Artikel Kesehatan


05-02-2013 | Hit : 10151

Banjir dimana-mana menyisakan berbagai permasalahan, mulai dari masalah pengungsi sampai ke penyakit yang mudah ditularkan dengan banjir, diantaranya penyakit Leptospirosis. 
 
Leptospirosis tergolong penyakit demam akut dengan manifestasi klinis yang bermacam-macam. Disebabkan oleh kuman Leptospira.  Manifestasi klinis bisa ringan yang hanya demam biasa mirip influensa sehingga bisa sembuh spontan, atau berat yang menimbulkan kegawatan, bila terdapat penyulit gagal ginjal, ikterus (kuning) karena terganggunya hati, gagal jantung, dan perdarahan di saluran cerna maupun paru dan otak yang menyebabkan kematian.
 
Leptospirosis dapat menyerang semua usia maupun jenis kelamin (laki dan perempuan sama). Dapat berjangkit pada berbagai musim, namun lebih banyak di musim penghujan, apalagi kalau ada banjir. Karena penyakit ini bisa ditularkan melalui air kencing tikus dan anjing, sehingga air menjadi sarana penularan, seperti genangan air di daerah banjir, air selokan, atau air sungai. 
 
Penyakit ini sering menyerang pekerja yang bersentuhan dengan air, seperti petani, petugas pembersih selokan, pekerja tambang, pekerja bangunan yang bekerja di daerah basah dan lembab yang ada binatang mengeratnya. 
 
Di Semarang, Yogyakarta dan Jakarta, akhir-akhir ini terjadi peningkatan jumlah kasus Leptospirosis berat yang harus dirawat di rumah sakit. 
 
 
Cara Penularan:
Cara penularan Leptospirosis terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan air, tanah, tanaman yang terpapar urin binatang mengerat (terutama tikus) dan anjing yang mengandung kuman Leptospira. Leptospira kemudian masuk ke dalam tubuh kita melalui kulit yang terluka atau lapisan mukosa mulut, saluran cerna, saluran hidung dan selaput mata. Selanjutnya kuman Leptospira mengikuti aliran darah menuju seluruh tubuh dan menyerang organ-organ penting seperti: hati, jantung, ginjal, paru dan otak. 
 
 
Manifestasi Klinis:
Manifestasi klinis Leptospirosis bervariasi, mulai dari sakit dengan gejala demam ringan (Leptospirosis ringan) hingga ke bentuk iktero-hemoragik pada Leptospirosis Berat (seluruh tubuh berwarna kuning seperti sakit Hepatitis, dan timbul manifestasi perdarahan misalnya: mimisan, batuk darah, muntah darah, berak darah, perdarahan di otak). 
 
Leptospirosis ringan (90% kasus Leptospirosis) ditandai dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri perut, mual dan muntah. Sedangkan Leptospirosis Berat (10% kasus Leptospirosis) disamping terdapat gejala ikterus (berwarna kuning) juga didapatkan kelainan ginjal, perdarahan di paru, dan kadang miokarditis (gangguan di jantung) yang bisa memudahkan mati mendadak. Tidak jarang perdarahan di otak (seperti stroke). 
 
Mengapa ada pasien yang mengalami Leptospirosis ringan dan ada yang berat? Hal ini tergantung dari virulensi (keganasan) kuman Leptospira dan status kekebalan tubuh pasien yang diserang kuman tersebut. 
 
Masa inkubasinya 2-12 hari, rata-rata 7 hari. Onset penyakit bersifat mendadak, disertai demam tinggi dan menggigil (mirip sakit malaria). Sepertiga pasien mengalami gejala awal berupa kelemahan umum (nglungkrah), dan sakit kepala.
 
Semua pasien Leptospirosis berat menunjukkan gejala demam yang tinggi (lebih dari 39 C) pada dua hari pertama, dan bisa berlangsung sampai 8 hari. Selanjutnya muncul gejala kuning (ikterus) di mata, kulit, dan air kencing yang berwarna kuning tua seperti air teh, sehingga sering diduga sebagai Hepatitis akut.
 
