Artikel Kesehatan


04-10-2017 | Hit : 19

EPILEPSI

Endang Kustiowati, Sp.S (K), MSi.Med

KSM Neurologi  RSUP Dr. Kariadi Semarang

Bagi sebagian masyarakat, epilepsi dianggap sebagai penyakit kutukan, kerasukan roh jahat, tidak dapat disembuhkan dan persepsi lainnya, pemahaman inilah yang sering kali membuat penderita dan juga keluarga penderita epilepsi merasa malu dan dikucilkan dari masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sebagian masyarakat juga masih menganggap kalau penyakit epilepsi ini dapat menular. Karena itu epilepsi tidak tertangani dengan baik dan tepat, padahal epilepsi dapat dikontrol dan bukanlah suatu penyakit menular.

Apakah epilepsi itu sebenarnya? Epilepsi atau Ayan, sawan atau secara medis disebut bangkitan adalah suatu penyakit pada sistem saraf otak akibat aktivitas yang berlebihan dari sekelompok sel saraf otak sehingga menyebabkan berbagai reaksi pada tubuh manusia. Gejalanya dapat berupa bengong sesaat, gangguan kesadaran, gerakan gerakan tertentu yang tidak bertujuan seperti mengecap-ngecap, meremas remas, sampai kejang-kejang pada sebagian anggota gerak maupun kejang seluruh tubuh. Epilepsi didefinisikan sebagai dua atau lebih bangkitan epilepsi, yang berselang lebih dari 24 jam, tanpa sebab yang jelas. Epilepsi tidak disebabkan oleh bakteri ataupun virus, oleh karena itu panyakit ini tidak menular, dan penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, tidak memandang suku, budaya, agama, usia maupun jenis kelamin, namun banyak terjadi pada usia-usia awal/ anak-anak dan usia tua.

Di Asia tenggara, menurut WHO (World Health Organisation) Epilepsi terjadi pada ± 1% dari keseluruhan populasi, sekitar 15 juta orang menderita epilepsi. Diantara sekian banyak penderita epilepsi didapatkan ± 10-20% saja yang menerima pengobatan secara adekuat. Bila jumlah penduduk Indonesia berkisar 220 juta, maka diperkirakan jumlah penderita epilepsi baru 250.000 per tahun. Dari berbagai studi diperkirakan prevalensi epilepsi berkisar antara 0,5-4%. Rata-rata prevalensi epilepsi 8,2 per 1000 penduduk. Prevalensi epilepsi pada bayi dan anak-anak cukup tinggi, menurun pada dewasa muda dan pertengahan, kemudian meningkat lagi pada kelompok usia lanjut (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI, 2011). Sekitar 1,1 juta hingga 1,3 juta penduduk Indonesia mengidap penyakit epilepsi (Depkes, 2006). Di RSUP Dr. Kariadi Semarang kunjungan pasien epilepsi di poliklinik saraf per bulan rata rata 50 sampai 55 pasien dimana terdapat rata-rata lima pasien baru setiap bulannya.

Beberapa faktor risiko epilepsi dapat berupa komplikasi pada kehamilan, pre-eklamsi, bayi dilahirkan prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, kejang saat masih bayi, lahir dengan asfiksia(kekurangan oksigen), adanya riwayat penderita epilepsi dalam keluarga, kejang demam saat kecil, cedera kepala berat, post stroke, dan tumor otak.

 

Gambar diatas menggambarkan beberapa bentuk bangkitan epilepsinya yang sesuai dengan lokasi kelainan aktivitas listrik di otak.

Bagaimana cara kita mengetahui jenis bangkitan epilepsi? Epilepsi ditandai dengan terjadinya bangkitan berulang. Bentuk bangkitan ini bisa beragam tergantung pada bagian otak mana yang terlibat dan yang mengalami gangguan aktivitas listrik berlebih di otak. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, sehingga sangat penting menceritakan secara detail dan jelas bangkitan yang terjadi. Penjelasan mengenai terjadinya bangkitan dapat dilakukan oleh penderita sendiri bila bangkitannya tanpa adanya gangguan kesadaran, atau bisa didapatkan dari keluarga, teman atau orang yang melihat kejadian.

Setelah terjadi bangkitan biasanya ada periode kebingungan yang disebut periode postiktal, yaitu periode setelah bangkitan dimana penderita belum kembali pulih kesadarannya. Ini biasanya berlangsung selama beberapa menit tergantung jenis bangkitannya. Gejala umum lainnya termasuk: merasa lelah, sakit kepala, susah bicara, dan tingkah laku abnormal. Penderita sering tidak ingat apa yang terjadi selama waktu ini.

