Artikel Kesehatan


14-06-2012 | Hit : 17233

Seni melukis tubuh atau yang lasim disebut tato belakangan semakin digemari masyarakat terutama untuk alasan artistik. Lihat saja sejumlah artis di Indonesia yang begitu bangga dengan tato mereka seperti Olla Ramlan, Tora Sudiro dan masih banyak lagi. Masyarakat pun banyak yang mengikuti mereka. Masalah muncul ketika seseorang (bertato) dihadapkan pada kondisi dimana ia harus menghapus lukisan di tubuhnya.

Dr Najatullah Sp dari RSUP Kariadi Semarang membongkar seluk beluk mengenai penghapusan tato. Sebagai ahli bedah, dia sudah kerapkali diminta oleh pasien untuk menghilangkan tato di tubuh mereka. "Biasanya untuk berbagai alasan. Sebagai misal tuntutan pekerjaan, karena ingin menjalankan ibadah umroh dan lain sebagainya. Penghapusan akan disesuaikan dengan kebutuhan pasien," ujar Najatullah.

 Ada dua metode dalam menghilangkan tato yaitu bedah dan non bedah. Tentu keduanya juga memiliki kelebihan dan kekurangan (resiko) masing-masing. Penghapusan tato dengan melakukan pembedahan memiliki konsekuensi adanya bekas luka di tubuh.
Najatullah menerangkan, jika tato di tubuh kecil, maka yang dilakukan adalah mengangkatnya kemudian dilakukan penjahitan. Sudah tentu akan ada bekas jahitan di tubuh pasien.

Sedangkan jika tato cukup besar, cara yang dilakukan adalah dengan menambal tato pasien. Untuk itu bekas lukanya akan semakin kentara apalagi biasanya bagian tubuh yang diambil untuk menambal tato tidak memiliki warna yang sama dengan bagian tubuh yang ditato.

"Kelebihan dari penghapusan tato dengan menggunakan metode bedah adalah karena prosesnya cuma satu kali angkat. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan juga akan lebih murah. Namun metode ini memang meninggalkan bekas di kulit," jelas Najatullah.
Saat ini, pilihan paling standar dan dianggap sebagai cara paling tepat adalah metode laser yang merupakan salah satu cara penghilangan tato non bedah. Dengan laser, bekas tato bisa hilang sama sekali atau terkadang masih meninggalkan jejak, namun hanya berupa warna putih (seperti panu) di kulit. Ini tak bisa dihindari karena dengan dilaser, jaringan kulit tetap ada yang mengalami kerusakan, terutama jika tinta tato masuk cukup dalam ke pigmen-pigmen kulit.

Tak jarang jika tinta terlalu masuk ke dalam pigmen, upaya menghilangkan dengan metode laser harus dilakukan dalam beberapa kali sampai benar-benar bersih. Jarak antara pemberian laser tahap pertama dengan tahap berikutnya biasanya selama tiga pekan atau sampai luka benar-benar mengering. Sudah barang tentu biaya yang dikeluarkan pun akan semakin besar.

Selain karena tinta yang masuk ke pigmen kulit terlalu dalam, warna tato juga mempengaruhi kesulitan dalam penghapusannya. Najatullah mengungkapkan, warna yang paling sulit dihilangkan adalah kuning dan biru muda.

Ia menyarankan, agar penghapusan tato lebih aman maka saat proses berlangsung harus ada peralatan emergency sebagai antisipasi terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ini berkaca pada kasus yang terjadi baru-baru ini di Banyumas dimana seorang gadis bernama Sinta Dewi mesti meregang nyawa saat menghapus tato di tubuhnya.

Selain laser, cara lain untuk menghilangkan tato dengan metode non bedah adalah mentato ulang atau kamuflase. Dalam hal ini, bagian tubuh yang akan dihilangkan tatonya ditato ulang dengan menggunakan warna serupa kulit. Cara yang terakhir untuk menghilangkan tato adalah dengan memberikan make up sesuai warna kulit.
 
sumber: Warta  Jateng

Navigation