Artikel Kesehatan


25-10-2017 | Hit : 78

MAU OPERASI AJA KOK RIBET ?
Oleh : dr. Heru Dwi Jatmiko, Sp.An KAKV KAP
KSM Anestesi RSUP dr.Kariadi, Semarang

Semarang--(25/10/2017) Pertanyaan yang sering muncul dalam benak sebagian orang ketika akan melakukan sebuah rangkaian yang menurut sebagian besar dari masyarakat sangat mengerikan adalah "OPERASI"

undefinedoperas

Kenapa ketika kita akan menjalani prosedur operasi kok prosesnya panjang, terkesan bertele-tele. dr. Heru Dwi Jatmiko, Sp.An KAKV KAP, dari KSM Anestesi RSUP dr.Kariadi, Semarang sedikit memberi gambaran persiapan operasi yang ada di RSUP Dr. Kariadi. Seorang dokter anestesi (dokter yang membius pasien) akan melakukan kunjungan ke pasien sebelum operasi, namanya preanestesi visite. Pada saat itu, dokter anestesi akan menanyakan dan memeriksa banyak hal terhadap pasien.

Dalam melakukan wawancara , dokter anestesi akan menanyakan AMPLE kepada pasien. Apa itu AMPLE ?
1. Alergi
2. Medikasi
3. Past Illness
4. Last Meal
5. Exposure


Yang pertama, Alergi. Dokter akan menanyakan riwayat alergi pasien. Kenapa? Karena pada pasien dengan riwayat alergi, kemungkinan untuk mengalami alergi yang diakibatkan oleh obat bius akan lebih besar. Sebagai contoh, pasien alergi obat penisilin, ternyata saat pembiusan pasien juga alergi terhadap obat biusnya. Hal ini tentunya sangat dihindari oleh semua orang, terutama pasien dan dokternya. Karena komplikasi alergi bisa fatal, bisa sebabkan kondisi melepuh di seluruh badan yang banyak dikenal sebagai Sindrom Steven Johnson, atau bahkan bisa menyebabkan kondisi gawat pada pasien, yang sering disebut sebagai Syok Anafilaktik. Syok Anafilaktik ini bisa menyebabkan kematian.

Yang kedua, Medikasi. Dokter RSUP Dr. Kariadi akan menanyakan riwayat pengobatan yang dialami pasien. Beberapa obat akan berpengaruh terhadap obat bius yang akan diberikan ke pasien. Pasien yang terbiasa konsumsi alkohol atau menyalahgunakan psikotropika, akan lebih tinggi toleransinya terhadap obat bius. Pada pasien yang seperti diatas, dosis obatnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak pernah konsumsi alkohol atau obat psikotropika.

Yang ketiga, riwayat sakit yang pernah dialami. Hal ini penting untuk ditanyakan, karena bisa pengaruh tehadap proses pembiusan, bahkan saat obat bius sudah tidak diberikan. Jadi bagaimana maksudnya?

Sebagai contoh, pasien yang pernah dioperasi jantungnya karena kelainan jantung, dokter akan pertimbangkan dengan matang-matang untuk memberikan obat yang berpengaruh terhadap fungsi jantungnya, meskipun pada pasien biasa obat ini tidak berpengaruh. Contoh lain, pasien dengan riwayat sakit kencing manis, beberapa obat akan menambah jumlah gula dalam darah pasien.

Yang keempat, lamanya pasien puasa. Puasa disini berarti puasa makan dan minum. Apabila pasien makan besar, contohnya nasi beserta lauknya, maka minimal puasanya 6 jam. Kenapa ? Karena pengosongan lambung terhadap makanan besar, secara umum memerlukan waktu 6 jam. Terus apa hubunganya puasa dengan operasi? Hal ini lebih berkaitan dengan efek yang akan ditimbulkan jika pasien dibius dalam kondisi lambung penuh, yakni keluarnya makanan dari lambung ke paru-paru. Jika makanan yang dari lambung masuk ke paru-paru maka, lubang dalam paru-paru akan tertutup dan hal ini akan menyebabkan oksigen tidak bisa masuk ke paru. Jika oksigen tidak bisa masuk ke paru, dipastikan oksigen tidak bisa masuk ke otak dan ke bagian tubuh lain, jika tidak ada oksigen yang bisa masuk ke tubuh, maka pasien akan meninggal.

