Artikel Kesehatan


14-02-2019 | Hit : 138

Estetika dan kosmetik medik : Aspek etiko-medikolegal

Kabulrachman 

Abstract

Aesthetic and cosmetic medicine is one of the fastest growing segments of medicine today. Demand for cosmetic procedures is ever increasing as a fancy or a fashion. Many factors contribute to this upward trend, including: the economic growth , the booming middle class with high disposable incomes, advertising, media and thereby increased awarness about cosmetic procedures. Non-invasive cosmetics procedures are on the rise, include neurotoxins , chemical peeling , microdermabration , dermal fillers , laser removal of hair and tattoos ,radiofrequency for skin tightening, with many problems. Consequently , it become more important for young dermatologist or all of phycisian include hospital ,who interest in aesthetics and cosmetic medicine services, to look at the ethical principles asociated with this practice, as well as medicolegal aspects ,and provides an overview of safe practice, and the possibility of patient’s sue.

Key words : Aesthetic, cosmetic medicine,  ethics , medicolegal and  safety

Abstrak

Estetik dan kosmetik medik merupakan salah satu segmen yang sangat berkembang dengan cepat saat ini .Kebutuhan akan pelayanan kosmetik meningkat sebagai suatu fantasi ataupun sebagai suatu  model. Berbagai faktor berkontribusi pada peningkatan kecenderungan ini, misalnya perbaikan ekonomi, advertensi, perkembangan media , pertumbuhan klas menengah dengan ekonomi yang baik, dan sebagainya.  Prosedur kosmetik non invasif meningkat,misalnya : neurotoksins( botox) , dermal fillers , laser resurfacing , laser removal of hairand tattoos, chemical peeling, microdermabration, radiofrequensi untuk pencerahan kulit, dengan berbagai permasalahannya.   Sub-spesialisasi  ini akan  tumbuh pesat, akan menjadi sangat penting bagi dokter spesialis kulit muda maupun semua dokter yang berkecimpung dibidang kosmetik medik/ estetika , yang pada gilirannya juga akan terkait dengan perkembangan pelayanan rumah sakit .

    Untuk itu kita perlu melihat kembali prinsip2 etik yang berkaitan dengan praktek serta kewaspadaan dan keamanan terhadap kemungkinan timbulnya komplikasi serta efek samping, yang kemungkinan bisa berlanjut menjadi masalah hukum

Kata kunci : estetika, kosmetik medik, pengobat, etik , medikolegal dan keamanan.

 

 

  1. Pendahuluan

     Menurut kamus Oxford , Aesthetic : concerned with beauty atau appreciation of beauty ; sedangkan secara kata benda:  a set of principles underlying the work of a particular artist or artistic movement Saat ini Aesthetic dan kosmetik medik  , merupakan salah satu segmen yang sangat berkembang dengan cepat. Beberapa menu yang banyak di cari : skin care , skin rejuvenation , botox, filler, tightening, anti wrinkle treat,ment , anti-aging treatment, acne scar treatment , penghilangan  pigmentasi, strech mark, rambut, cellulite, tattoo. Pelayanan prosedur estetika bisa invasif, non invasif, atau invasif minimal , ada yang mempunyai “evidence based tinggi ada pula yang sedikit atau tidak ada. Efek dari peningkatan kebutuhan prosedur estetik, antara lain : bertaburan salon-salon/ klinik  kecantikan , pelayanan estetik yang belum teruji, peningkatan penawaran, baik berupa krim maupun alat-alat kesehatan, kebingan masyarakat, apakah yang menangani seorang dokter yang telah menjalani pelatihan ataukah bukan( Goh ,2012)

     Beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan permintaan akan pelayanan estetika, antara lain :  budaya dan perilaku konsumen yang selalu ingin tampak muda , pertumbuhan ekonomi yang membaik , kemajuan teknologi dan kemajuan ilmu kedokteran , media , iklan produk kosmetika maupun alat kedokteran yang lain( termasuk laser), kurangnya kendali regulasi  yang membantu menentukan apakah suatu tindakan berdasar “ evidence-based” atau “non- evidence-based”.

Goh ( 2009) menyebutkan lima besar prosedur kosmetik non bedah adalah : Botox , Laser hair removal, hyaluronic acids, microdermabrasi dan piling kimiawi 1 ,sedangkan Hagerly (2012) menyebut : neurotoksins , dermal fillers , laser resurfacing , laser removal of hair and tattoos, radiofrequensi untuk pencerahan kulit dan sebagainya.2   Data di Indonesia belum nampak dipublikasikan , namun kurang lebih sama dengan data tersebut diatas.     Pertumbuhan yang cepat dari  sub- spesialisasi ini  , akan  sejalan dengan kemungkinan timbulnya berbagai masalah di masyarakat , dan  akan menjadi sangat penting bagi kita untuk melihat kembali prinsip2 etik , aspek legalitas ,serta keamanan yang berkaitan dengan penanganannya .

