Artikel Kesehatan


13-11-2017 | Hit : 12

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

(Permenkes no 27/2017 )

 

DR dr Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD-KPTI

Komite PPI RSUP Dr Kariadi Semarang

 

            Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) merupakan upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections : HAIs) adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Ketika pasien masuk tidak ada infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul setelah pasien pulang.Demikian pula infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. ?

            Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan harusmelaksanakan PPI. Penerapan PPI meliputi:  prinsip kewaspadaan standar dan berdasarkan ?transmisi; penggunaan antimikroba secara bijak; dan ?bundles yaitu sekumpulan praktik berbasis bukti sahih yang menghasilkan perbaikan keluaran poses pelayanan kesehatan bila dilakukan secara kolektif dan konsisten. ?

            Dalam pelaksanaan PPI di  Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus melakukan surveilans serta?pendidikan dan pelatihan PPI melalui pembentukan Komite atau Tim PPI. Komite atau Tim PPI merupakan organisasi non-struktural pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang berfungsi menjalankan PPI serta menyusun kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi termasuk pencegahan infeksi yang bersumber dari masyarakat berupa Tuberkulosis, HIV (Human Immunodeficiency Virus), dan infeksi menular lainnya. ?

            Komite atau Tim PPI dibentuk untuk menyelenggarakan tata kelola PPI yang baik agar mutu pelayanan medis serta keselamatan pasien maupun pekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan terjamin dan terlindungi. Pembentukan Komite atau Tim PPI disesuaikan dengan jenis, kebutuhan, beban kerja, dan/atau klasifikasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan. ?

            Komite atau Tim PPI bertugas melaksanakan kegiatan pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, ?monitoring dan evaluasi, serta pembinaan. ?Hasil pelaksanaan tugas harus dilaporkan kepada Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan secara berkala paling sedikit 2 (dua) kali dalam setahun, atau ?sesuai dengan kebutuhan. ?Laporan tersebut dipergunakan pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai dasar penyusunan perencanaan dan pengambilan keputusan.

            Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus ?melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan PPI, untuk disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, dan Kementerian Kesehatan secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali atau sesuai dengan kebutuhan. ?

            Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini dilakukan oleh Menteri Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Dapat melibatkan perhimpunan/asosiasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan organisasi profesi yang terkait (PERSI, ARSSI, ARSADA, PETRI, Perdalin: Perhimpunan Pengendalian Infeksi , HIPPI: Himpunan Perawat Pencegahan Pengendalian Infeksi). Dilaksanakan melalui:?advokasi, sosialisasi, dan bimbingan teknis;? pelatihan serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia; monitoring dan  evaluasi.

Konsep dasar Penyakit Infeksi

            Berdasarkan sumber infeksi, maka infeksi dapat berasal dari masyarakat/komunitas (Community Acquired Infection) atau dari rumah sakit (Healthcare-Associated Infections/HAIs). Penyakit infeksi yang didapat di rumah sakit beberapa waktu yang lalu disebut sebagai Infeksi Nosokomial (Hospital Acquired Infection).

            Saat ini penyebutan diubah menjadi Infeksi Terkait Layanan Kesehatan atau HAIs” (Healthcare-Associated Infections) dengan pengertian yang lebih luas, yaitu kejadian infeksi tidak hanya berasal dari rumah sakit, tetapi juga dapat dari fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, seperti home care. Tidak terbatas infeksi kepada pasien namun dapat juga kepada petugas kesehatan dan pengunjung yang tertular pada saat berada di dalam lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan.

            Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections)yang selanjutnya disingkat HAIs merupakan infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dimana ketika masuk tidak ada infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

            Rantai Infeksi (chain of infection)merupakan rangkaian yang harus ada untuk menimbulkan infeksi. Dalam melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi dengan efektif, perlu dipahami secara cermat rantai infeksi.Kejadian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan dapat disebabkan oleh 6 komponen rantai penularan, apabila satu mata rantai diputus atau dihilangkan, maka penularan infeksi dapat dicegah atau dihentikan. Dalam pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi diupayakan mengendalikan enam komponen tersebut.

Enam komponen rantai penularan infeksi, yaitu:

  1. Agen infeksi (infectious agent)adalah mikroorganisme penyebab infeksi. Pada manusia, agen infeksi dapat berupa bakteri, virus, jamur dan parasit. Ada tiga faktor pada agen penyebab yang mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu:
    1. patogenitas,
    2. virulensi dan
    3. jumlah (dosis, atau “load”).

Makin cepat diketahui agen infeksi dengan pemeriksaan klinis atau laboratorium mikrobiologi, semakin cepat pula upaya pencegahan dan penanggulangannya.