Yang kelima, kondisi terkini pasien. Pasien yang sedang mengalami demam, akan berbahaya jika dilakukan pembiusan. Lho kenapa? Karena bisa memperparah demamnya bahkan bisa memunculkan komplikasi yang lebih parah. Contohnya pasien bisa kejang, atau pasien bisa masuk kedalam kondisi yang sangat buruk yakni hipertermi maligna. Hipertermi maligna merupakan suatu kondisi dimana suhu tubuh naik secara cepat, meningkatnya kekakuan otot, denyut jantung yang sangat cepat, dan kadar asam dalam tubuh sangat tinggi. Komplikasi ini sangat mungkin menyebabkan kematian. Contoh yang lain, pasien yang sedang batuk pilek dilakukan pembiusan. Hal ini juga sangat berbahaya, terutama pada pasien anak. Kondisi batuk pilek bisa merupakan gambaran umum bahwa paru-paru pasien sedang dalam kondisi yang tidak baik. Komplikasi yang berat pada kondisi ini adalah paru-paru terisi penuh dengan lendir dan akhirnya oksigen kesulitan untuk bisa masuk ke darah, yang akan menyebabkan kondisi kekurangan oksigen yang parah, hal ini juga akan menyebabkan kondisi kritis.

Pada tahapan selanjutnya pasien akan diperiksa kondisi fisik dan mentalnya secara optimal. Kondisi fisik yang tidak optimal , akan menyebabkan hasil yang tidak optimal juga. Hal ini terutama berkaitan dengan kondisi jantung, paru dan otak pasien. Darimana dokter tahu kondisi jantung, paru dan otak pasien? Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien. Maka akan didengarkan bunyi jantung pasien, ada bunyi yang seharusnya tidak ada pada pasien itu atau bunyi jantungnya baik-baik saja. Lalu dilakukan pemeriksaan paru, juga dengan mendengar bunyi paru, adakah bunyi tamabahan pada parunya. Lalu bagaimana menilai fungsi otak? Hal paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan meminta pasien menjawab pertanyaan dokter, jika jawaban masih sesuai dengan pertanyaan kemungkinan fungsi otak secara umum ma baik.

Setelah itu ada tahapan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang berarti pemeriksaan yang bersifat menunjang kecurigaan dokter terhadap kondisi tertentu yang ada pada pasien. Pada pemeriksaan ini memerlukan waktu yang cukup lama dan kadang membuat pasien kesal menunggu. Mulai dari mengantri giliran sampai menunggu keluar hasil pemeriksaanya. Apa saja pemeriksaan penunjang RSUP Dr. Kariadi yang diperlukan?
1. Laboratorium
2. Radiologi
3. Rekam jantung

Setidaknya ada 3 hal diatas pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan.

Yang pertama, pemeriksaan laboratorium. Secara umum pasien yang akan dilakukan tindakan operasi akan dilakukan pemeriksaan laboratorium terutama pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah ini membuat pasien tidak nyaman, karena cara pengambilan darah sampai saat ini adalah dengan menyuntik pasien. Sebagai contoh, pada pasien yang akan dioperasi bagian perutnya, kemungkinan akan banyak mengeluarkan darah selama operasi, maka dibutuhkan data berapa modal darah yang dipunyai pasien. Dalam hal ini, modal darah yang dimaskud adalah hemoglobin, yakni zat didalam darah yang fungsinya mengangkut oksigen.

Yang kedua, pemeriksaan radiologi. Dalam hal ini, contoh pemeriksaan yang dilakukan yakni foto rontgen dada pasien. Tidak semua pasien memerlukan pemeriksaan ini sebelum operasi. Contoh pasien yang memerlukan pemeriksaan ini sebelum operasi yakni pasien yang sudah tua, pasien denga riwayat batuk, riwayat sesak. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat gambaran paru-paru pasien secara kasat mata.

Yang ketiga, pemeriksaan rekam jantung. Pemeriksaan ini disingkat dengan EKG (elektrokardiografi) yakni gambaran gelombang listrik pada jantung jantung pasien. Tentunya tidak semua pasien perlu pemeriksaan ini. Pasien-pasien dengan resiko sakit jantung yang diutamakan untuk dilakukan pemeriksaan ini. Kenapa harus di rekam jantung? Bukanya sudah dilakuakan pemeriksaan fisik diatas? Karena tidak semua bisa tergambar dengan jelas dengan pemeriksaan fisik, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan penunjang untuk mempertegas kecurigaan dokter terhadap kondisi pasien.

Itulah beberapa proses di RSUP Dr. Kariadi yang akan dilakukan terhadap pasien sebelum operasi. dr. Heru Dwi Jatmiko berharap dengan sedikit informasi dibagikan ini akan memberikan gambaran dan sedikit jawaban atas pertanyaan pasien. Jadi kenapa mau operasi kok ribet. Sebenarnya tidak begitu rumit, ibarat mau bepergian dengan mobil, maka harus dipastikan kondisi mobil baik, bensin cukup rem bekerja normal dll, semakin jauh perjalanan semakin berisiko jalan yang akan ditempuh maka persiapan harus lebih baik dan terkesan ribet Demi Keamanan, Keselamatan.

 

Navigation