Artikel Kesehatan


20-01-2017 | Hit : 139

Pengidap Hemofilia Beradaptasi Dengan Lingkungan

RSUP Dr. Kariadi -Pengidap penyakit kelainan gen seperti hemofilia harus beradaptasi dengan lingkungannya untuk mencegah terjadinya kegawatdaruratan. Hemofilia merupakan penyakit yang mengakibatkan berkurangnya daya pembekuan darah. Darah yang keluar dari dalam tubuh lebih lama membeku, sehingga pendarahan lebih panjang dengan durasi maksimal selama sehari.

Dokter Santoso, SpPD dari RSUP dr Kariadi mengatakan, penyakit tersebut belum ada obatnya. Sejumlah penelitian untuk mencari metode penyembuhan dan obat tengah dikerjakan oleh para peneliti. Salah satu upaya teranyar dengan mengembangkan cangkok sumsum tulang belakang yang saat ini diujicobakan dengan tikus.

"Penyakit ini sampai sekarang belum ada obatnya. Pengidapnya tak banyak. Adanya cuma cara mencegah dengan suntikan untuk percepatan pembekuan. Idealnya suntikan itu diberikan sehari sekali, tapi kan biaya mahal. Suntikan hanya saat terjadi pendarahan," katanya.

Upaya pencegahan secara medis itu saat ini satu-satunya cara dalam meminimalisir hemofilia. Pencegalan lain dengan menghindari aktivitas yang memicu terjadinya pendarahan. Pengidap hemofilia, katanya, harus beradaptasi dengan lingkungan agar tak ada pendarahan baik spontan maupun karena faktor luar.

 "Olahraganya tidak boleh yang terdapat benturan. Pekerjaannya juga tidak boleh kasar. Kalau dia sekolah, perlu surat keterangan agar diizinkan tidak mengikuti olahraga yang memicu pendarahan," ujarnya.

 

Tidak Menular

Orang yang mengidap hemofilia, lanjutnya, tidak memandang status gizi, sosial dan ekonomi. Penyakit ini dikenal juga sebagai Royal Disease, karena pengidapnya adalah raja dan ratu yang di Eropa yang menjalin perkawinan dengan saudaranya sendiri.

Semua orang bisa kena, karena sifat penyakit menurun. Ayah yang mengidap hemofilia dan ibu yang normal kemudian memiliki anak laki-laki dipastikan anaknya hemofilia. Jika anaknya perempuan, tidak hemofilia, tetapi pembawa sifat (career).

"Sangat jarang ada perempuan hemofilia. Saya ketemu waktu ada temu ilmiah di Eropa," ungkapnya.

Orang yang mengidap hemofilia menurutnya, adalah orang normal. Hanya saja, kemampuan membekukan darah secara mandiri berkurang. Adaptasi lingkungan merupakan keharusan agar kehidupan tetap berlangsung.

Santoso mencontohkan, seorang laki-laki dengan hemofilia saat akan sunat harus disuntik cairan yang mampu mempercepat pembekuan darah. Semakin dini, dia sunat, semakin sedikit dosis yang digunakan, sehingga semakin minim risiko pendarahan. "Ada risiko kematian pada pengidap hemofilia, jika pendarahannya di otak. Jika di tempat lain bisa langsung dicegah dengan penyuntikan," imbuhnya.

Navigation