Artikel Kesehatan


14-06-2012 | Hit : 2508

Wanita-wanita di Asia Timur seperti Jepang, Korea dan Cina terkenal akan kecantikan kulitnya. Dan itu ternyata tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan hidup termasuk pola makan. Selain the hijau yang kaya antioksidan, mereka juga sangat senang mengkonsumsi kedelai. Konsumsi Jepang akan kedelai yang di sana akrab disebut edamame bahkan sangat tinggi hingga mencapai hampir seratus ton dalam satu tahun.

Kedelai telah dikenal selama berabad-abad memiliki keunggulan nilai gizi tinggi bagi kesehatan. Kandungan utama yang terdapat pada tanaman ini adalah isoflavon, suatu senyawa kimia yang bisa menjadi pengganti estrogen atau disebut pula fitoestrogen (Estrogen) dari bahan tumbuh-tumbuhan.

Estrogen punya pengaruh besar pada kecantikan kulit mulai dari kelembaban, elastisitas dan sebagainya. Seiring beranjaknya umur seorang wanita, di dalam tubuh, zat ini juga makin menipis. Inilah yang menjadi penyebab kulit kering, timbul garis yang dalam, bercak pigmentasi dan keriput.

Penuaan yang berkaitan dengan pertambahan usia seiring bejalannya waktu (usia kalender) memang tidak bisa dihindari. Namun manusia bisa memperlambat pertambahan usia biologis atau usia organ tubuh. Caranya adalah dengan gaya hidup sehat mulai dari makan teratur, olahraga, menjauhi rokok. minuman, begadang dan polusi udara.

Dokter Kesehatan Kulit dan Kelamin dari RSUP Kariadi Semarang, Prof. Dr. dr Prasetyowati Subchan Sp.KK(K) mengatakan, saat ini terdapat teori penuaan terbaru yaitu Teori Telomerasi. Telomer adalah rangkaian asam nukleat yang terdapat di ujung kromosom dan berfungsi sebagai penajaga keutuhan kromosom.

 "Setiap kali sel tubuh membelah, telomer akan memendek. Apabila ujung telomer sudah terlalu pendek, kemampuan sel untuk membelah akan berkurang, melambat, dan pada akhirnya sel tidak bisa membelah lagi atau mati. Penelitian menunjukkan bahwa cara paling efektif mencegah kematian sel adalah menghambat telomer agar tetap panjang," ujar Prasetyowati.

Atas dasar ini pula dia melakukan penelitian yang melibatkan wanita pasca menopause dengan kadar estrogen dalam tubuh yang sudah menipis. Penelitian diawali dengan pengukuran panjang telomer lekosit wanita-wanita tersebut. Setelahnya, sebagian dari mereka setiap hari diberi ekstrak kedelai selama tiga bulan, sebagian lagi tidak.

"Waktu itu tahun 2006. Saya membawa sampel darah para responden untuk diuji coba di laboratorium di Kuala Lumpur Malaysia karena di Indonesia pada tahun tersebut belum alat pengujinya. Ternyata terbukti kalau telomer wanita yang mendapat ekstrak kedelai terhambat penyusutannya dan kelembaban kulit juga meningkat. Ini membuktikan kalau kedelai memang sangat bagus untuk mencegah atau menghambat usia biologis," jelas Dr Prasetyowati.

Rajin mengkonsumsi kedelai yang kaya isoflavon juga membantu para wanita mengatasi keluhan saat menopause seperti panas tubuh dan rasa gelisah.  namun perlu diperhatikan kata Prasetyowati, mengingat ini merupakan cara alami memperoleh kecantikan kulit, maka konsumsi kedelai tidak bisa terlihat khasiatnya dalam waktu cepat seperti penggunaan bahan-bahan kimia. "Yang jelas dengan cara herbal dari alam, tidak ada efek samping yang ditimbulkan," tandas Guru Besar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
 
 
sumber: Warta Jateng 

Navigation