  1. Reservoiratau wadah tempat/sumber agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang-biak dan siap ditularkan kepada pejamu atau manusia. Reservoir terbanyak ditemukan pada manusia, alat medis, binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air, lingkungan dan bahan-bahan organik lain. Dapat ditemui pada orang sehat, permukaan kulit, selaput lendir mulut, saluran napas atas, usus dan vagina.
  2. Portal of exit (pintu keluar)adalah lokasi tempat agen infeksi (mikroorganisme) meninggalkan reservoir melalui: saluran napas, saluran cerna, saluran kemih, transplasenta.
  3. Metode Transmisi/Cara Penularan: metode transport mikroorganisme dari wadah/reservoir ke pejamu yang rentan. Beberapa metode penularan yaitu: (1) kontak: langsung (melalui tangan petugas) dan tidak langsung (membrane stetoskop, alat kesehatan lain), (2) droplet, (3) airborne, (4) melalui vehikulum (makanan, air/minuman, darah) dan(5) melalui vektor (biasanya serangga dan binatang pengerat).
  4. Portal of entry (pintu masuk): lokasi agen infeksi memasuki pejamu yang rentan dapat melalui:saluran napas, saluran cerna, saluran kemih, kelamin, melalui kulit yang tidak utuh.
  5. Susceptible host (Pejamu rentan): seseorang dengan kekebalan tubuh menurun sehingga tidak mampu melawan agen infeksi. Faktor yang dapat mempengaruhi kekebalan: umur, status gizi, status imunisasi, penyakit kronis (Diabetes Melitus, Penyakit Ginjal Kronik, Sirosis Hepatis, Infeksi HIV-AIDS), luka bakar yang luas, trauma, pasca pembedahan dan pengobatan dengan imunosupresan (penggunaan steroid jangka panjang).

                  Jenis dan Faktor Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan atau
“Healthcare-Associated Infections” (HAIs):1)  Ventilator associated pneumonia (VAP) 2)  Infeksi Aliran Darah (IAD). 3)  Infeksi Saluran Kemih (ISK). 4)  Infeksi Daerah Operasi (IDO).

                  Faktor Risiko HAIs:

                  Beberapa keadaan yang memudahkan timbulnya infeksi terkait pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut.

1)  Umur: neonatus dan orang lanjut usia lebih rentan.

2)  Status imun yang rendah/terganggu (immuno- compromised): penderita dengan penyakit kronik, penderita tumor ganas, pengguna obat-obat imunosupresan, kemoterapi. 3)  Gangguan/Interupsi barier anatomis: Kateter urin: meningkatkan kejadian infeksi saluran kemih (ISK). Prosedur operasi: dapat menyebabkan infeksi daerah operasi (IDO) atau “surgical site infection” (SSI). Intubasi dan pemakaian ventilator: meningkatkan kejadian “Ventilator Associated Pneumonia” (VAP). Kanula vena dan arteri: Plebitis, Infeksi aliran darah (IAD). Luka bakar dan trauma.

4)  Implantasi benda asing :Pemakaian “mesh” pada operasi hernia. Pemakaian implant pada operasi tulang, kontrasepsi, alat pacu jantung. “cerebrospinal fluid shunts”. “valvular / vascular prostheses”.

5) Perubahan mikroflora normal:pemakaian antibiotika yang tidak bijak dapat menyebabkan pertumbuhan jamur berlebihan dan timbulnya bakteri resisten terhadap berbagai antimikroba.

      Salah satu upaya pengendalian dan pencegahan infeksi yang selalu dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah penerapan Kewaspadaan Standar:

  1. Cuci tangan
  2. Alat Pelindung Diri
  3. Dekontaminasi Peralatan Perawatan Pasien
  4. Pengendalian Lingkungan
  5. Pengelolaan Limbah
  6. Tatalaksana Pajanan
  7. Perlindungan Kesehatan Petugas
  8. Penempatan Pasien

Salah satu kegiatan kewaspadaan standar di fasilitas pelayanan kesehatan adalah: Penempatan Pasien:

  1. a)  Tempatkan pasien infeksius terpisah dengan pasien non infeksius.
  2. b)  Penempatan pasien disesuaikan dengan pola transmisi infeksi penyakit pasien (kontak, droplet, airborne) sebaiknya menggunakan ruangan tersendiri.
  3. c)  Bila tidak tersedia ruang tersendiri, dibolehkan dirawat bersama pasien lain yang jenis infeksinya sama dengan menerapkan sistem cohorting. Jarak antara tempat tidur minimal 1 meter. Untuk menentukan pasien yang dapat disatukan dalam satu ruangan dilakukan konsultasi terlebih dahulu kepada Komite atau Tim PPI.
  4. Semua ruangan terkait cohorting harus diberi tanda kewaspadaan berdasarkan jenis transmisinya (kontak,droplet, airborne).
  5. e)  Pasien yang tidak dapat menjaga kebersihan diri atau lingkungannya seyogyanya dipisahkan tersendiri.
  6. f)  Mobilisasi pasien infeksius yang jenis transmisinya melalui udara (airborne) agar dibatasi di lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menghindari terjadinya transmisi penyakit yang tidak perlu kepada yang lain.
  7. g)  Pasien HIV tidak diperkenankan dirawat bersama dengan pasien TB dalam satu ruangan tetapi pasien TB-HIV dapat dirawat dengan sesama pasien TB.
  8. KEBERSIHAN PERNAPASAN/ETIKA BATUK DAN BERSIN

