Berita Terbaru


23-01-2019 | Hit : 24

PENGELOLAAN GIZI UNTUK MENCEGAH BATU GINJAL

Khairuddin, SpGK dari RSUP Dr Kariadi Semarang

 undefinedgizi

Semarang (22/01/2019) – Sahabat sehat, tahukah Anda bahwa Batu ginjal, dan juga batu pada saluran kemih lainnya, sering terjadi pada orang usia 30 – 50 tahun, lebih sering terjadi pada pria, dan seringkali kambuh. Risikonya meningkat dua kali lipat jika terdapat riwayat keluarga dengan batu ginjal. Kejadian batu ginjal lebih sering terjadi pada etnis Arab dan India Barat dan yang paling jarang adalah pada keturunan Asia Timur dan Afrika. Ada beberapa jenis batu ginjal, yang paling sering terjadi adalah batu kalsium (80%) yang terdiri dari batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat, sisanya adalah batu asam urat (5-10%), batu struvit (5-10%), dan batu sistin (1%). Batu kalsium bisa terjadi akibat kadar kalsium dalam urine yang tinggi yang salah satu penyebabnya adalah konsumsi vitamin D yang berlebihan. Batu asam urat cenderung terjadi jika kadar asam urat dalam darah meningkat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi fruktosa yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam darah.

Faktor pola makan dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu. Banyak penelitian membuktikan bahwa orang yang mengkonsumsi makanan tinggi kalsium jarang mengalami batu. Hal ini terjadi karena kalsium akan mengikat sebagian oksalat di usus sehingga hanya sedikit oksalat yang diabsorpsi. Suplementasi kalsium mungkin bermanfaat dalam mencegah terbentuknya batu ginjal, khususnya jika suplemen kalsium diminum pada saat makan, dan disertai dengan banyak minum air putih. Vitamin C dalam tubuh dimetabolisme menjadi asam dehidroaskorbat dan selanjutnya dikonversi menjadi oksalat yang bisa menjadi pemicu terbentuknya batu kalsium oksalat. Oleh karena itu, asupan vitamin C dosis tinggi dapat menjadi faktor risiko terbentuknya batu dengan meningkatkan oksalat endogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C lebih dari 1000 mg/hari meningkatkan risiko terbentuknya batu pada pria sebesar 40%.

Pengelolaan gizi yang baik dapat mencegah terjadinya batu dan/atau mencegah berkembangnya batu yang sudah ada. Pengelolaan gizi meliputi penilaian terhadap status gizi dan asupan pasien saat ini, menentukan faktor risiko terbentuknya batu yang berkaitan dengan gizi, serta menyusun dan melaksanakan rencana intervensi gizi. Pengelolaan gizi dilakukan secara individual, disesuaikan dengan keadaan masing-masing pasien seperti latar belakang pendidikan, pengetahuan tentang gizi, kemampuan ekonomi, preferensi jenis makanan, dan motivasi pasien untuk menjadi lebih baik. Selain itu, beberapa pasien juga mungkin mengalami masalah kesehatan lainnya seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskuler, penyakit saluran cerna, dan sebagainya, yang juga memerlukan pendekatan tata laksana gizi tersendiri.

  1. Pengaturan berat badan

Obesitas berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi untuk terbentuknya batu. Pasien obesitas cenderung untuk mengeluarkan oksalat dan asam urat yang lebih tinggi dan sitrat yang lebih rendah ke dalam urine, yang mempermudah terbentuknya batu. Oleh karena itu pasien overweight dan obesitas harus diberikan konseling pentingnya  menurunkan berat badan untuk mengurangi risiko terjadinya batu.

  1. Kecukupan cairan

Dehidrasi memudahkan terjadinya pengentalan urine, sehingga konsumsi cairan yang cukup merupakan komponen yang sangat penting bagi pasien batu ginjal. Orang dengan batu ginjal sebaiknya minum sebanyak 2,5 liter per hari. Semua jenis minuman berkontribusi terhadap produksi urine, akan tetapi yang lebih dianjurkan adalah minuman rendah gula dan rendah kalori. Agar target volume cairan yang diminum dapat tercapai, dianjurkan untuk membagi volume minum menjadi tiga bagian, misalnya 1 liter di pagi sampai siang hari, 1 liter di sore hari, dan 0,5 liter di malam hari. Selain itu disarankan untuk menggunakan tempat minum tersendiri dengan ukuran volume yang terlihat, sehingga lebih mudah untuk menghitung jumlah cairan yang diminum.

  1. Membatasi asupan natrium

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pembatasan asupan natrium efektif untuk mencegah kekambuhan batu ginjal. Secara umum diketahui bahwa sumber natrium adalah garam, tetapi sebenarnya sumber natrium dalam makanan  kita lebih banyak berasal dari makanan olahan yang mengandung bahan pengawet dan penyedap rasa. Sebaiknya makanan dimasak dengan menggunakan bumbu-bumbu alami yang banyak terdapat di sekitar kita, dan meminimalkan penggunaan bumbu masak buatan pabrik atau bumbu instan.

  1. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung sitrat dan kalium

Sitrat dalam urine merupakan penghambat terbentuknya batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Sitrat akan berikatan dengan kalsium menghasilkan kalsium sitrat yang sifatnya larut dalam air, sehingga kalsium tidak dapat berikatan dengan oksalat maupun fosfat. Bahan makanan yang paling kaya akan sitrat adalah buah jeruk, dengan kadar yang paling tinggi terdapat pada lemon dan jeruk nipis. Kadar kalium dalam urine sangat berkorelasi dengan kadar sitrat urine, dan asupan bahan makanan yang kaya akan kalium meningkatkan kadar sitrat dalam urine sehingga dapat mencegah terbentuknya batu kalsium. Kalium tersebar secara luas dalam berbagai bahan makanan seperti kentang, pisang, tomat, jeruk dan bayam.

  1. 5. Membatasi asupan fruktosa

Beberapa studi epidemiologis menemukan bahwa peningkatan kadar asam urat dalam darah berkorelasi dengan peningkatan konsumsi fruktosa. Meskipun hasil-hasil penelitian yang ada tidak secara spesifik menghubungkan fruktosa dengan kejadian batu asam urat, anjuran untuk mengurangi asupan fruktosa berlebihan dapat membantu mempertahankan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Fruktosa terdapat dalam hampir semua jenis makanan atau minuman olahan yang rasanya manis, sehingga bagi orang yang mempunyai batu ginjal, khususnya jika batunya adalah batu asam urat, dianjurkan untuk membatasi makanan atau minuman manis.

Navigation