 

  1. Perkembangan dermato- kosmetik dan estetik

 

      Keinginan pasien untuk tampil cantik atau tampan akan membawa mereka untuk mencari prosedur estetika, baik melalui penanganan kormetik medik , maupun berbagi usaha lain misalnya bedah plastik . Namun diharapkan para dermatologis tidak harus antusias secara berlebihan dalam memperhatikan kebutuhan pasien tanpa memperhatikan berbagai faktor lain, yaitu etis , keamanan, serta regulasi.

     Ada berbagai profil pasien yang membutuhkan penanganan kosmetik ( Sacchidanand 2012)3  :

  1. pasien yang ingin selalu dilihat cantik/ menarik; umumnya mereka berasal dari

berbagai  berprofesi , misalnya marketing, resepsionis, pramugari, aktor/aktris, penyanyi, penari dsb,

  1. pasien yang menginginkan agar mereka percaya diri ( umumnya mereka yang mencari penyelesaian berbagai masalah, ketombe , tumor jinak pada muka/badan, (skin-tag )misalnya , memperbaiki keriput ( piling, botox, filler, radio frekwesi);
  2. pasien berbasis emosional ( usia pertengahan, para istri yang kurang mendapat perhatian (“ neglected house-wife”),
  3. klien yang membutuhkan karena ada acara tertentu, misalnya perkawinan ,
  4. klien dengan problema kejiwaan.

     Sebelum melakukan penanganan estetika, seyogyanya dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang cermat: membangun hubungan yang baik dengan klien/pasien, konseling yang adekuat, menjelaskan komplikasi yang mungkin terjadi, dan apabila akan dilakukan pembedahan dilakukan wawancara sebelumnya. Untuk klien yang berbasis kejiwaan, sebaiknya diserahkan kepada psikiater.

      Tidak pernah terjadi sebelumnya bahwa “supply and demand” dalam bidang medik begitu kuat dipengaruhi media dalam mencari kebutuhan estetik dan kosmetik ini.

Klien atau pasien sering dipengaruhi oleh advertensi yang kurang masuk akal.   Misalnya , mereka yang memproklamirkan usahanya sebagai “institut laser” mempromosikan kerja mereka dalam suatu iklan ( mungkin satu halaman penuh ) , baik pada surat kabar maupun majalah. Studi ilmiah sering tidak berdaya menghadapi penggunaan alat-alat kesehatan yang berkaitan dengan estetika yang menjamur. Penilaian klinis yang teliti tidak dapat terjadi pada keadaan tertentu, sehingga penyimpangan sumpah Hipokrates dapat terjadi dengan mudah.4 Keinginan publik yang masif serta kebutuhan pasien , misalnya pada pengobatan laser , menimbulkan keinginan banyak dokter untuk memiliki laser dan berimplikasi untuk memanfaatkan laser sebagai sumber untuk menambah income.Untuk memiliki dan mengoperasikan sebuah laser membutuhkan dana besar. Sebuah laser yang tepat harus dipilih dengan seleksi yang ketat, karena sangat bervariasi. Tidak ada “ universal laser” yang dapat bekerja untuk setiap dokter, bahkan untuk setiap indikasi. Sekali  alat tersebut dibeli,harus digunakan sesering mungkin, meskipun ada kemungkinan ada cara alternatif yang sama, lebih efisien dan ekonomis. Konsekuensinya, ada kenaikan resiko munculnya kreasi baru untuk aplikasi, meskipun cara terapi yang, aman dan efektif, sudah ada. Lebih lanjut, sistem laser seringkali out of date dalam waktu relatif singkat. Sebelum pembayaran pertama telah dilakukan , muncul barang baru yang lebih baik ,lebih banyak alternatif , meskipun harganya lebih mahal dari pada sebelumnya. Seringkali industri mengiklankan adanya laser yang terbaru , meskipun belum diteliti secara obyektif dan randomized trial.

