Artikel Kesehatan


26-04-2019 | Hit : 40

MENGENAL DAN MENJAGA KUALITAS HIDUP ODS

Oleh dr. Rakhma Yanti Hellmi SpPD dari RSUP Dr. Kariadi Semarang

 

 undefinedODS

 

Semarang Skleroderma berasal dari kata “scleros” yang berarti keras dan “derma” berarti kulit. Menurut penelitian, secara statistik, wanita yang menderita Skleroderma lebih banyak dibanding pria, dengan perbandingan 3:1, dan pada populasi perempuan lebih muda: laki-laki (7:1). Skleroderma dapat ditemukan pada setiap kelompok usia, dari bayi sampai orang tua, namun paling sering pada usia 25-55 tahun.   Belum terdapat data mengenai angka kejadiannya di Indonesia.

Penyebab pasti Skleroderma masih belum diketahui, diduga faktor jenis kelamin, ras dan latar belakang etnis, dapat memengaruhi risiko Scleroderma. Scleroderma adalah penyakit kronis, tidak menular, tidak menyebabkan infeksi, tidak bersifat kanker atau ganas, dan biasanya bukan karena keturunan. Meskipun Scleroderma tidak diwariskan/diturunkan secara langsung, namun diperkirakan faktor riwayat penyakit reumatik pada keluarga meningkatkan risiko.

Scleroderma digolongkan sebagai salah satu penyakit reumatik autoimun. Autoimun adalah keadaan dimana sistem kekebalan tubuh terlalu aktif secara tidak wajar, sehingga kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi diri dari bakteri, virus, dan serangan asing lainnya, justru menyerang dan menyebabkan kerusakan pada organ-organ sehat yang ada di dalam tubuh.

Pada orang dengan Scleroderma, proses autoimun dan kerusakan pembuluh darah yang dialami ODS menembulkan produksi kolagen yang berlebihan. Kolagen adalah protein utama dari jaringan ikat tubuh, seperti benang yang mengikat sel-sel menjadi satu. Kolagen ditemukan pada kulit, persendian, tendon dan bagian-bagian dari organ internal. Ketika produksi kolagen berlebihan, terjadi penebalan dan pengerasan daerah yang terkena yang pada akhirnya akan mengganggu fungsi normal dari bagian-bagian tubuh tersebut.

Secara garis besar, ada dua klasifikasi Scleroderma, yaitu Localised Scleroderma (Morphea) dan Scleroderma Systemic (Limited dan Diffuse). Ini bisa dibedakan dari gejalanya. Pada Localised Scleroderma (Morphea),  kulit tubuh mengalami penebalan, terlihat mengkilap, licin seperti lilin dan berwarna kemerahan atau kecoklatan. Perubahan ini biasanya hanya ditemukan di beberapa bagian tubuh, dan jarang menyebar di tempat lain. Penebalan-penebalan ini bisa membesar atau mengecil, dan sering menghilang secara spontan. Morphea biasanya muncul pada rentan usia antara 20-50 tahun, tetapi juga dapat menyerang anak-anak. Orang dengan Morphea jarang menjadi Scleroderma Sistemik.

Sementara Scleroderma Sistemik dapat menyerang kulit, pembuluh darah, otot, persendian, kerongkongan, saluran pencernaan (lambung dan usus), paru-paru, ginjal, jantung dan organ internal lainnya. Jaringan yang terkena menjadi keras dan berserat, menyebabkan fungsi dari organ-organ tersebut menjadi menurun. Setiap penyakit kronis merupakan penyakit yang serius.

Gejala Scleroderma sangat bervariasi pada tiap individu. Efek Scleroderma dapat berkisar dari sangat ringan sampai mengancam kehidupan. Beratnya penyakit tergantung pada bagian tubuh mana yang terkena dan sejauh mana bagian tubuh tersebut terpengaruh. Pada beberapa kasus, Scleroderma menyerang kulit dalam beberapa tahun, kemudian menyebar ke organ internal. Diagnosis yang cepat, tepat, dan pengobatan oleh dokter spesialis yang tepat akan meminimalkan gejala-gejala Scleroderma dan mengurangi kerusakan yang irreversible/tidak bisa disembuhkan.

Mendiagnosa Scleroderma bisa sangat sulit, terutama pada tahap awal. Banyak gejala yang termasuk umum, atau mungkin tumpang tindih dengan penyakit autoimun lain (overlaps), seperti tumpang tindih dengan  Rheumatoid Artritis (RA), Sjogren Syndrome (SS), Psoriasis, atau Lupus (SLE). Terkadang dibutuhkan diperlukan beberapa kali tes untuk dapat membuktikannya.

Penatalaksanaan scleroderma tergantung berdasarkan keterlibatan organ yang terkena. Pengobatan utama menggunakan “immunosuppressive” untuk menanggulangi agresifitas penyakit. Beberapa obat yang dapat digunakan yaitu methotrexate, siklofosfamid, azathioprine, mikofenolat mofetil,siklosporin, serta obat agen biologik seperti rituximab, basiliximab, atau dengan transplantasi stem sel( masih dalam penelitian).

Pada pasien scleroderma, pengendalian stress fisik maupun psikis sangat membantu pengobatan. Gejala lain pada scleroderma diantaranya terdapatnya kebiruan serta timbulnya luka pada ujung-ujung jari, yang dinamakan sindrom  Raynaud. Sindrom Raynaud akan makin terlihat jika pasien kedinginan,sehingga dianjurkan pada pasien scleroderma untuk senantiasa menjaga kehangatan ujung jari kaki dan tangan, bisa dengan menggunakan sarung tangan atau kaus kaki. Pada beberapa pasien akan timbul pula gangguan pergerakan dari kerongkongan karena efek scleroderma, sehingga muncul rasa begah atau sulitnya makanan untuk masuk kedalam lambung. Pada kasus seperti ini dapat diatasi dengan makan sedikit namun sering, diikuti dengan minum hangat, makan terakhir paling tidak 3 jam sebelum tidur serta penggunaan obat-obatan simptomatis. Jika sklerodermanya telah melibatkan paru-paru, dapat muncul gejala sesak jika kedinginan atau aktifitas yang berlebihan, hal ini dapat ditanggulangi dengan menghindari kedua hal yangmencetuskan tersebut, nebulizer, serta fisioterapi. Rokok sebaiknya dihindari oleh ODS, baik sebagai perokok pasif apalagi aktif.

Dimasyarakat awam sering timbul kesalahpahaman mengenai scleroderma, diawal sakit, karena timbulnya bintik-bintik putih dikulit sering disalahpahami dengan panu dan sejenisnya, serta penghindaran diri dari lingkungan karena takut menular. Skleroderma tidak menular. Ada pula anggapan dimasyarakat bahwa ini penyakit kutukan sehingga kulit kaku dan menghitam, sehingga mereka justru mencari pengobatan yang kurang tepat.
      

 

Navigation