Artikel Kesehatan


24-10-2012 | Hit : 8270

Masyarakat selama ini memandang HIV sebagai virus paling berbahaya di dunia. Tak heran jika segala daya dikerahkan untuk memerangi virus tersebut. Namun ternyata hepatitis B jauh lebih berbahaya dari HIV. Tingginya resiko terinfeksi hepatitis B bahkan mencapai 100 kali lipat dibandingkan virus penyebab aids tersebut.

 

Hepatitis B dan HIV

 

Penyebararan hepatitis B makin rawan di negara endemi. Dicatat Badan Kesehatan Dunia (WHO), dari 6 miliar penduduk bumi, 2 miliar diantaranya atau sebanyak 30 persen positif terinfeksi hepatitis B. Dan berdasarkan peta sebaran hepatitis B yang dibuat WHO pula, Indonesia termasuk negara dengan tingkat infeksi sedang sampai sampai tinggi.

 

Tingkat infeksi hepatitis B dinyatakan rendah jika hanya diidap kurang dari 2 persen penduduk. Sedang antara 2-8 persen dan jika lebih dari 8 persen, artinya sebaran virus hepatitis B di suatu tempat termasuk tinggi.

 

"Di Indonesia, untuk daerah di pulau jawa yang terinfeksi Hepatitis B di bawah 8 persen. Namun untuk luar Jawa mencapai lebih dari 8 persen. Itulah kenapa Indonesia masuk negara endemi hepatitis B sedang sampai tinggi," ujar ahli penyakit dalam dan konsultan pencernaan dan hati dari RSUP Kariadi Semarang, Dr Hery Djagat Purnomo SpPD.

 

Untuk membuktikan secara lebih riil mengenai sebaran hepatitis B di Indonesia, pada tahun 2007 Departemen Kesehatan melakukan riset kesehatan dasar dengan melibatkan 10 ribu sampel. Hasilnya, 9,4 persen dari sampel tersebut positif terinfeksi hepatitis B.

 

Mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh hepatitis B ini, Indonesia bersama Brazil pun mempelopori gerakan peduli infeksi hepatitis B sehingga kemudian ditetapkan bahwa tanggal 28 Juli merupakan hari hepatitis B sedunia. Diharapkan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini juga meningkat.

 

Lantas, apa yang membuat virus ini sedemikian berbahaya? Dr Hery Djagat mengungkapkan diantaranya karena sebarannya sangat tinggi, sementara kita tidak tahu siapa saja di sekeliling kita yang mengidap hepatitis B. Penderita sendiri tak jarang juga tidak menyadari kalau mereka sudah terinfeksi. Ini sangat berbahaya karena dampak terburuk dari virus ini bisa mengakibatkan kanker hati.

 

Mengingat hati merupakan salah satu organ paling vital yang dimiliki oleh manusia dengan fungsi utama menyaring racun dalam tubuh, bisa dibayangkan apa jadinya jika hati sudah rusak.

 

Penularan atau transmisi hepatitis sendiri dibagi menjadi dua yaitu vertikal transmisi dan horizontal transmisi. Vertikal transmisi terjadi jika seorang ibu menderita hepatitis B sehingga pada saat melahirkan sangat besar peluangnya ditularkan kepada si anak. "Ini merupakan jenis transmisi yang paling sering terjadi. Karena itulah di Indonesia, setiap bayi yang baru lahir harus mendapatkan suntikan anti hepatitis," jelas Dr Hery Djagat.

 

Sedangkan horizontal transmisi adalah penularan yang terjadi antara orang dengan orang melalui media antara lain transfusi darah, jarum suntik yang digunakan lebih dari satu orang, dan hubungan seksual.

 

Berdasarkan jumlah muatan virus dan kemampuan menyalurkan, yang beresiko tertinggi adalah penularan lewat darah baik itu transfusi, jarum suntik maupun luka terbuka. Yang tergolong sedang adalah penularan melalui cairan semen/vagina (saat berhubungan seksual) dan air liur atau saliva.

 

Yang juga punya potensi untuk menularkan hepatitis B adalah keringat, air susu dan air mata. Hanya saja potensinya memang sangat kecil. "Untuk itu, dalam melakukan transfusi darah, penggunaan jarum suntik berhubungan sex apalagi di luar nikah dan lain sebagainya perlu hati-hati," tandas Dr Hery Djagat. msi

Sumber : Warta Jateng

 

Navigation