            Kebersihan pernafasan dalam bentuk etika batuk atau bersin perlu dibudayakan dan disosialisasikan di fasilitas pelayanan kesehatan, dengan catatan sebagai berikut:

  • Diterapkan untuk semua orang terutama pada kasus infeksi dengan jenis transmisi airborne dan droplet.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan harus menyediakan sarana cuci tangan seperti wastafel dengan air mengalir, tisu, sabun cair, tempat sampah infeksius dan masker bedah.
  • Petugas, pasien dan pengunjung dengan gejala infeksi saluran napas, harus melaksanakan dan mematuhi langkah-langkah sebagai berikut:
  1. a)  Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan atau lengan atas pada saat batuk.
  2. b)  Tisu dibuang ke tempat sampah infeksius dan kemudian mencuci tangan.
  3. PRAKTIK MENYUNTIK YANG AMAN
  4. PRAKTIK LUMBAL PUNGSI YANG AMAN

SURVEILANS INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN

Kegiatan Surveilans dalam progam pengendalian idealnya dilakukan secara berkala dan terus menerus. Metode Surveilans dilaksanakan dengan cara:

  1. a)  Surveilans Komprehensif (Hospital Wide/Tradisional Surveillance)
  2. b) Surveilans Target (Targetted Surveillance)
    c)  Surveilans Periodik (Periodic Surveillance)
    d)  Surveilans Prevalensi (Prevalence Surveillance)

 

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

            Salah satu kegiatan utama Tim PPI adalah pendidikan dan pelatihan. Semua anggota Komite atau Tim PPI:

  • Wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar dan lanjut serta pengembangan pengetahuan PPI lainnya.
  • Memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga pelatihan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Mengembangkan diri dengan mengikuti seminar, lokakarya dan sejenisnya.
  • Mengikuti bimbingan teknis secara berkesinambungan.
  • Perawat PPI pada Komite atau Tim PPI (Infection Prevention and Control Nurse/IPCN) harus mendapatkan tambahan pelatihan khusus IPCN pelatihan tingkat lanjut.
  • Infection Prevention and Control Link Nurse/IPCLN harus mendapatkan tambahan pelatihan PPI tingkat lanjut.

    PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA

  • Pemberian terapi antimikroba merupakan salah satu tata laksana penyakit infeksi yang bertujuan membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroba di dalam tubuh. Mikroba yang melemah atau mati akibat antimikroba, akan dihancurkan oleh sistem pertahanan tubuh secara alamiah. Jika mikroba penyebab infeksi telah resisten terhadap antimikroba yang digunakan, maka mikroba tersebut tetap bertahan hidup dan berkembang biak sehingga proses infeksiterus berlanjut dan cenderung ditularkan ke pasien lain.
  • Profilaksis bedah pada beberapa operasi bersih (misalnya kraniotomi, mata) dan semua operasi bersih terkontaminasi adalah penggunaan antibiotik sebelum, selama, dan paling lama 24 jam pasca operasi pada kasus yang secara klinis tidak memperlihatkan tanda infeksi dengan tujuan mencegah terjadinya infeksi daerah operasi.
  • Pada prosedur operasi terkontaminasi dan kotor, pasien diberikan terapi antibiotik sehingga tidak perlu ditambahkan antibiotik profilaksis.
  • Terapi antibiotik empirik yaitu penggunaan antibiotik pada kasus infeksi atau diduga infeksi yang belum diketahui jenis bakteri penyebabnya. Terapi antibiotik empirik ini dapat diberikan selama 3-5 hari. Antibiotik lanjutan diberikan berdasarkan data hasil pemeriksaan laboratorium dan mikrobiologi. Sebelum pemberian terapi empirik dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan mikrobiologi. Jenis antibiotik empirik ditetapkan berdasarkan pola mikroba dan kepekaan antibiotik setempat. Setiap fasilitas layanan kesehatan mempunyai pola tersendiri, sehingga tidak boleh menggunakan pola mikroba dari fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya.
  • Terapi antibiotik definitif adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab dan kepekaannya terhadap antibiotik.

                  Di dalam kegiatan Pencegahan pengendalian infeksi, PPRA menjadi salah satu bagian penting. Sebaliknya di dalam kegiatan PPRA (Program Pengendalian Resistensi Antimikroba) salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah mencegah menyebarnya mikroba resisten dengan upaya penerapan kewaspadaan universal. ***

 

 

Navigation