Pengobatan epilepsi harus tuntas, prinsip pengobatan epilepsi adalah “ start low go slow” dimana pengobatan yang digunakan dimulai dengan dosis rendah dan naik secara bertahap sampai dosis efektif yang optimal sehingga bangkitan dapat dikendalikan. Obat yang diberikan pun tidak selalu sama antar penderita epilepsi. Obat diberikan tergantung dari jenis bangkitannya, usia dan ada tidaknya penyakit lain pada penderita. Pada epilepsi pengobatan bisa mulai dihentikan setelah bebas bangkitan selama tiga tahun terus menerus. Proses penghentian obat epilepsi harus bertahap dengan cara sedikit demi sedikit dosis obat diturunkan sampai dianggap cukup waktu untuk dihentikan. Penderita wajib diberi informasi mengenai tanda-tanda munculnya efek samping obat yang dapat terjadi. Informasi meliputi tanda tanda yang tampak / muncul mulai dari yang ringan sampai yang dapat menimbulkan kematian. seperti gatal gatal, rasa panas, wajah bengkak, ruam-ruam kemerahan dikulit, melepuh atau luka-luka dikulit dan mukosa mulut, hidung, mata, mulut dan tenggorokan terasa kering. Bila terjadi hal-hal seperti tersebut diatas, penderita harus menghentikan obat dan periksakan diri kedokter. Tidak boleh menghentikan atau menambah dosis obat tanpa petunjuk dokter.

Bangkitan epilepsi dapat dipicu oleh beberapa hal, untuk mempermudah mengingatkan pemicu bangkitan pada penderita epilepsi, dapat disingkat menjadi 5K, yaitu : Kemalaman, Kedinginan, Kelaparan, Kelelahan, kepanasan. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penderita epilepsi, berhubungan dengan aktifitas sehari-hari, yaitu : tidur sebaiknya tidak menggunakan bantal, jangan mengunci kamar mandi, sebaiknya hindari berendam jika mandi, hindari api dan kompor, olah raga seperti berenang, memanjat gunung, berlayar sebaiknya dilakukan dengan didampingi orang lain, ikuti kelompok penyokong epilepsi /support group.

Bagaimana kita dapat menolong seorang penderita epilepsi saat terjadi bangkitan? Biasanya saat bangkitan terjadi orang disekelilingnya akan panik, mereka cenderung mengerumuni dan hanya menonton saja tanpa melakukan apapun. Terdapat beberapa cara yang dapat kita lakukan:

  1. Jangan panik, tetaplah tenang dan berada di samping penderita
  2. Miringkan kepalanya untuk memberikan udara dan mencegah terjadinya penyumbatan saluran napas oleh air liur
  3. Longgarkan pakaian yang ketat seperti celana, baju, dasi
  4. Lindungi dari bahaya di sekitar, terutama benda tajam
  5. Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut
  6. Jangan mencoba menahan gerakan yang terjadi pada penderita
  7. Bila keadaan membahayakan segera hubungi dokter dan bawa ke rumah sakit terdekat.


Lebih dari 75% penderita epilepsi dapat dikontrol dengan obat anti epilepsi, bangkitan epilepsi yang sulit terkontrol dengan obat anti epilepsi, dapat dilakukan tindakan bedah epilepsi, stimulasi saraf atau perubahan asupan makanan (diet ketogenik).

Di RSUP Dr. Kariadi terdapat sarana pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis epilepsi, seperti pemeriksaan EEG, EEG Long term, CT Scan Kepala, MRI dan juga sudah dilakukan tindakan bedah epilepsi untuk kasus-kasus epilepsi yang tidak dapat terkontrol dengan obat anti epilepsi.



EEG Long Term


Epilepsi sering dihubungkan dengan stigma sosial yang buruk, penderita menjadi tidak percaya diri, kecemasan, depresi dan tidak jarang dikaitkan dengan gangguan psikiatrik.
Pandangan yang benar tentang epilepsi adalah penderita epilepsi bebas untuk mengembangkan dan menjalankan hidup secara normal tanpa tekanan, seperti menjalankan pola hidup sehat, tetap berinteraksi sosial dengan masyarakat, mempunyai hak yang sama untuk sekolah, bekerja dan tetap bersemangat untuk berkarya. Keluarga pun memiliki peran yang penting. Memberi semangat dan dukungan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang positif dapat membantu meningkatkan kepercayaan penderita epilepsi, sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita epilepsi.

 

Navigation