Berita Terbaru


26-04-2019 | Hit : 37

FAKTA EPILEPSI

Oleh dr. Rahmi Ardhini, Sp.S dari RSUP Dr. Kariadi Semarang

 undefinedfakta epilepsi

Semarang (24/04/2019) - Epilepsi adalah penyakit kronis yang memiliki ciri khas berupa kejang kambuhan yang seringnya muncul tanpa pencetus. Di dalam otak manusia terdapat neuron atau sel-sel saraf yang merupakan bagian dari sistem saraf. Tiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Kejang epilepsi terjadi karena adanya gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang berlebihan yang menyebabkan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran.

Kejang memang gejala utama penyakit epilepsi, namun tidak semua orang yang mengalami kejang pasti mengidap kodisi ini. Umumnya, seseorang tidak dianggap mengidap epilepsi jika ia tidak pernah mengalami dua kali kejang atau lebih dalam waktu 24 jam kejang tanpa alasan jelas. Beberapa orang bisa sangat jarang mengalami kejang epilepsi, sedangkan sebagian lainnya bisa mengalami kejang hingga ratusan kali dalam sehari. Kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko.

Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena beberapa hal. Baik karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, ataupun kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut. Kerusakan atau perubahan di dalam otak diketahui sebagai penyebab pada sebagian kecil kasus epilepsi.

Epilepsi merupakan penyakit saraf yang paling banyak terjadi. Memang, tidak ada data yang pasti tentang jumlah penderita epilepsi di Indonesia. Berdasarkan data WHO tahun 2018, sekitar 50 juta penduduk di dunia mengalami gangguan ini. WHO juga menyebutkan bahwa dari banyak studi tentang epilepsi, data menunjukkan rata-rata prevalensi epilepsi aktif 8,2 per 1.000 penduduk, sedangkan angka insidens mencapai 50 per 100.000 penduduk.

Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 1,3-1,6 juta penderita epilepsi. Jumlah ini disebutkan tidak menggambarkan jumlah kasus yang sebenarnya karena banyak keluarga yang tidak mau membawa anaknya yang menderita epilepsi ke puskesmas atau rumah sakit untuk berobat. Ini terjadi antara lain karena stigma yang salah yang dilekatkan pada penderita epilepsy. Banyak orang yang salah menganggap bahwa epilepsi adalah penyakit yang menular. Sebagian lagi mengatakan epilepsi sebagai penyakit yang terkait dengan kutukan, kemasukan roh jahat, kesurupan, kena guna-guna, dll.

Tanda-tanda dan gejala

Karena epilepsi disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak, kejang merupakan gejala utama penyakit epilepsi yang terjadi saat timbul impuls listrik pada otak melebihi batas normal. Kondisi tersebut menyebar ke area sekelilingnya, dan menimbulkan sinyal listrik yang tidak terkendali. Sinyal tersebut terkirim juga pada otot, sehingga menimbulkan kedutan hingga kejang. Dalam banyak kasus, gejala epilepsi berlangsung secara spontan dan singkat.

Karakteristik kejang akan bervariasi dan bergantung pada bagian otak yang terganggu pertama kali dan seberapa jauh gangguan tersebut terjadi. Tingkat keparahan kejang pada tiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan hanya seperti memandang dengan tatapan kosong, atau terjadi gerakan lengan dan tungkai berulang kali.

Berikut ini beberapa tanda dan gejala epilepsi adalah:

  • Kebingungan sementara
  • Mata kosong (bengong) menatap satu titik terlalu lama
  • Gerakan menyentak tak terkendali pada tangan dan kaki
  • Hilang kesadaran sepenuhnya atau sementara
  • Gejala psikis
  • Kekakuan otot
    • Gemetar atau kejang, pada sebagian anggota tubuh (wajah, lengan, kaki) atau keseluruhan
    • Kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan hilang kesadaran secara tiba-tiba, yang bisa menyebabkan orang tersebut tiba-tiba terjatuh

Berdasarkan penyebabnya, epilepsi dapat digolongkan menjadi:

  1. Epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi yang penyebabnya tidak diketahui, disebut juga sebagai epilepsi primer. Sejumlah ahli menduga bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik (keturunan). Bagi kebanyakan orang, gen dapat berpotensi besar jadi penyebab epilepsi. Beberapa jenis epilepsi, yang dikategorikan berdasarkan tipe kejang terjadi dalam keluarga.
  2. Epilepsi simptomatik, disebut juga epilepsi sekunder. Ini merupakan jenis epilepsi yang terjadi akibat suatu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada otak yang terpengaruh oleh beberapa faktor, seperti:
  • Cedera pada kepala
  • Kondisi otak.
  • Penyakit menular
  • Cedera sebelum persalinan.
  • Gangguan perkembangan

 

Perawatan untuk penyakit epilepsi difokuskan untuk mengendalikan kejang, walau tidak semua orang dengan kondisi ini memerlukan perawatan. Belum ada metode dan obat untuk menyembuhkan epilepsi. Namun ada obat untuk mencegah terjadinya kejang yaitu obat antiepilepsi atau OAE sehingga pengidapnya dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal. Pemberian obat secara tepat dapat menstabilkan aktivitas listrik dalam otak, serta dapat mengendalikan kejang pada penderita epilepsi.

Banyak obat epilepsi yang tersedia untuk mengontrol kejang. Pilihan obat epilepsi biasanya berdasarkan oleh faktor seperti toleransi pasien terhadap efek samping, penyakit lain yang dimiliki, serta metode penyampaian obat.

Operasi biasanya dilakukan apabila terapi obat epilepsi sudah tidak mempan lagi. Selain itu, prosedur ini juga dilakukan setelah hasil tes menunjukkan bahwa kejang berasal dari area tertentu pada otak yang tidak mengganggu fungsi vital seperti bicara, bahasa, fungsi motorik, penglihatan atau pendengaran. Dengan operasi, dokter akan mengangkat area di otak yang menyebabkan kejang.

Namun jika kejang berasal dari bagian otak yang tidak dapat diangkat, dokter akan merekomendasi jenis operasi lain di mana ahli bedah akan melakukan beberapa sayatan pada otak. Sayatan tersebut dirancang untuk menghindari menyebarnya kejang ke bagian otak yang lain.

Walau banyak orang yang tetap memerlukan obat epilepsi untuk mencegah kejang setelah operasi yang berhasil, Anda mungkin hanya akan memerlukan lebih sedikit jenis obat epilepsi serta dosisinya.

Pada sedikit kasus, operasi untuk kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi, seperti perubahan kemampuan berpikir (kognitif) secara permanen.

Navigation