Artikel Kesehatan


04-08-2014 | Hit : 4191


KUMAN PENYEBAB KERACUNAN MAKANAN
Oleh: Muchlis Achsan Udji Sofro

Di Brebes, sebelas warga Desa Karangmalang Kecamatan Ketanggungan dilarikan ke Puskesmas dan PKU Muhammadiyah setempat untuk mendapatkan perawatan karena keracunan ponggol (nasi bungkus). Ada 130 warga desa lainnya yang mengalami keracunan makanan. Namun tidak semuanya memerlukan perawatan. (Suara Merdeka 15 Februari 2013).
 
Gejala dan tanda keracunan makanan yang dialami oleh mereka adalah: kram perut, mual, muntah, diare dan demam atau pusing (sakit kepala). Sebagian mengalami kelemahan umum akibat kekurangan elektrolit Kalium dan natrium. Yang memerlukan perawatan di Puskesmas maupun Rumah sakit, biasanya karena dehidrasi (kekurangan cairan) akibat muntah dan diare yang terus menerus. 
 
Keluhan kram perut, mual, muntah dan pusing biasanya terjadi selang waktu satu jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman. Sedangkan gejala diare (berak-berak dengan frekuensi > 5x, konsitensi feses lembek, kadang hanya air yang keluar, kadang campur lendir dan darah) baru akan timbul setelah 3 jam makan makanan terkontaminasi. 
 
Penyebab
Mengapa makanan bisa menimbulkan keracunan ? Biasanya karena mengandung kuman atau mikrooranisme. Kuman yang sering menyebabkan keracunan makanan antara lain: Campylobacter enteritis, kolera, , Staphylococcus aureus, Shigella, Listeria monocytogenes dan Salmonella. Disamping itu dapat disebabkan oleh virus: Norovirus dan Rotavirus.
 
Campylobacter enteritis, sering menyebabkan infeksi di saluran pencernaan. Bakteri ini sering menjadi penyebab diare pada pelancong (travellers) dan keracunan makanan. Masuk ke tubuh melalui air yang diminum, makanan ternak, produk olahan segar, dan susu yang tidak dipasteurisasi. Dapat pula melalui kontak yang erat dengan binatang peliharaan. 
 
Bila dicurigai terdapat infeksi oleh Campylobacter enteritis maka diperlukan pemeriksaan darah rutin lengkap dengan hitung jenis, pemeriksaan feses rutin adakah ditemukan sel darah putih, dan pemeriksaan kultur feses yang ditemukan Campylobacter enteritis.
 
Infeksi oleh kuman ini seringkali sembuh dengan sendirinya dan tidak memerlukan antibiotic. Akan tetapi dalam keadaan berat (gejala yang menonjol: muntah, diare, demam, dan lemah) diperlukan antibiotic: ciprofloxacin dan azithromycin.  
Penyebab keracunan berikutnya adalah E. coli enteritis. Kuman ini menyebabkan peradangan (inflamasi) usus halus. Sering menyebabkan terjadinya traveler’s diarrhea (diare pada wisatawan). E coli enteritis yang menyebabkan keracunan makanan biasanya jenis (strain) E. coli 0157:H7. Ini dapat menimbulkan keracunan makanan yang berat.
 
Bakteri ini dapat masuk ke tubuh melalui daging atau peternakan ayam, air yang tercemar kotoran hewan, dan pengolahan makanan yang tidak higienis, baik di rumah maupun restoran.  Melalui makanan yang disimpan terlalu lama di lemari es atau suhu lemari es yang kurang optimal.
 
Salmonellosis salah satu bentuk keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella. Terdapat beberapa macam jenis bakteri ini, diantaranya Salmonella serotype Typhimurium dan Salmonella serotype Enteridis. 
 
Kita dapat terserang Salmonellosis setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri ini melalui: juru masak yang tidak cuci tangan atau sedang terinfeksi Salmonellosis, atau petugas tidak cuci tangan dengan sabun setelah keluar dari toilet. Dapat tertular setelah kontak dengan feses kucing yang mengalami diare akibat Salmonellosis. Beberapa binatang melata seperti: reptile, ayam potong, bebek, dan tikus kecil seperti Hamsters sering menjadi pembawa bakteri ini. 
Keracunan makanan dapat disebabkan oleh Shigella (Shigelosis), bakteri yang menghasilkan toksin (racun) yang dapat menyerang permukaan usus besar, sehingga menimbulkan ulkus (luka lecet) di dinding usus. Akibatnya timbul diare bercampur darah. 
 
