Artikel Kesehatan


20-11-2017 | Hit : 31

METODE BARU PENANGANAN NYERI

DENGAN MENGGUNAKAN MESIN POMPA OBAT PCA

DR. Dr. M. Sofyan Harahap, Sp.An KNA

 

Nyeri merupakan salah satu alasan utama pasien mencari pertolongan medis. Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dan berkepanjangan dapat menyebabkan stres, gelisah, cemas,  depresi, sulit tidur yang mengganggu kualitas hidup seseorang, bahkan dapat menimbulkan komplikasi serangan jantung ataupun stroke. Nyeri dapat terjadi akibat berbagai sebab, baik akibat rangsang dari luar seperti kecelakaan dan luka pembedahan ataupun dari dalam akibat penyakit kanker, psikis, infeksi, peradangan organ dalam, gangguan saraf dan sebagainya.

Seperti halnya riset mengenai kanker, pengelolaan penanganan nyeri pun terus berkembang. Berbagai teknik atau metode serta obat-obatan terus dikembangkan guna pengelolaan nyeri yang lebih baik untuk pasien. Secara medis obat pereda nyeri dibagi menjadi golongan narkotik/opioid, non narkotik/opioid dan tambahan. Tiap obat  memiliki indikasi, kontraindikasi dan efek samping penggunaan. Pemakaian obat tersebut tentunya disesuaikan dengan kondisi pasien. Selain dengan penggunaan obat, metode lain penanganan nyeri antara lain terapi pembedahan, fisioterapi akupuntur, akupresur, terapi dingin dan panas, relaksasi, pijat, terapi elektrik, hipnosis dan sebagainya.

Obat pereda nyeri (analgetik) dapat diberikan dengan cara diminum (puyer, tablet dan sirup), ditempelkan di kulit, disuntikkan di pembuluh darah, otot, kulit ataupun di celah antar tulang punggung. Pemberian obat tersebut selama ini ditentukan oleh petugas medis dengan dosis lazim yang terkadang belum optimal, di mana masih menimbulkan nyeri pada sebagian pasien. Hal tersebut dapat dipahami mengingat nyeri bersifat subyektif dan invidualistik serta dipengaruhi banyak faktor, di mana ambang dan respon kepekaan nyeri seseorang berbeda dengan yang lain. Sehingga penanganan nyeri yang baik seharusnya bersifat lebih fleksibel dan dinamis sesuai dengan kepekaan pasien. Hal inilah yang menjadi dasar dikembangkannya PCA (Patient Controlled Analgesia), di mana pasien diberikan andil/peran dalam menambah dosis obat analgetik ketika ia masih merasa nyeri dengan dosis yang sudah diberikan/diatur petugas medis.

PCA merupakan metode baru pemberian obat pereda nyeri, yang disesuaikan kebutuhan pasien dan dikendalikan sendiri oleh pasien dengan atau tanpa disertai infus kontinyu. Mesin PCA merupakan mesin pompa obat yang dihubungkan dengan jalur infus, yang berfungsi menghantarkan obat sesuai dengan dosis yang telah diprogramkan pada alat. Bila pasien masih merasa nyeri dengan dosis yang diberikan, maka pasien cukup menekan tombol yang terdapat pada mesin PCA tersebut dan mesin akan segera memasukkan obat. Tentunya dokter sebagai penanggung jawab pemberian obat, telah mengatur agar dosis yang diberikan efektif dan aman untuk pasien dan tidak melebihi dosis. Mesin PCA dilengkapi fitur keamanan pengaturan konsentrasi, dosis, interval waktu pemberian serta dosis maksimal untuk mencegah overdosis obat.

undefinedpc

Kelebihan pemberian obat pereda nyeri dengan mesin PCA dapat lebih efektif dalam mengatasi nyeri dibandingkan metode konvensional. Penanganan nyeri yang baik dapat membantu mempercepat pemulihan pasien dan mempersingkat lama perawatan di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan di RSUP Dr Kariadi Semarang menunjukkan bahwa penggunaan PCA sebagai pereda nyeri pasca operasi pengangkatan payudara lebih efektif dan aman dengan tingkat kepuasan pasien yang lebih tinggi dibandingkan pemberian pereda nyeri secara konvensional.

PCA sudah secara luas digunakan sebagai terapi pereda nyeri baik di dalam maupun luar negeri. PCA selain digunakan sebagai terapi nyeri pasca operasi juga sebagai penanganan nyeri kronis pada pasien kanker. Pada beberapa RS, PCA dapat dibawa pulang oleh pasien tentunya dengan edukasi dan pengawasan berkala guna memantau hasil pengobatan, efek samping dan mencegah penyalahgunaan.

Dengan adanya kemajuan teknologi di bidang penanganan nyeri, maka pasien tidak perlu khawatir/takut sakit setelah operasi. Tentunya ketersediaan alat canggih ini belum merata di semua rumah sakit, sementara ini hanya tersedia di rumah sakit besar.

 

 

Navigation