Artikel Kesehatan


05-04-2019 | Hit : 43

Mengenal Bedah Estetik di Wajah

Oleh dr M Rizqy Setyarto SpB SpBP-RE(K) MARS dari RSUP dr Kariadi

undefinedwajah

Sahabat sehat, demi mendapatkan penampilan wajah yang lebih baik, lebih cantik atau tampan, terkadang seseorang tak hanya merawat kulit wajah secara rutin, tapi juga melakukan pembedahan alias operasi plastik untuk mendapatkanhasil maksimal.

Operasi plastik pada wajah terdiri atas dua jenis, yakni rekonstruksi dan estetika. Bedah plastik rekonstruksi dilakukan untuk memperbaiki cacat bawaan (sejak lahir) seperti bibir sumbing atau karena kecelakaan yang menyebabkan kerusakan pada wajah. Sementara untuk kepentingan estetika, yang paling sering dilakukan di Indonesia, khususnya di Semarang adalah operasi untuk memancungkan hidung, memperbaiki kelopak mata, baik bagian atas, bawah ataupun keduanya. Kemudian dagu, baik disedot lemaknya, dipanjangkan, ditiruskan atau pengikisan pada tulang untuk membentuk efek dagu terbelah dan lain sebagainya. Pada pipi, baik untuk mengencangkan maupun meniruskan, pada bibir, menipiskan atau menebalkan bibir, baik bibir bagian bawah, atas ataupun keduanya, serta operasi tarik wajah, pada dahi ataupun wajah dan dahi.

Adapun operasi plastik pada wajah yang jarang dilakukan adalah operasi rahang, baik rahang atas, bawah atau keduanya. Dalam prosesnya, hampir semua tindakan bedah, baik itu mengiris, menyayat, maupun menarik, akan memberi efek bengkak dan hematoma (lebam). Proses resolusi atau meredanya antara 10 sampai 14 hari. Setelah itu pasien akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan.

Bagaimana dengan efek wajah yang terkena pukulan atau hantaman? Apakah akan menghasilkan bengkak dan hematoma yang sama seperti proses pada operasi plastik? Tentu saja, karena semua tindakan yang mencederai akan menimbulkan trauma jaringan lunak. Hanya perbedaannya, lokasi bengkak dan lebam yang random, kecuali

pukulan atau hantaman diarahkan simetris. Misalnya kedua mata mendapat pukulan, maka keduanya akan mengalami lebam. Namun apabila salah satu mata mendapat pukulan lebih banyak atau lebih keras, otomatis akan menghasilkan lebam lebih parah. Semakin banyak trauma, masa resolusi pun akan semakin lama.

Pembedahan estetik tidak bersifat kegawatan, sehingga semua dilakukansecara terjadwal dan harus dikendalikan dengan baik. Karena itu, pasien harus melakukan beberapa persiapan sebelum menjalaninya. Pertama, dari segi obat-obatan. Hindari mengonsumsi obat-obatan jenis antikoagulan (biasanya dikonsumsi orang dengan riwayat penyakit jantung) atau aspirin, selama paling tidak dua minggu sebelum menjalani operasi. Obat-obatan tersebut memiliki efek pemanjangan masa perdarahan dan bengkak. Kedua, dari segi tindakan-tindakan.

Area yang akan dioperasi diistirahatkan dulu dari trauma mekanik atau kimia selama dua minggu sebelum operasi. Misalnya melakukan laser. Tindakan laser bisa menyebabkan kulit meradang; aliran darah dikulit meningkat, yang akan menyebabkan banyak perdarahan. Terakhir, dari segi kebersihan. Membersihkan atau menjaga area yang akan dioperasi tetap bersih. Misalnya pasien akan menjalani pembedahan meniruskan pipi. Karena tindakan tersebut biasanya mengambil lemak melalui mulut, maka area mulut harus bersih. Keadaan yang kotor akan memberi risiko infeksi yang besar.

Navigation