Artikel Kesehatan


04-10-2017 | Hit : 20

Tanda-tanda orang kecanduan Facebook atau media sosial lainnya, misalnya seseorang mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman, meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag fotonya. Kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook, WhatApp atau MySpace juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan-rekan tersebut saat ini.

 

CANDU MEDIA SOSIAL

Pecandu media sosial, dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan Journal of Adolescence pada Agustus 2016, rata-rata memiliki tidur dengan kualitas dan kuantitas yang buruk. Mereka mengalami susah tidur dan bangun tepat waktu. Sebagian lain mau bangun di tengah malam hanya untuk mengecek kabar dunia mayanya. Kebiasaan ini melelahkan bagi otak, sementara otak yang bugar adalah syarat utama untuk menjadi pribadi dengan kesehatan mental yang baik. Penyebab kedua ditunjukkan oleh sejumlah penelitian yang menyebut fenomena “pengguna pasif” juga berpengaruh terhadap menurunnya kondisi mental pengguna media sosial. Mereka rajin mengobservasi kehidupan orang lain, dan akhirnya merawa memprovokasi rasa iri dan dendam. Pengguna pasif (ironis sebab mereka juga dikategorikan pecandu) juga memiliki emosi negatif yang intensif yang disebut dengan “FOMO” (Fear Of Missing Out) dan membuat seseorang merasa harga dirinya terasa rendah sekali. Penelitian lain kemudian menunjukkan bahwa perasaan untuk menunjukkan “sisi hidupku yang menyenangkan” kepada orang lain, biasanya juga sepaket dengan penderita virus narsisme, berakhir dengan “biaya psikologis” yang mahal. Cukup satu komentar negatif yang akan merusak mood si pengunggah postingan, dan pada akhirnya menjadikan ia sebagai pribadi yang agresif di dunia nyata.

Kondisi tersebut juga menuntun hamper semua pecandu medsos sebagai orang yang mudah mencerca orang lain. Dari sinilah budaya “cyberbullying” bermula. Mereka mulanya mempertanyakan nilai-nilai yang orang lain anut, lalu menyerang pada bagian-bagian yang dianggap tak ideal. Demi menghindari reaksi serupa, mereka mau untuk menyiksa diri dalam gaya hidup yang dianggap akan menghasilkan tubuh atau citra yang diinginkan.

Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri social gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya. Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face-to-face. Pertemuan secara face-to-face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain. Media social juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari orang per orang adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat. Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, seseorang dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer.

Jika pada malam hari seseorang masih sibuk mengomentari status teman, orang tersebut mengalami kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah, bahkan obesitas. Hal ini memperlihatkan suasana mengkhawatirkan kesalahan arah dari masalah ini. Situs jejaring sosial seharusnya dapat menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun kenyataan yang terjadi sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah.

Tak hanya menyerang fisik, candu media sosial mengantarkan penggunanya pada kondisi psikis yang buruk. Media sosial adalah wadah di mana orang-orang menampilkan apa yang menurutnya ideal. Dalam konsumsi media sosial dalam waktu yang berlebihan, fisik dan otak yang lelah akhirnya memunculkan kondisi psikis yang cepat emosi, cepat stres, dan mudah agresif, terutama saat melihat hal-hal “keren” yang diunggah orang-orang. Perasaan iri muncul begitu saja, karena media sosial sesungguhnya adalah medium pentas. Ketergantungan terhadap media sosial jauh lebih parah dampak fisik dan psikologisnya daripada alkohol dan narkoba (Media sosial: Ketergantungan yang 'lebih parah daripada alkohol atau narkoba, 9/5/2017).

Ketika seseorang tidak dapat mengelak dari godaan untuk mengecek e-mail, Facebook, WhatsApp, Twitter atau Instagram di jam kerja di kantor atau ketika mengemudi dan akan gelisah ketika tidak ada sinyal itu menunjukkan ybs. sudah membutuhkan intervensi terkait dengan perilaku. Laporan BBC menyebutkan beberapa tahun terakhir pemakai media sosial yang tidak bisa jauh dari perangkat ponselnya mencari pengobatan.

