Berita Terbaru


04-01-2019 | Hit : 26

Efisensi Energi di Rumah Sakit

Oleh : Farokhi, ST.MT.

 

Energy dan Efisiensi

Ungkapan bahwa hidup merupakan sebuah arus energy yang kontinyu dewasa ini semakin terbukti kebenarannya. Betapa tidak hampir di semua sisi kehidupan memerlukan energy, baik dalam skala kecil maupun besar  dengan beragam bentuk energy yang digunakan. Salah satu pengguna energy  dengan skala besar adalah rumah sakit, dimana RSUP Dr.Kariadi Semarang termasuk salah satu di dalamnya.

Seiring dengan meningkatnya upaya untuk memberikan kualitas pelayanan yang terbaik, maka biaya operasionalnyapun terutama biaya energy juga ikut meningkat. Untuk itu rumah sakit harus melakukan efisiensi energy agar kinerja rumah sakit tetap terjaga baik. Dengan melakukan efisiensi energy, rumah sakit dapat menurunkan biaya energy tanpa harus mengurangi mutu pelayanan bagi pasien.

 

Efisiensi Energy di Rumah Sakit

Efisiensi energy di rumah sakit didefinisikan sebagai kemampuan rumah sakit  menggunakan lebih sedikit energy untuk menjalankan fungsi dan kinerja yang sama. Hal tersebut dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain dengan :

  • Mengurangi penggunaan materi dan biaya bahan
  • Mengurangi konsumsi energi dan biaya operasional
  • Mengurangi pencemaran dan penularan penyakit
  • Menciptakan Rumah Sakit bersih, sehat, ramah lingkungan dan nyaman
  • Melakukan pemeliharaan dan penggunaan peralatan hemat energi
  • Mengoptimalkan penggunaan sumberdaya terbaharukan dan meminimalisasi dampak
  • Meningkatkan kemampuan daur ulang material dan meminimalkan biaya
  • Meningkatkan pelayanan di Rumah Sakit

 Dengan menerapkan program efisiensi energy diharapkan rumah sakit dapat menghemat biaya penggunaan energy  secara signifikan.

Efisiensi energy menjadi semakin penting, mengingat adanya kenaikan harga Tarif Dasar Listrik  (TDL) secara berkala dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia yang secara terus menerus naik dalam tahun-tahun terakhir seiring dengan program pengurangan subsidi BBM  oleh pemerintah Indonesia. Hal ini telah menyebabkan kenaikan yang cukup besar dalam pengeluaran Rumah Sakit untuk biaya penggunaan energy.

Banyak cara untuk menerapkan tindakan-tindakan penghematan di Rumah Sakit tanpa harus mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien seperti akan diuraikan dalam tulisan ini.

 

Program Efisiensi energi

Sebuah program efisiensi energy harus dimulai dari kebijakan manajemen puncak, oleh karena itu langkah awal yang harus dilakukan menggunakan metode pendekatan top-down. Namun pada tahap pelaksanaannnya, rincian program yang akan disusun harus disertai masukan dari manajemen di bawahnya. Masukan dari semua karyawan yang terlibat juga sangat penting bagi suksesnya sebuah program efisiensi energy.

Untuk merealisasikan kegiatan efisiensi energy di rumah sakit diperlukan beberapa tahapan  mulai dari Audit energy yang dilakukan untuk mencari potensi penghematan sebagai dasar penyusunan target efisiensi. Target tersebut akan dituangkan dalam suatu rencana tindakan yang harus disusun bersama oleh semua pihak terkait. Dalam menerapkan rencana tindakan tersebut, proses monitoring yang rutin harus terus dilakukan. Setelah masa implementasi selesai, dilakukan evaluasi untuk melihat apakah target penghematan sudah tercapai.

 

Audit Energi

Untuk menghasilkan program efisiensi energy yang baik, audit energy mutlak dilaksanakan. Proses audit energy merupakan langkah awal dalam mengidentifikasi potensi-potensi penghematan energy. Audit ini akan menghasilkan data-data penggunaan energy yang dapat digunakan sebagai acuan dalam program efisiensi energy. Hasil audit juga akan memberikan informasi mengenai langkah-langkah yang tepat untuk menjalankan program efisiensi energy. Proses ini juga menjadi dasar dari penentuan target efisiensi yang akan menjadi acuan dalam penyusunan rencana tindakan yang berisi berbagai rekomendasi penghematan energy.

Dengan melihat kajian historis kemudian dilakukan identifikasi bagian-bagian yang tinggi penggunaan energinya serta berpengaruh terhadap peta penggunaan energy. Informasi ini selain berguna  untuk menentukan prioritas penghematan energy juga untuk memberikan gambaran pola penggunaan energy di rumah sakit.

Audit energy biasanya dilakukan oleh lembaga auditor energy yang kompeten untuk mendapatkan hasil audit dan rekomendasi  yang akurat.

 

Penggunaan Energi di RSUP Dr. Kariadi Semarang

Beberapa jenis Energy yang digunakan di RSUP Dr.Kariadi dalam melakukan pelayanan kesehatan antara lain listrik, Solar, Gas LPG dan Bensin. Oleh karena  jenis energy paling besar yang digunakan di RSUP Dr.Kariadi dalam bentuk listrik maka pendekatan analisa dalam tulisan ini lebih menekankan pada penggunaan energy listrik.

Untuk memberikan gambaran penggunaan listrik di RSUP Dr.Kariadi, dilakukan pemetaan distribusi konsumsi daya listrik terpasang dari peralatan-peralatan yang menggunakan listrik terbesar yaitu AC, alat penunjang (mesin sterilisasi, autoclave, pompa air, pompa limbah  dll), alat medis, lift dan penerangan.

