Berita Terbaru


09-01-2013 | Hit : 6558

Abses maksilofasial merupakan pembengkakan pada daerah rahang atau pipi. Tanpa penanganan yang tepat, akibatnya bisa sampai pada sepsis yakni kondisi dimana tubuh dipenuhi oleh bahteri. Pada saat seperti ini bisa terjadi septik syok atau syok yang diakibatkan oleh bakhteri yang menjalar ke seluruh tubuh.

Jika yang terserang otak bisa menyebabkan meningistis, kemudian sinus kavernosus jika yang terserang adalah daerah sekitar hidung, dan mediastinitis yaitu kondisi yang mengancam hidup karena area ini berisi jantung, pembuluh darah besar, batang tenggorok (trakea), kerongkongan, kelenjar timus, kelenjar getah bening, dan jaringan.
Spesialis bedah Mulut RSUP Kariadi, Drg Bambang Supriyanto mengungkapkan, abses sendiri merupakan pengumpulan nanah yang telah menyebar dari sebuah gigi ke jaringan di sekitarnya. Biasanya disebabkan karena suatu infeksi dan mengakibatkan gusi di dekat gigi tersebut membengkak.

Apabila abses terdapat di gigi depan bagian atas pembengkakan sampai ke ke kelopak mata. Saat abses menyerang gigi belakang atas, pembengkakan sampai ke pipi dan jika abses berada di gigi bawah,  maka akan menyebabkan bengkak sampai ke dagu dan telinga.

Akibatnya, karena sakit yang luar biasa, pasien sulit membuka mulut lebar dan tidak dapat mengunyah makanan. Akibat terparah tentunya sampai pada kematian. Untuk mengatasinya, sebagian besar kasus harus dilakukan pembedahan untuk mengambil nanah yang mengumpul. Sangat jarang yang bisa sembuh tanpa prosedur tersebut.

Penyebab abses lebih banyak karena karies atau gigi berlubang sehingga mudah terkena infeksi bakhteri. Kasus yang juga sering terjadi adalah karena pemasangan gigi palsu ke tukang gigi sehingga meninggalkan prosedur yang mestinya dilakukan.
"Untuk memasang gigi palsu harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Kemudian gigi lama yang sudah rusak mesti dibongkar dan dibersihkan sampai ke akar-akarnya. Baru setelah itu dibuatkan gigi palsu," ujar Drg Bambang.

Pasien cenderung melakukan pemasangan gigi palsu ke tukang gigi karena berbagai faktor seperti pengetahuan yang masih terbatas, keinginan untuk mendapatkan gigi secara cepat (tanpa melalui prosedur semestinya) dan keterbatasan dana. Karena untuk pemasangan gigi palsu ke dokter tentu diperlukan biaya yang lebih mahal.
Parah tidaknya penderita abses maksilofasial menurut Drg Bambang tergantung pada tiga hal. Yang pertama pasien itu sendiri. Jika pasien memiliki daya tahan tubuh yang bagus, maka pemulihan bisa berlangsung lebih cepat. Hal ini juga tergantung pada banyak hal. Sebagai misal kesadaran dari pasien mengenai kondisi kesehatannya, kondisi sosial ekonomi, dan kondisi lingkungan tempat tinggal.

Yang kedua jenis bahteri yang menyerang. Mulai dari kualitasnya (sangat kuat atau hanya bahteri yang lemah) sampai kuantitas. Jika jumlah bakhteri banyak tentu bisa menimbulkan kondisi pasien yang parah.
"Kadang, masalah justru ada pada dokter gigi yang menganggap enteng penyakit, atau salah kelola, dan ada pula yang tidak memiliki keberanian sehingga cenderung merujuk ke dokter lain sehingga penanganan terlambat," ujar Drg Bambang.
Pada intinya, pengelolaan abses maksilofasial harus dilakukan sejak awal. Pengelolaannya cepat, tepat, memadai dan simultan. Pengobatan harus dengan dosis dan pemberian yang tepat. Untuk pembedahan pun mesti sangat seksama mengingat letaknya di wajah sehingga harus mempertimbangkan segi estetika.

Yang pasti, ditegaskan Drg Bambang, yang terbaik adalah mencegah agar jangan sampai terjadi abses maksilofasial. Upaya preventif dimulai dari hal yang sangat mudah yakni berkumur setelah makan untuk mencegah plak, dan menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur dengan cara yang benar. Jika terdapat gigi yang berlubang, mestinya segera ditambal karena akan menjadi sumber inveksi. Penambalan pun harus dilakukan dengan baik karena kadangkala dokter melakukan dengan tidak sempurna.
Yang tak kalah penting adalah menjaga pola makan. Sebagai misal jangan terlalu sering menyantap hidangan yang mudah lengket di gigi seperti kue atau roti. Sayur dan buah lebih sehat untuk gigi kita.

[sumber: warta jateng]

Navigation