      Isyu tentang laser training adalah merupakan problem yang serius. Semua orang, termasuk  , penata rambut, artis tato, ahli kecantikan dapat membeli laser dan mengiklankan pelayanan mereka. Belum ada kebutuhan/ persyaratan legal untuk training, tidak ada pengukuran kualitas , tidak ada standard kualitas atau guidlines. Strategi pemasaran yang kreatif telah banyak dilakukan, misalnya dengan pelatihan menggunakan apel atau jeruk dibawah superfisi seorang “ specialist”.

      Oleh karenanya pengobatan laser pada kulit hanya dilakukan  berdasarkan standard dermatologik, yaitu spesialis laser yang terlatih dan memenuhi standard minimum alat , higiene, fasilitas dan personel. Ada yang disebut “Physician Extension”/ PE,  yang merupakan asisten dokter, bisa dokter maupun bukan dokter, yang telah mendapatkan ketrampilan melalui beberapa kegiatan, misalnya workshop, kursus, pelatihan, dan sebagainya 4,5

              Hal lain yang sangat penting adalah keamanan ( “safety”) Untuk menjaga keamanan ( “safety’) dalam penggunaan alat-alat kesehatan yang berkaitan dengan estetika diperlukan tentang pengetahuan menejemen resiko, yang terdiri dari 3 tahap : 1) pengetahuan tentang standard , regulasi dan petunjuk praktis 2) identifikasi tentang kemungkinan resiko atau hal-hal yang merugikan, 3) implementasi dari peran kendali, yang terdiri dari kendali teknis, kendali prosedur dan kendali administratif 6

             Sehubungan dengan berbagai masalah tersebut diatas , kita perlu mengingat kembali prinsip-prinsip etika( bioetika), menjaga keamanan , keselamatan para pasien kita terhadap tindakan-tindakan akibat kelalaian kita. Seperti diamanatkan oleh UU No 29 th 2004 tentang Praktek kedokteran  pasal 2 dan 3 , yang menyebutkan bahwa “ Praktek kedokteran dilaksanakan berazaskan Pancasila dan didasarkan  pada nilai ilmiah , manfaat , keadilan, kemanusiaan , keseimbangan, serta perlindungan dan keselamatan pasien7

  1. Prinsip- prinsip (Bio-)Etik , kaitannya dengan estetika dan penggunaan alkes yang berkaitan dengan estetika.2,8

Prinsip etik  otonomi . Otonomi merupakan bentuk respek dari hak pasien untuk menentukan sendiri pilihan untuk mendapatkan pelayanan dan hak untuk menerima dan menolak pengobatan. Otonomi tidak berdiri sendiri , tetapi dipengaruhi pula oleh prinsip2 etik yang lain, termasuk “ beneficience , non-maleficience dan  justice Prinsip otonomi  menyatakan bahw seorang  klien mempunyai hak untuk membuat keputusan tentang tindakan atau prosedur apa yang dia inginkan . Oleh karenanya hak pasien/klien  dalam bentuk informed consent harus dihormati, dimana pasien harus mendapatkan informasi yang benar dan jelas termasuk resiko apa yang mungkin terjadi serta piliah alternatif yang ada dari prosedur yang telah dipilih.Akibat dari advertensi yang menyesatkan .. Didalam realita, ternyata prosedur itu tidak memberikan hasil yang optimal. Prosedur yang ada pada iklan bisa tidak benar/tepat sesuai dengan jenis kulit pasien ataupun umur , ataupun foto yang menjanjikan hasil yang kurang realistis. Pasien mungkin dalam keadaan emosional terkait misalnya dengan karier atau mempunyai kelainan tubuh yang “dismorphic”( “ Body Dysmorphic  Disorder”). Orang2 seperti ini akan mempunyai harapan  yang tidak realistik tentang  kapasitas dari prosedur yang non-surgikal, karena  adanya penampilan foto-foto advertensi yang tidak realistik.Mereka melihat prosedur ini sebagai solusi, misalnya memperbaiki perkawinan yang “hancur” , atau untuk memperoleh pekerjaan ataupun kepastian emosional. : “ Bila saya mendapatkan/menjalankan prosedur ini saya akan cantik dan berbahagia.

Prinsip “ beneficience” . Praktisi  bertindak sesuai keinginan pasien, akan tetapi sangatlah penting  bagi praktisi untuk mengukur/mempertimbangkan keuntungan/kerugian yang bakal terjadi , motivasi kepada pasien tentang prosedu tersebut dan  bagaimana hal tersebut akan mempengaruhi kualitas hidup.