 

Berdasarkan pemetaan distribusi daya konsumsi listrik terpasang tersebut dapat dihitung perkiraan besar daya listrik dan biaya yang dikeluarkan oleh RSUP Dr.Kariadi untuk energi listrik tiap bulan dengan asumsi sebagai berikut :

  • Penggunaan AC :
    • 80% dioperasikan selama 24 jam/hari
    • 20% dioperasikan selama 8 jam/hari
  • Alat penunjang dioperasikan selama 8 jam/hari
  • Alat medis dioperasikan selama 12 jam/hari
  • Penerangan dioperasikan selama 18 jam/hari
  • Lift dioperasikan selama 8 jam/hari
  • Biaya listrik Rp.700/kwh

 

Sehingga diperoleh besar daya listrik yang digunakan dan biaya energy listrik yang dikeluarkan rumah sakit selama satu bulan. Sebagai contoh  untuk tahun 2013, dengan menggunakan asumsi di atas maka perkiraan daya listrik yang digunakan dan biaya energy listrik yang dikeuarkan RSUP Dr.Kariadi tiap bulan adalah  seperti pada diagram berikut ini :

 

Rencana Efisiensi Energi Listrik

Untuk mewujudkan penghematan energy agar dapat terlaksana dengan baik sesuai yang diharapkan, perlu disusun suatu program rencana efisiensi energy listrik. Rencana tersebut diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

 

A.Rencana Efisiensi Energi Listrik Jangka Pendek

Rencana ini  berisi  langkah-langkah  efisiensi yang dapat segera dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan. Langkah-langkah  yang dimaksud lebih berorientasi kepada perilaku penggunaan peralatan dan bahan seperti :

  1. Peralatan AC
  • Menghidupkan AC sesuai kebutuhan (jika ruangan tidak digunakan untuk waktu yang relatif lama, maka AC segera dimatikan)
  • Menghindari udara masuk/keluar ruangan (pintu dan jendela harus selalu tertutup)
  • Mengurangi peralatan yg mengeluarkan panas seperti  komputer, TV dan lampu
  • Mengatur setting temperatur ruangan tidak terlalu dingin, sebagai contoh untuk ruang penunjang/umum cukup disetting 25°C, untuk ruang pelayanan kesehatan tertentu disetting sesuai standar
  • Menghindari kontak langsung matahari melalui jendela
  • Menggunakan tanaman sebagai peneduh atap

2.Lampu Penerangan

  • Mematikan lampu yang tidak dibutuhkan
  • Sebisa mungkin memanfaatkan terangnya sinar matahari
  • Menjaga kondisi lampu agar selalu bersih
  1. Lift
  • Lift hanya digunakan untuk pasien dan orang yang benar-benar membutuhkan
  • Lift yang berjajar/berdekatan dan bersistem simplek sebaiknya   secara berkala dioperasikan secara bergantian (jika memungkinkan dalam satu hari di satu tempat hanya satu unit yang dihidupkan sedangkan lainnya dimatikan)
  1. Peralatan Penunjang
    • Menggunakan mesin / alat hanya jika dibutuhkan
    • Jika tidak dibutuhkan matikan power listrik dari saklar utama (tidak hanya pada posisi standby power)
  1. Air Bersih
  • Jangan meninggalkan kamar mandi pada saat dilakukan pengisian bak air (posisi kran terbuka)
  • Jika melihat posisi kran terbuka (air mengalir) tanpa ada orang di tempat tersebut maka kran segera ditutup (air dimatikan)
  • Apabila terjadi kerusakan (saluran air atau kran rusak) segera informasikan ke Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Sanitasi
  • Jika hendak menggunakan air dengan membuka kran ternyata airnya mati kembalikan kran ke posisi menutup

 

b.Rencana Efisiensi energy Jangka Menengah (6 - 12 bln)

Untuk jangka menengah, rencana efisiensi berisi  langkah-langkah  efisiensi yang dapat dilakukan dalam waktu  6 sampai 12 bulan. Langkah-langkah  yang dimaksud adalah dengan melengkapi dan mengganti peralatan  lama dengan peralatan baru yang hemat energy serta memanfaatkan air daur ulang. Contoh langkah yang bisa dilakukan untuk jangka menengah ini antara lain :

  1. Memasang kontrol otomatis (sensor atau timer) pada lampu penerangan
  2. Mengganti jenis lampu lama dengan lampu hemat energy seperti lampu LED.
  3. Memasang bank kapasitor pada panel distribusi tegangan rendah untuk memperbaiki faktor daya listrik
  4. Melakukan daur ulang sisa air RO dan air limbah kamar mandi untuk digunakan sebagai penggelontor WC dan menyirami tanaman

 

c.Rencana Efisiensi  Energi Jangka Panjang ( lebih dari 1 tahun)

Pada rencana efisiensi energy jangka panjang, berisi  langkah-langkah  efisiensi yang berupa penggunaan teknologi hemat energy dalam skala yang lebih besar sehingga  memerlukan perencanaan yang baik. Oleh karena itu langkah ini dapat dilakukan pada jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun, misalnya :

  1. Penggantian Bahan Bakar Minyak (solar) dengan Gas (CNG)
  2. Penggantian gas pendingin AC dan kulkas dari freon menjadi Hydrocarbon
  3. Penggunaan sumber energy matahari (solar cell) terutama untuk penerangan

 

Penutup

Keberhasilan program efisiensi energy di rumah sakit bergantung pada partisipasi aktif semua pihak yang beraktivitas di rumah sakit. Semua yang terlibat harus bekerjasama secara kolektif, untuk meraih tujuan akhir berupa penghematan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien. Kontribusi efisiensi tersebut dapat dilakukan oleh tiap individu mulai dari hal yang paling sederhana.

Navigation