Minimal Invasif

Operasi minimal invasif dapat dilakukan pada tipe tertentu cervikal stenosis. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan endoskopi atau mikroskop tergantung kondisi cervikal stenosis yang dialami. Teknik ini dipilih karena jaringan yang dibuka lebih sedikit, sehingga perdarahan lebih sedikit, dan diharapkan waktu pemulihan lebih cepat.  

Pemulihan

Pasca tindakan penderita akan diberi obat untuk mengurangi nyeri, fisioterapi untuk memulihkan otot yang mengalami kelemahan, serta pemberian vitamin untuk membantu pemulihan saraf yang tertekan.

 

Navigation