Komplikasi:
Saat ini Leptospirosis sering dikaitkan dengan kelainan perdarahan. Sebagian besar pasien dengan Leptospirosis Berat mengalami perdarahan (hampir 70%). Perdarahan ini bisa dalam bentuk perdarahan di bawah kulit (bintik-bintik kemerahan), perdarahan pada gusi dan langit-langit mulut, mimisan, hingga perdarahan saluran cerna (muntah darah, berak darah), perdarahan paru (batuk darah) dan perdarahan otak (mirip Stroke: sakit kepala, sulit tidur, gangguan kesadaran, dan kekakuan leher). 
 
Sedangkan gejala pada saluran cerna yang dikeluhkan pasien antara lain: nafsu makan menurun, susah buang air besar, mual, muntah, nyeri perut, kembung dan ceguken.
 
Diagnosis:
Jika kita mencurigai adanya penyakit Leptospirosis (demam mendadak, disertai kelemahan umum, nyeri otot, di mata terdapat kemerahan di sekitar pupil mata), maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium (darah rutin biasanya terdapat leukositosis/ sel darah putih meningkat, trombositopeni: trombosit turun mirip demam berdarah dan peningkatan laju endap darah /LED). Bila memungkinkan diperiksa Leptodridot, Leptospira Rapid Tes (memeriksa antibodi/kekebalan tubuh kita terhadap kuman tersebut). 
 
Di RSUP Dr Kariadi, pemeriksaan laboratorium Leptodridot/Leptospira Rapid Tes sudah bisa dikerjakan. Bahkan, sudah ada fasilitas pemeriksaan lanjutan berupa MAT (Microscopic Aglutinase Test) untuk mengetahui jenis kuman Leptospira nya tergolong strain yang mana, kelompok ganas atau tidak. Strain yang termasuk ganas biasanya: Ikterohemoragika.
 
Penanganan:
Leptospirosis ringan cukup dengan istirahat di rumah, dengan diberikan obat penurun panas, dan antibiotik untuk kuman Leptospira (Doxicilin). Diberikan obat simtomatis sesuai dengan keluhan pasien. Bila mual diberi anti mual, muntah: antimuntah, sakit kepala: obat penghilang sakit kepala, demam diberikan antipiretik (obat turun panas). Dan pasien akan sembuh sempurna.
 
Pemberian nutrisi perlu diperhatikan karena nafsu makan biasanya menurun. Perlu pemberian nutrisi yang seimbang dengan kebutuhan kalori dan disesuaikan keadaan fungsi hati serta ginjal yang menurun. 
 
Antibiotik biasanya diberikan Penisilin Procain (disuntikkan di pantat dan terasa sakit/kemeng). Tetapi beberapa kepustakaan terbaru mulai menyarankan pemberian Ceftriaxon 1x2gr per hari selama 5-7 hari, atau sampai bebas panas. 
 
Bila ada gagal ginjal maka penangannya menyesuaikan lamanya fase oliguri (produksi urin sedikit) dan kecepatan katabolisme protein.  Makin lama fase oliguri berlangsung makin memerlukan hemodialisis (cuci darah). 
Leptospirosis berat yang sudah menyerang organ tubuh penting seperti: hati, ginjal, paru dan otak, maka harus dirawat di rumah sakit. Karena angka kematiannya 15-40%. Angka kematian ini bisa diminimalkan dengan diagnosis dini dan penanganan yang cepat dan akurat. 
 
Perlu diperhatikan keadaan khusus yang memerlukan penanganan secara lebih teliti antara lain: hiperkalemi (kelebihan kalium darah), asidosis metabolik (keasaman darah yang meningkat), hipertensi, gagal jantung, kejang, dan perdarahan. 
 
Dr Muchlis AU Sofro, SpPD-KPTI, FINASIM,
Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi Semarang***

Navigation