 

 

 

HOAX..HOAX…

Berita Hoax yang tersebar masif adalah ancaman yang nyata terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia. Berita hoax, informasi provokatif dan penyebaran kebencian di masyarakat jika dibiarkan maka masyarakat akan hidup dalam prasangka sosial, mengembangkan pikiran pikiran berulang dan akan rentan terpapar masalah kesehatan mental. Banyak yang tidak menyadari bahwa membaca berita bohong akan menimbulkan kekerasan, kebingungan, serta perasaan tidak aman. Karena itulah, bisa saja kesehatan mental akan menjadi terganggu, begitu kata Dr. Graham Davey, ahli psikologis dari Inggris. “Berita negatif secara signifikan dapat mengubah suasana hati seseorang, terutama jika di dalam berita tersebut ada penekanan pada penderitaan dan dibumbui komponen emosional dari cerita.”

Terkadang tanpa kita disadari hoax menjadi “candu” yang diinginkan sebagai hiburan bagi diri sendiri. Hoax merupakan bagian rutinitas setiap membuka medsos, membolak balik kata dan uraian agar sekiranya menjadi lebih bagus dan menarik bagi dirinya.  Bisa jadi kita semua mengunjungi Facebook setiap hari. begitu juga dengan Twitter, Instagram, WhatsApp, Snapchat, dan lain lain. Beberapa tahun ini, media sosial telah membuat orang 'kecanduan' seperti alkohol, permen dan merokok. Bahkan, lebih aneh lagi, ada beberapa gerakan orang memasukkan ke dalam daftar sebagai resolusi di tahun  baru mereka, untuk dapat  menghentikan 'kecanduan' mereka terhadap media sosial. Perasaan sulit melepaskan kecanduan ini sudah sangat melekat erat dalam pikiran dan berinteraksi perilaku yang dianggap sebagai kehidupan ini.

Beberapa contoh akibat yang ditimbulkan permasalahan yang dialami di sekitar kita sehingga bisa membawa kita menjadi pasien psikiater, terkait oleh berita tidak nyaman yang mereka baca di media social. Misalnya, Psikotik akibat medsos; sebuah catatan dari seorang pasien yang dibawa oleh keluarganya karena belakangan ini tampak kebingungan dan mulai berbicara kacau tentang situasi yang dia bayangkan akan terjadi. Kondisi ini terpicu oleh berita yang dilihat pasien berkaitan dengan demo-demo besar belakangan ini. Arus informasi yang dia dapat dari media sosial memperparah apa yang dia dapat sebelumnya dari berita di televisi. Simpang siur pendapat di media sosial ditambah berita tidak benar (hoax) yang dia baca membuat dia semakin kebingungan. Sampai suatu ketika dia mengatakan kepada keluarga suatu teori tentang penyelamatan negara di mana dia yang akan memimpin usaha penyelamatan tersebut. Dia meyakini hanya dia yang mampu melakukan hal tersebut dan sangat yakin akan usaha-usahanya. Contoh lain kasus pilpres, dimana seseorang pasien sangat mengidolakan salah satu capres dan sudah membayangkan bahwa calonnya akan memenangkan dalam pemilihan tersebut. Namun realita yang terjadi calon yang dibanggakan kalah dalam pilpres, selanjutnya apa yang terjadi pada kesehatan jiwa seorang pasien itu. Kekalahan capres idolanya mempengaruhi pada kesehatan jiwanya, seorang pasien tersebut menjadi sangat benci apabila melihat lawan capres idolanya. Ditambah dengan semakin maraknya berita hoax di media social yang memunculkan lawan capres idolanya semakin membuat mental jiwanya bergejolak menolak reality yang terjadi.

Gangguan stres pasca trauma yang muncul kembali; Dari Jakarta ke Semarang, seorang perempuan usia paruh baya ini datang dengan ketakutan yang luar biasa. Berita dari media sosial yang dia baca berkaitan dengan gejolak demo belakangan ini dan berita hoax yang dia baca tentang etnis Tionghoa membuat bayangan traumatik di masa tahun 1998 kembali teringat. Pasien mengatakan saat 1998 dia di jalan hampir mengalami dampak dari keberingasan massa. Saat itu setelah peristiwa 1998 dia menjalani perawatan psikiatrik karena masalah yang terkait dengan traumatik yang dia alami.