Pada prinsip “ non-malficience” , praktisi diminta untuk : to do no harm dan bertindak sesuai keinginan yang terbaik dari pasien. Praktisi biasanya enggan untuk melaksanakan suatu prosedur sesuai keinginan pasien yang mempunyai harapan  tidak realistic. Namun , praktisi harus berdiskusi kemungkinan terjadi efek samping dari suatu prosedur, pengobatan pasca tindakan dan follow-up selanjutnya. Dalam hal ini praktisi perlu menganjurkan prosedur alternatif yang mungkin lebih menguntungkan , atau mengirimkan kepada sejawat lain melakukan pengobatan lain . Suatu contoh, misalnya seorang yang ingin kulitnya kencang setelah terjadi penurunan berat badan. Pasien ini lebih baik ditangani oleh seorang spesialis bedah plastik dari pada berusaha untuk mengencangkan  jaringan yang luas dan melimpah dengan radiofrequensi  untuk mengencangkan kulit.

 Prinsip “justice” .Praktisi seharusnya menghormati keinginan pasien , mendengarkan sambil  melakukan edukasi pada  pasien tentang apa yang diharapkan dari prosedur tersebut, bukan hanya berapa uang yang harus dikeluarkan untuk cara tersebut.

      Pada terapi laser,fokus seringkali tidak berdasar pada simptom obyektif atau bukti adanya penyakit, melainkan adanya kelainan, misalnya berupa kerut , pigmentasi atau masalah rambut, yang secara pengamatan subyektif sebenarnya bukanlah semata-mata pengobatan penyakit kulit namun lebih kepada kulit sehat yang mendapatkan jejas (atas permintaan pasien) , dan proses ini tidak memperbaiki prognosis maupun simptom. Tidak seperti bedah plastik, dimana dapat mengoreksi deformitas atau kelainan setelah kecelakaan ( after-effects of accident), kosmetik medik mengobati berdasarkan imej subyektif pasien itu sendiri.  Sebagai kesimpulan yang tidak dapat dielakkan adalah, kebahagiaan pasien, yang tentu saja subyektif, menjadi pusat perhatian medik, yang merupakan kebalikan dari tujuan untuk menyembuhkan dan mempertahankan kesehatan seperti yang dirasakan Hippocrates. Kita sebaiknya jangan terikat sebagai partner bisnis, karena  hanya dimotivasi oleh rasa apa yang mereka inginkan, sehingga  terjadi hubungan pendek ekonomi antara dokter . Dokter mempunyai pengetahuan yang lebih besar tentang kesehatan dan karena tanggung jawab dokter yang memikul beban pasien sebagai individu yang diberi hak utk mendapat proteksi spesial dan kerahasiaan. . Komite etik American College memberi pembatasan yang keras dan peraturan untuk mengantisipasi adanya jalan pintas penjualan barang2 pada praktek pribadi. Petunjuk ini juga diaplikasikan pada “penjualan” laser terapi.

“Informed consent” ( IC )

Informed consent ( IC ) sangatlah penting kaitannya dengan etika dan legalitas serta meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Adanya seorang saksi diperlukan dalam membuat/ pengambilan IC. Perlu dijelaskan tentang kondisi, kebutuhan untuk terapi , cara pengobatan yang lain , lama pengobatan ,berapa kali harus datang, hasil yang diharapkan, dan tidak ketinggalan, perlu dijelaskan efek samping yang mungkin akan terjadi. Brosur yang didisain secara obyektif , informatif tentang prosedur secara spesifik, akan mengurangi atau mencegah terjadinya tuntutan malpraktek. Semuanya harus ditulis dengan kalimat yang komprehensif ,bahasa sederhana dan ditanda tangani oleh pasien. Pasien diberi kebebasan untuk membatalkan IC kapan saja. IC akan memproteksi dalam hal kemungkinan terjadi reaksi yang tidak dapat diprediksi setelah pengobatan , namun hal ini bukan imunitas bagi dermatologis .3

Dermatologist harus mempunyai ketrampilan yang adekuat , termasuk juga asisten yang membantu, yang sering disebut “ Physician Extenders”. Bagi PE perlu diberi ditanamkan pengertian, bahwa selain melaporkan apa yang dikerjakan, juga kesalahan apabila terjadi dan tidak menyembunyikan, karena takut akan tuntutan.Ketrampilan tersebut bisa didapat melalui keikut sertaan dalam workshop , kursus yang bersertifikat ataupun pelatihan langsung ( “ hands on training”. Disamping itu perlu pula menyiapkan catatan Medik. Standard pelayanan harus pula didasarkan atas bukti ilmiah ( Evidence-Based Medicine/EBM)

Ethical conflicts

Konflik Etikal  timbul apabila seorang praktisi “berjuang” untuk menentukan  antara beneficence vs economic interst . Sebuah contoh , seorang pasien datang diklinik pada hari Rabu dan ingin menghadiri perkawinan kakaknya pada hari Sabtu , ingin dilakukan dermal filler pada pipi dan lipatan nasolabial. Praktisi tersebut tahu bahwa ada potensi resiko terjadinya memar, edema lokal atau kejadian yang tidak dapat diantisipasi terjadinya reaksi  karena lidocain , tetapi melihat imbalan yang akan diterima , akan terjadi “ pergulatan”.

