Artikel Kesehatan


01-04-2019 | Hit : 80

Pemeriksaan Laboratorium Leptospirosis

 

Leptospira hanya beredar dalam sirkulasi darah penderita selama minggu pertama sejak mulai timbul gejala penyakit. Selanjutnya akan penetrasi ke  jaringan organ-organ tubuh sekitar hari ke 7-10 hari atau lebih, sehingga leptospira dapat ditemukan pula di urin, LCS, dan organ lain. Pemeriksaan laboratorium berupa deteksi /isolasi leptospira  ( mikroskopis, kultur atau PCR) dan atau deteksi respon antibodi spesifik terhadap leptospira/ serologi  (rapid diagnostic test, MAT, ELISA ).

Diagnosis laboratorium leptospirosis dapat ditinjau  dengan dua cara yaitu Aspek Klinis dan Aspek Epidemiologis. Aspek Klinis dengan tes skrining untuk diagnosis presumtif apakah seseorang menderita leptospirosis atau bukan. Sedangkan  Aspek Epidemiologis, pemeriksaan konfirmasi laboratorium yang lebih lengkap, misalnya misal kultur, MAT, dan PCR untuk mengisolasi & identifikasi jenis Leptospira, penyebab, mencari sumber infeksi dan reservoir di lingkungan untuk melangkah ke tahap pencegahan dan pengendalian.

Deteksi Leptospira juga dapat dilakukan dengan mikroskop medan gelap (Dark Field Microsope/DFM). Metode ini relatif mudah untuk memeriksa spesimen klinik (darah, sedimen urin, lcs,  jaringan) dengan memakai mikroskop medan gelap. Namun, metode ini sering memberi hasil  positif palsu. Hal ini disebabkan oleh artefak/ filamen protein yang menyerupai leptospira (pseudoleptospira). Kelemahan lain metode ini, yaitu rendahnya sensitivitas  (20%–40%) dan spesifitas (30%–60%), karena konsentrasi organisme yang rendah dalam spesimen, serta membutuhkan keahlian tinggi , karena itu  hasilnya sering meragukan.

Leptospira dapat juga dikultur dari spesimen darah, urin pancar tengah, LCS, cairan hemodialisis dan jaringan dengan berbagai macam medium selektif, antara lain Ellinghausen - McCullough, modified by Johnson and Harris (EMJH) atau Fletcher. Medium yang telah diinokulasi diinkubasi pada suhu 28C–300C selama minimal tujuh hari hingga maksimal 26 minggu dan secara periodik dilakukan subkultur.

Diagnosis definitif leptospirosis dapat ditegakkan bila bakteri tersebut disebabkan oleh leptospira patogen yang dapat dikultur dari spesimen klinik. Sebagian besar penyakit infeksi, pemeriksaan kultur merupakan baku emas. Namun metode ini tidak dapat memberi kontribusi yang bermakna untuk diagnosis dini leptospirosis pada individu karena pertumbuhan bakteri leptospira sangat lambat. Ini karena nilai sensitivitasnya rendah untuk mendeteksi bakteri tersebut di dalam darah atau spesimen lain.

Dewasa ini pemeriksaan real-time Polymerase chaín reaction (PCR) berbasis penggunaan berbagai  target gen-gen leptospira pathogen dalam darah dan jaringan telah digunakan secara rutin. Tujuannya untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan epidemiologi molekuler leptospirosis. Berdasarkan Ahmed et al dari Koninklijk Instituut voor de Tropen / KIT Department of Biomedical Research, Amsterdam, the Netherlands menyatakan telah mengembangkan dan memvalidasi teknologi real-time PCR berbasis SYBR Green dengan target  secY gene. Dengan kultur sebagai baku emas, metode ini memberi hasil sensitivitas diagnostik 100% dan spesifitas diagnostik 93% dari spesimen  darah pada hari 1 - 4 masa sakit. Metode ini sangat cepat dan sangat spesifik sehingga memberi konstribusi penting dalam diagnosis dan terapi dini.

Di beberapa laboratorium Mikrobiologi diagnosis leptospirosis terutama tergantung pada pemeriksaan serologi. Pemeriksaan serologi yang sering digunakan adalah Microscopic Agglutination Test (MAT), Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), di samping pemeriksaan Immuno-fluorescent antibody test, Macroscopic Slide Agglutination Test (MSAT) serta Enzyme Immuno Assay. Metode pemeriksaan ini selain tidak mudah pengerjaannya, juga memerlukan peralatan khusus, serta petugas yang terlatih.

Sedangkan IgM- Lepto Dipstick assay dan dua tes inovatif yaitu lateral flow dan latex-based assay. Tes imunologis ini  mendeteksi Leptospira specific IgM antibodies dalam serum / plasma atau whole blood, berguna untuk diagnosis leptospirosis yang sedang atau baru saja terjadi. Prinsip kerja : RDT menggunakan prinsip immunochromatography. Reagen tes ini mengandung antigen spesifik-Leptospira yang rentang reaktifnya luas sehingga memungkinkan untuk mendeteksi secara kasar infeksi leptospirosis yang disebabkan oleh jenis-jenis strain dari berbagai serogroup yang berbeda.

Microscopic agglutination test (MAT) dianggap sebagai “baku emas” dalam diagnosis serologi leptospirosis karena  dapat mendiagnosis secara spesifik  pada level serogroup / serovar / strain  dibanding pemeriksaan serologi lain. Tes ini menetapkan titer antibodi dalam spesimen serum (dengan pengenceran bertingkat) yang akan teraglutinasi bila bertemu dengan antigen serogroup /serovar/ strain Leptospira yang sesuai.

Pemeriksaan leptospirosis  di  Laboratorium leptospirosis  RSUP Dr. Kariadi    Semarang

Mulai pertengahan tahun 2002 Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUP Dr. Kariadi mampu melakukan pemeriksaan kultur leptospira dan MAT. Jumlah strain untuk pemeriksaan MAT :  31 strains yang diperoleh dari KIT, Amsterdam,  merupakan strain-strain  Leptospira yang sebagian besar banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi di Indonesia. External Quality control   pernah dilakukan oleh  WHO  Reference  Center   Leptospirosis di KIT  Dept   Biomedical Research,Amsterdam.

Sejak berfungsinya laboratorium diagnosis leptospirosis telah menerima spesimen untuk konfirmasi diagnosis pasien yang diduga leptospirosis dari rumah sakit di Kota Semarang, RSU daerah (Kota Semarang, Kab. Demak, Pati dan Klaten),  Membantu konfirmasi diagnosis sampel serum dari sekitar 120 pasien-pasien KLB Leptospirosis di Provinsi DIY tahun 2011-2012. Terakhir, membantu konfirmasi diagnosis sampel serum dari sekitar 19 pasien-pasien KLB Leptospirosis di P.Madura baru-baru ini.

Selain itu juga membantu Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan Loka LitBang  Kemenkes – Banjarnegara dalam melakukan surveillance epidemiology leptospirosis di Jawa Tengah, antara lain pemeriksaan pada manusia dan sumber penularannya (tikus). Lainnya, membantu studi faktor-faktor risiko penularan Leptospirosis di Kota Semarang dan Kabupaten Demak dengan memeriksa samples darah untuk diagnosis leptospirosis pada kasus dan kontrol. Total telah diterima lebih dari 2000 samples  serum manusia dan tikus, serta     sekitar 100 pemeriksaan kultur leptospira dari jaringan ginjal tikus. (MKS)

Navigation