Ketidakstabilan situasi saat ini dan banyaknya berita-berita media social yang simpang siur dan hoax berkaitan dengan kondisi sekarang seperti menjadi pemicu buat dirinya. Di satu pihak dia tidak mau untuk membaca hal tersebut, namun di lain pihak dia merasa susah menghindari informasi tersebut yang sangat masif dan berlebihan di media sosial bahkan group WhatssApp keluarga yang dia ikuti. Gejala-gejala kecemasan yang menyerupai kepanikan timbul kembali dan sering datang.

Fenomena hoax (bohong) dalam era kebebasan berpendapat  yang bertebaran di media sosial (medsos) menjadi perbincangan serius karena semakin meresahkan masyarakat.. Medsos sudah mempengaruhi pikiran dan menjadi  keharusan  kehidupan setiap hari.  Dalam hitungan detik, hoax, menjadi viral yang dibaca dan dilihat jutaan pengguna medsos menjadi arena penyampaian opini, ujaran penuh kebencian, dan berita-berita palsu.. Penyebarluasan hoax cenderung makin liar dan melewati batas toleransi.

Konsumsi medsos yang berlebihan, fisik dan otak menjadi  lelah, kondisi psikis cepat emosi, cepat stres, dan agresif. Dampak hoax menimbulkan perasaan iri, kekerasan,   kebingungan, serta perasaan tidak aman, lebih cemas atau sedih, maka dalam berinteraksi sosial kita akan cenderung lebih reaktif, merasa terancam dan berprasangka negatif. Penyebaran hoax yang luas bertujuan tertentu, akan memberikan dampak menurunkan kesehatan mental secara keseluruhan terhadap masyarakat Indonesia. Seringnya membaca berita hoax mempengaruhi  kesehatan mental seseorang. Orang mudah mencerca orang lain, timbul budaya “cyberbullying”, semakin jelas bahwa media sosial dalam banyak aspek justru anti-sosial. Hoax menjadi  ancaman  bagi kesehatan mental yang  harus diperangi  bersama,   karena dampak yang ditimbulkan begitu masif dan sangat merugikan banyak pihak, baik secara kejiwaan, mental, reputasi, materi, hingga mengancam nyawa.

 

MENS SANA IN CORPORE SANO

Masyarakat Anti Hoax dan Turn Back Hoax, adalah sebuah gerakan masyarakat yang mempunyai pertahanan mental  kuat. Pepatah “Mens sana in Corpore sano” diartikan bahwa di dalam tubuh yang  sehat terdapat jiwa yang kuat (sehat). Jadi, menjaga kesehatan mental, sebaiknya kurangi mengonsumsi berita hoax yang tersebar dari media social. Jangan telan mentah-mentah, setiap berita cek dan ricek terlebih dahulu untuk mengetahui kebenarannya.  Memang, hal ini perlu usaha dan waktu tapi itu dilakukan agar mental tetap sehat. Media social dalam arti sesungguhnya malah menjadi media anti social, dengan menghilangkan pertemuan face to face yang dapat menguatkan jiwa bersosial.

Semua usaha ini dilakukan demi menciptakan komunitas masyarakat sehat jiwa dan bahagia. Bagaimanapun yang diperlukan adalah keseimbangan hidup dalam memanfaatkan teknologi media sosial. Jangan sampai teknologi media social memperkuda atau memperbudak semua orang, tapi sesorang  yang harus menjadikan semua teknologi beserta media social itu sebagai "kuda" (baca: alat) untuk mendukung kehidupan. semua itu dapat terwujud apabila setiap orang dituntun telah memiliki tingkat kesadaran yang tinggi bahwa keberadaan dirinya di media sosial memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim keharmonisan di dalam kehidupan, sehingga dengan kesadaran yang tinggi, diharapkan mereka dapat memiliki self control berbasis nilai-nilai etika sosial dalam beraktivitas di media sosial. Karena pada hakikatnya iklim keharmonisan di masyarakat dapat terwujud, diawali dari pribadi setiap individu.

 

 

Referensi:

  • UU No.18 tahun 2014, tentang Kesehatan Jiwa.
  • Journal of Adolescence, Agustus 2016.
  • The Huffington Post, Robert Whitley, asisten profesor di bid. Psikiatri, McGill University.
  • lembaga riset digital marketing Emarketer.
  • Kompasiana, BBC.com

Navigation