Beberapa konflik etikal yang dapat terjadi  :

  1. Provider’s Underestimation of risk ; terjadi bila praktisi yang tidak terlatih atau mempunyai pengalaman untuk menjalankan proseduer tersebut.Praktisi yang mendapatkan pelatihan yang tidak adekuat, tidak hanya menggunakan alat dengan tidak atau kurang  benar , tetapi juga tidak mengetahui kapasitas atau komplikasi yang mungkin terjadi.
  2. Overservicing, akibat dari harga yang tinggi dari suatu peralatan .Kebutuhan agar alat tersebut bisa terbayar serta potensi untuk memperoleh dana yang besar, menyebabkan konfik. Hal ini terjadi pada praktek-praktek yangt berbasis komisi dan keuntungan yang besar.
  3. Over emphasis dari keuntungan dari prosedur tertentu, terutama pada publikasi dan advertensi berkaitan dengan proses penuaan , menimbulkan konflik lain Media seringkali keliru dalam menginformasikan, misalnya prosedur tertentu akan menghentikan proses penuaan , sedangkan kenyataannya tidak ada satupun alat yang dapat bekerja seperti itu. Tidak ada satupun pengobatan atau prosedur yang sama dapat digunakan untuk setiap orang . namun berbeda dari orang ke orang

Praktisi harus berhati-hati dalam menerangkan kepada kliennya bahwa  pada tiap individu , tiap kasus  bersifat unik dan pengobatan harus di lakukan berbeda

  1. Industry interest in loaning or renting equipment dapat menyebabkan konflik.Saat ini dibeberapa negara praktisi tidak perlu mempunyai sendiri alat sendiri , tetapi dapat menyewa alat tersebut dari beberapa jam sampai beberapa hari. Perusahaan juga akan mengirim teknisi untk menjalankan alat tersebut. , sehingga bagaimana bisa si praktisi dapat menjelaskan atau memberikan konsultasi harapan dan efek samping dari penggunaan alat tersebut. Adalah merupakan keharusan bahwa praktisi telah mengikuti pelatihan dan mengerti tentang fisiologii alat Praktisi akan lebih baik bila praktisi mengikuti pelatihan atau  atau sertifikasi alat yang disewa tersebut., tidak masalah lisensi apa yang dipakai, yang penting dapat membantu mengurangi resiko. Singapor sudah mempunyai “guidlines yang dikeluarkan oleh Singapore Medical Council , yang antara lain menyebutkan bahwa praktisi yang melakukan pelayanan aetetika yang tidak sesuai dengan aturan yang dibuat SMC dianggap tidak etis dan dianggap menjatuhkan reputasi profesi. Di Malaysia ada “Cosmetic Dermatology and Laser Medicine” , di Amerika ada American Board of cosmetic and aesthetitc Medicine, yang masing-masing memiliki rambu-rambu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana dengan Indonesia?

?

  1. Kesimpulan :

 

  1. Pada era kosmetik medik , perlu diperhatikan : hubungan yang harmonis antara dokter- pasien , memberi rasa empati , konseling yang baik , ketrampilan yang memadai serta ada “ guideline” yang jelas , yang kesemuanya merupakan jaminan yang baik terhadap kemungkinan terjerat masalah hukum.
  2. Diperlukan evaluasi ilmiah yang ekstensif terhadap sistem yang ada maupun yang baru, marketing yang dapat dipercaya serta obyektif , training yang mantap bagi operator serta aturan tentang dokter sebagai pengguna alat kesehatan yang terkait dengan estetika maupun bahan-bahan kosmetika.
  3. Pemahaman dan kemamapuan tentang dermato-kosmetik / estetika ,sangat penting untuk melaksanakan dan mengetahui resiko ,kemampuan mengembangkan masalah keamanan , serta merawat pasien lebih baik .
  4. Komunikasi yang buruk , retribusi , keuntungan ekonomis serta kelalaian merupakan alasan utama pasien menuntut para dokternya. “ Do your level best to minimize the damages !

Navigation