Artikel Kesehatan


09-01-2018 | Hit : 8

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Uva Utomo

KSM KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RSUP DR KARIADI

 

Kekerasan dalam rumah tangga memiliki tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada awal tahun 2004 menunjukkan peningkatan serius dalam jumlah kasus kekerasan berbasis gender yang menimpa perempuan. Pada tahun 2001 terdapat 3.169 kasus yang dilaporkan ke lembaga pengada layanan tersebut. Pada tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 5.163 kasus dan tahun 2003 terdapat 5.934 kasus. Sedangkan tahun 2006, catatan dari Ketua Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Kamala Chandrakirana, menunjukkan kekerasan terhadap perempuan (KTP) sepanjang tahun 2006, mencapai 22.512 kasus, dan kasus terbanyak adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga sebanyak 16.709 kasus atau 76%.

 

Angka - angka di atas harus dilihat dalam konteks fenomena gunung es, di mana kasus yang tampak hanyalah sebagian kecil saja dari kejadian yang sebenarnya. Apalagi angka-angka tersebut hanya didapatkan dari jumlah korban yang melaporkan kasusnya ke 303 organisasi peduli perempuan. Data juga mengungkapkan, rata-rata mereka adalah penduduk perkotaan yang memiliki akses dengan jaringan relawan dan memiliki pengetahuan memadai tentang KDRT.

 

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG

PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

 

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. Penghapusan kekerasan dalamrumah tangga bertujuan mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga; melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga; menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga; dan memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

 

  1. DEFINISI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,

psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

 

  1. RUANG LINGKUP RUMAH TANGGA
  • Suami, isteri, dan anak;
  • Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
  • Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.
  1. JENIS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
  2. Kekerasan Fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Kekerasan fisik yang dialami korban seperti: pemukulan menggunakan tangan maupun alat seperti (kayu, parang), membenturkan kepala ke tembok, menjambak rambut, menyundut dengan rokok atau dengan kayu yang bara apinya masih ada, menendang, mencekik leher.

 

  • Kekerasan Fisik Berat, berupa penganiyaan berat seperti menendang, memukul, menyudut, melakukan percubaan pembunuhan atau pembunuhan dan semua perbuatan lain dengan mengakibatkan Cedera berat; Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari; Pingsan; Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati; Kehilangan salah satu panca indra; Mendapat cacat; Menderita

sakit lumpuh; Terganggu daya pikir selama 4 minggu lebih; Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan; Kematian korban Kekerasan Fisik Ringan, berupa menampar, menjambak, mendorong, dan perbuatan lainya yang mengakibatkan Cedera ringan; Rasa sakit dan luka fisik yang tidak termasuk kategori berat Melakukan repetisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan fisik berat.

Kekerasan Psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Kekerasan psikis berupa makian, ancaman cerai, tidak memberi nafkah, hinaan, menakut-nakuti, melarang melakukan aktivitas di luar rumah.

  • Kekerasan Psikis Berat, berupa tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial; tindakan atau ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; kekerasan dan atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis; yang masing-masing bisa mengakibatkan penderitaan psikis berat berupa salah satu atau beberapa hal berikut :
  • Gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau dua
  • Kesemuanya berat dan atau menahun
  • Gangguan stress paska trauma
  • Gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis)
  • Deperesi berat atau destruksi diri
  • Gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya
  • Bunuh diri
  • Kekerasan Psikis Ringan, berupa tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk pelanggaran, pemaksaan dan isolasi sosial; tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis yang masing-masing bisa mengakibatkan penderitaan psikis ringan, berupa salah satu atau beberapa hal di bawah ini:
  • Ketakutan dan perasaan terteror
  • Rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak
  • Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual
  • Ganggan fungsi tubuh ringan (misalnya sakit kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis)
  • Fobia atau depresi temporer

 

Kekerasan Seksual meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut, maupun pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Kekerasan seksual seperti memaksa isteri melakukan hubungan seksual walaupun isteri dalam kondisi lelah dan tidak siap termasuk saat haid, memaksa isteri melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain.

 

  • Kekerasan Seksual Berat, berupa :
  • Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/ jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki.
  • Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan, dan atau menyakitkan
  • Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu
  • Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi
  • Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka, atau cedera

Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentas verbal, gurauan, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yan tidak dikehendaki oleh korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban

Penelantaran Rumah Tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. Penelantaran seperti meninggalkan isteri dan anak tanpa memberikan nafkah, tidak memberikan isteri uang dalam jangka waktu yang lama bahkan bertahun-tahun.

Kekerasan Ekonomi

  • Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa :
  • Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran
  • Melarang korban bekerja tapi menelantarkannya
  • Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.
  • Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya

 

PELAPORAN KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Korban berhak melaporkan secara langsung atau memberikan kuasa pada keluarga atau orang lain tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya kepada kepolisian, baik ditenpat korban berada atau ditempat kejadian perkara. Dalam hal korban adalah seorang anak,laporan dapat dilakukan oleh orang tua,wali, pengasuh atau anak yang bersangkutan.

