Artikel Kesehatan


14-06-2012 | Hit : 1475

Dokter Dodik Tugasworo Sp.S dari Bagian Neurologi RSUP Kariadi mengatakan, stroke termasuk penyakit yang salah satu penyebabnya karena pola hidup tersebut. Semakin modern, manusia ibaratnya tinggal memencet tombol untuk mendapatkan sesuatu.
 

"Mau naik ke lantai yang lebih tinggi ada lift. Mau pergi kemanapun ada kendaraan yang siap mengantar. Kadang kita juga tidak perlu bertatap muka secara langsung karena sudah ada telpon genggam. Ini membuat orang malas bergerak," ujar Dr Dodik.

 

Hal itu masih ditambah dengan asupan makanan yang cenderung tinggi kolesterol serta makanan-makanan dalam kaleng yang banyak mengandung pengawet. Sementara salah satu bahan utama pengawet  biasanya adalah garam yang jika dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan darah tinggi atau hipertensi.

 

Hipertensi merupakan salah satu pemicu stroke yaitu tersumbat atau pecahnya pembuluh darah di otak karena gaya hidup manusia (bisa diobati). Pemicu lain cukup banyak seperti diabetes melitus, obesitas, kebiasaan tidur mendengkur, sleep apnoea (gangguan tidur karena kesulitan bernafas) dan stres tingkat tinggi.

 

Selain itu ada pula pemicu stroke yang tidak bisa diobati yaitu usia, jenis kelamin (laki-laki lebih banyak terkena stroke dibanding wanita kecuali di Jepang dan Korea), ras (kulit hitam lebih rentan stroke), dan keturunan.

 

"Memang ada dua pemicu atau penyebab stroke. Namun kasus yang saat ini lebih sering terjadi adalah karena gaya hidup, sehingga sebenarnya bisa dicegah," imbuh Dr Dodik.

 

Pencegahan tersebut oleh Dr Dodik diistilahkan dengan 3O dan 1D. Tiga O meliputi Olahraga, Olah Seni dan Olah Jiwa. Olahraga tidak perlu terlalu keras. Cukup setengah jam tapi rutin minimal tiga kali seminggu. Olah Seni adalah kondisi dimana orang menyalurkan bakat seninya seperti menyanyi (karaoke), berkebun atau memelihara hewan kesukaan. Ini akan membuat pikiran lebih jernih. Sedangkan dengan Olah Jiwa, manusia dituntut sabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti. Menata hati dan pikiran karena terkadang semua masalah tidak bisa diselesaikan atau diatasi sekaligus.

 

Sementara itu D adalah singkatan dari diet. Ini hanya bisa dilakukan setelah seseorang mengetahui faktor resiko masing-masing yang mendekatkan mereka pada serangan stroke. Sebagai misal jika faktor resiko tersebut karena hipertensi, maka orang tersebut harus mengurangi asupan garam, diabetes dengan menjaga konsumsi gula dan lain sebagainya.

 

RSUP Kariadi sendiri saat ini menyediakan tes TCD (transcranial dopler) yang bertujuan untuk mengetahui faktor resiko penyebab stroke masing-masing individu.

 

Yang tak kalah penting menurut Dr Dodik adalah penanganan yang diperlukan setelah seseorang mengalami serangan stroke. Dibutuhkan kesiapan dari keluarga pasien karena penyakit ini akan membawa perubahan yang tidak bisa dihindari akibat rusaknya pembuluh darah di otak. "Karena sudah ada  pembuluh otak yang rusak, perilaku orang yang sudah terkena stroke juga  bisa berubah," jelas Dr Dodik.

 

Sebagai misal menurutnya adalah perubahan prilaku atau kepribadian seperti menjadi lebih pendiam atau sebaliknya, cenderung pemarah, dan depresi. Beberapa pasien juga mengalami perubahan pola hidup seperti tetap terjaga di malam hari dan baru bisa tidur di siang hari.

 

Karenanya, keluarga mesti mempunyai persiapan psikologis untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut. Yang tak kalah penting adalah persiapan dana baik untuk pengobatan maupun untuk keperluan lain. Sebagai misal renovasi rumah agar lebih ramah terhadap perubahan yang terjadi pasca serangan stroke. [muslimah]

 

sumber: Warta Jateng 

Navigation