Inilah khasnya keracunan makanan akibat Shigelosis: diare disertai darah, kram pada perut, demam tinggi, nafsu makan menurun, mual muntah dan nyeri pada pergerakan usus. Pada kasus Shigelosis yang berat, pasien dapat mengalami kejang, leher kaku, sakit kepala, “nglungkrah” (merasa sangat lelah), dan kesadaran menurun. Hal ini sering menyebabkan dokter menduga sebagai meningitis (infeksi di selaput otak).
 
Pada sebagian kasus, dapat memicu dehidrasi berat (kekurangan cairan) atau komplikasi lain berupa artritis (nyeri sendi), bintik-bintik merah (rash) di kulit, dan gagal ginjal akut. Oleh karena itu, bila keracunan makanan dicurigai ke arah Shigelosis, maka harus segera dirawat di Rumah Sakit. 
 
Disamping bakteri, penyebab keracunan makanan adalah Norovirus dan Rotavirus. Bagaimana virus tersebut dapat masuk ke tubuh kita? Biasanya melalui air yang tercemar, makanan yang terkontaminasi oleh kotoran tinja, makanan yang dimasak setengah matang (telur, daging, ikan laut, susu), dan saat berbagi tempat atau sarana bermain anak.
 
Dapat pula masuk melalui makanan mentah seperti: sayuran untuk lalapan, telur mentah yang dimanfaatkan untuk jamu (STMJ: susu telur madu jahe), susu yang langsung diminum setelah diperah. Atau melalui makanan dalam keleng yang terkontaminasi, serta penyaji atau juru masak yang kurang memperhatikan hygiene dan sanitasi saat mengolah masakan. 
Siapa saja yang mudah terkena keracunan makanan? Terutama bayi dan orang tua serta individu dengan penurunan daya tahan tubuh, penderita penyakit ginjal kronik, pasien kencing manis (Diabetes mellitus), ibu hamil atau seseorang yang bepergian ke luar negeri (travellers). 
 
Penanganan
Tujuan penanganan keracunan makanan adalah memberikan rasa yang lebih nyaman dengan mengurangi gejala (mual, muntah, panas, nafsu makan turun, diare), dan mengatasi dehidrasi (kekurangan cairan).
Mengurangi gejala dengan pemberian obat simptomatis (penghilang gejala: anti mual, anti muntah, penurun panas, penambah nafsu makan, dan obat diare).
 
Untuk mengatasi diare dengan minum 8-10 gelas air setiap hari. Minum paling tidak 1 gelas air setiap kali diare. Konsumsi makanan yang berasa asin: sup, dan minuman yang mengandung elektrolit (Kalium, Natrium). Makan buah yang mengandung banyak kalium: pisang, tomat, melon dan jus buah kombinasi. 
 
Konsumsi norit (arang aktif) dapat membantu penyerapan racun yang terlanjur masuk ke perut. Norit hanya efektif untuk keracunan makanan yang masih berada di lambung dan usus. Kalau racun sudah terlanjur menyebar ikut aliran darah tentu norit tidak efektif lagi. 
 
Minum air kelapa hijau menjadi salah satu upaya untuk menangani dehidrasi pada keracunan. Air kelapa hijau mengandung elektrolit yang diperlukan tubuh. 
 
Selama keracunan sebaiknya tidak memberikan makanan padat terutama kalau penderita masih mual dan muntah. Akan lebih baik jika diberikan makanan yang lunak (bubur) atau cair dan dalam porsi kecil dengan frekuensi pemberian disesuaikan nafsu makan penderita. 
 
Hindari pemberian minuman yang mengandung kafein atau terlalu manis. Hindari pula pemberian makanan dan minuman yang berkemungkinan memicu alergi pada penderita keracunan. ****
Dr Muchlis AU Sofro, SpPD-KPTI, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi –FK UNDIP Semarang. 



Navigation