Artikel Kesehatan


14-06-2012 | Hit : 4511

Stroke berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2008 merupakan penyakit pembunuh pertama di Indonesia mengalahkan TBC. Siapapun bisa terkena penyakit ini. Dari mulai tukang becak hingga tokoh terkenal seperti mantan presiden Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang akhirnya meninggal karena stroke. Sayangnya, pengenalan mengenai jenis penyakit ini di masyarakat masih sangat minim.

 

Stroke disebabkan oleh dua hal yaitu penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Saat seseorang terkena stroke, ada jarak tiga hingga enam jam yang sangat menentukan apa akibat yang ditimbulkan setelah serangan terjadi. Jika dalam rentang enam jam tersebut tidak segera mendapatkan perawatan memadai, akibat paling fatal tentu adalah kematian.

 

"Jadi pada saat seseorang mengalami tanda?tanda terserang stroke, dia harus segera di bawa ke rumah sakit yang memiliki peralatan lebih lengkap, bukan praktek dokter. Itu merupakan jalan satu?satunya untuk meminimalisasi dampak yang timbul setelahnya," ujar Dr Dodik Tugasworo Sp.S dari Bagian Saraf RSUP Kariadi Semarang.

 

Menurutnya, di masyarakat memang banyak sekali mitos?mitos penanganan secara tradisional saat muncul gejala stroke. Sebagai misal yang terkena tanda?tanda penyakit ini disuruh berdiri sendiri tanpa bantuan atau ditusuk ujung jarinya dengan menggunakan jarum untuk mengeluarkan darah orang tersebut sehingga peredarannya kembali lancar.

 

Penanganan semacam ini menurutnya justru bisa menjadi penghambat karena saat seseorang terkena serangan stroke, sekali lagi, ia hanya memiliki waktu kurang dari enam jam untuk segera mendapatkan perawatan medis.

 

Lalu sebenarnya apa tanda?tanda stroke yang perlu diketahu agar penanganan secara dini bisa dilakukan? Dr Dodik Tugasworo mengistilahkan sebagai; secara mendadak, apa yang tadinya ada menjadi tidak ada atau sebaliknya, apa yang tadinya tidak ada menjadi ada. Sebagai misal secara mendadak yang tadinya tidak kejang menjadi kejang, yang tadinya bisa bicara menjadi tidak, dan yang tadinya bisa berjalan menjadi tidak bisa berjalan. Selain fisik, tanda?tanda stroke juga bisa dalam bentuk lain sebagai misal, seseorang tiba?tiba menjadi lupa. Seperti lupa jalan pulang hingga ia mesti berputar?putar tanpa tahu arah padahal setiap hari ia melewati jalan yang sama untuk sampai ke rumah.

 

Saat kondisi sudah seperti ini, penanganan medis melalui pemeriksaan intensif dan menyeluruh akan bisa menganalisa mengenai jenis stroke dan penyebabnya. Ini penting untuk menetapkan terapi yang diperlukan agar serangan kedua tidak datang kembali.

 

Menurut Dr Dodik, berdasarkan pengalamannya selama ini, 70 persen pasien yang sudah sembuh akan mengalami serangan kedua yang dipastikan lebih parah dari serangan pertama. Itu pasti terjadi karena kerusakan otak  juga sudah lebih besar (tambahan) dari kerusakan pertama.

 

"Karena itu perawatan pasca stroke memang menjadi suatu keniscayaan jika tidak mau ada serangan kedua dan seterusnya," tandas Dr Dodik.

 

Saat ini, Bagian Neurologi RSUP Kariadi sendiri terus menyebarkan pemahaman mengenai stroke melalui kerjasama dengan kecamatan-kecamatan di Semarang. Penyuluhan terus dilakukan karena bukan hanya pasien yang terkena stroke, orang di sekitar sang pasien juga perlu harus mengerti bagaimana menghadapi orang yang terkena stroke atau setidaknya menjaga diri agar terhindar dari serangan stroke. [muslimah]


sumber: Warta Jateng

Navigation