 

  1. PELAYANAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

KEPOLISIAN:

  1. Dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak mengetahui atau menerima laporan KDRT, polisi wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban.
  2. Dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak pemberian perlindungan sementara kepolisian

wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.

  1. Kepolisian wajib memberikan keterangan pada korban tentang hak korban untuk

mendapat pelayanan dan pendampingan.

  1. Kepolisian wajib segera melakukan penyelidikan setelah mengetahui atau menerima

laporan tentang terjadinya KDRT.

  1. Kepolisian segera menyampaikan pada korban tentang:
  2. identitas petugas untuk pengenalan pada korban
  3. KDRT adalah kejahatan terhadap martabat kemanusiaan
  4. kewajiban kepolisian untuk melindungi korban

TENAGA KESEHATAN:

  1. Memeriksa kesehatan korban sesuai standar profesi
  2. Membuat laporan tertulis hasil pemeriksaan terhadap korban dan visum et repertum atas

permintaan penyidik kepolisian atau surat keterangan medis yang memiliki kekuatan

hukum yang sama sebagai alat bukti. pelayanan kesehatan dilakukan disarana kesehatan

milik pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat.

 

PEKERJA SOSIAL:

Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban.

  1. Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan
  2. Mengantarkan kotban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif
  3. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban

dengan pibak kepolisian,dinas sosial, lembaga sosial yang dibutuhkan korban. Pelayanan

pekerja sosial dilakukan di rumah milik pemerintah,pemerintah daerah atau masyarakat.

 

RELAWAN PENDAMPING:

Relawan pendamping aalah orang yang mempunyai keahlian untuk melakukan

konseling, terapi, dan advokasi guna penguatan dan pemulihan diri korban kekerasan.

Bentuk pelayanannya adalah:

? Menginformasikan pada korban akan haknya untuk mendapat seorang atau beberapa

orang pendamping

? Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan atau tingkat pemeriksaan

pengadilan dengan membimbing korban untuk secara objektif dan lengkap

memaparkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya.

? Mendengarkan secara empati segala penuturan korban sehingga korban merasa aman

didampingi oleh pendamping.

? Memberikan dengan aktif penguatan secara psikologis dan fisik pada korban.

PEMBIMBING ROHANI:

Memberikan penjelasan mengenai hak,kewajiban,dan memberikan penguatan iman dan

taqwa pada korban.

ADVOKAT:

Memberikan konsultasi hukum yang mencakup informasi mengenai hak-hak

korban dan proses peradilan

  1. Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan dalam

sidang pengadilan dan membantu korban untuk secara lengkap memaparkan

kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya

  1. Melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan pendamping, dan

pekerja sosial agar proses peradilan berjalan sebagaimana mestinya

 

PENGADILAN

  1. Ketua pengadilan dalam tenggang waktu 7 hari sejak diterimanya permohonan wajib

mengeluarkan surat penetapan yang berisi perintah perlindungan bagi korban dan anggota

keluarga lain, kecuali ada alasan yang patut.

  1. permohonan korban atau kuasanya, pengadilan dapat mempertimbangkan untuk:
  2. menetapkan suatu kondisi khusus, yakni pembatasan gerak pelaku, larangan

memasuki tempat tinggal bersama, larangan membuntuti, mengawasi atau

mengintimidasi korban.

 

  1. atau membatalkan suatu.kondisi khusus dari perintah perlindungan.
  2. Pertimbangan pengadilan dimaksud dapat diajukan bersama dengan proses pengajuan

perkara kekerasan dalam rumah tangga.

  1. Pengadilan dapat menyatakan satu atau lebih tambahan perintah perlindungan. Dalam

pemberian tambahan perintah perlindungan, pengadilan wajib mempertimbangkan

keterangan dari korban, tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping dan atau

pembimbing rohani.

  1. Pertimbangan bahaya yang mungkin timbul, pengadilan dapat menyatakan satu atau lebih

tambahan kondisi dalam perintah perlindungan dengan kewajiban mempertimbangkan

keterangan dari korban, tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping, dan atau

pembimbing rohani.

 

  1. PEMULIHAN KORBAN

Untuk kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari:

  • Tenaga kesehatan: Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan standar

profesi dan dalam hal korban memerlukan perawatan, tenaga kesehatan wajib

memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban

Pekerja sosial; Relawan pendamping; Pembimbing rohani: Pekerja sosial, relawan

pendamping dan atau pembimbing rohani wajib memberikan pelayanan kepada

korban dalam bentuk pemberian konseling untuk menguatkan dan atau memberikan

rasa aman bagi korban.

Navigation