Berita Terbaru


27-10-2012 | Hit : 24213

.doc

.pdf

 

 

Meski tengah berbadan dua, wanita hamil tentu tetap ingin tampil cantik. Masalahnya, banyak obat-obatan yang menjadi bahan dasar kosmetik dinilai berbahaya bagi janin dalam kandungan. Untuk itu sikap waspada harus dilakukan, jangan sampai hanya karena ingin menjaga penampilan, sang janin pun menjadi korban.

Kecantikan dan Kehamilan

 

Meski demikian asalkan tetap dengan petunjuk dan pengawasan dokter, penggunaan obat-obat tertentu masih diperbolehkan. Seperti yang diungkapkan oleh Dr Muslimin, Sp.KK, spesialis Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang. "Yang penting ibu hamil juga jangan ragu-ragu menanyakan aman tidaknya obat yang dikonsumsi kepada petugas medis," ujarnya.

 

Dr Muslimin pun memerinci jenis penyakit kulit dan obat yang boleh atau tidak untuk dikonsumsi. Yang pertama adalah jerawat. Menurutnya, pemberian  obat topikal golongan B yaitu eritromisin, klindamisin, asam azalea dan  golongan C yaitu: benzoil peroksida aman untuk wanita hamil. Namun pemakaian obat tretinoin topikal (golongan C) tidak dianjurkan oleh karena adanya laporan kasus malformasi kongenital (kelainan bentuk pada saat lahir) pada janin yang ibunya memakai tretinoin pada trimester pertama kehamilan. Juga pemakaian adapalen (golongan C) dan tazaroten (golongan X)

 

"Pemberian obat sistemik pada jerawat dapat diberikan dengan obat-obat golongan B yaitu eritromisin, tetapi penelitian baru-baru ini di Swedia melaporkan peningkatan risiko malformasi kardiovakular (gangguan pembentukan jantung dan pembuluh darah) pada penggunaan eritromisin oral pada awal kehamilan ," ujar Dr Muslimin.

 

Obat golongan D yaitu tetrasiklin tidak diberikan karema berkaitan dengan pewarnaan gigi apabila diberikan setelah trimester pertama, penurunan pertumbuhan tulang dan toksisitas liver pada ibu hamil.

 

Obat jerawat oral ada yang termasuk golongan X yaitu isotretinoin yang dikenal sebagai teratogen (merusak pertumbuhan janin). Meskipun demikian isotretinoin dapat diberikan pada wanita dengan pengawasan ketat untuk tidak hamil selama pengobatan. Kehamilan aman setelah 1 bulan penghentian obat ini.

 

Penyakit kulit lainnya adalah dermatitis. Menurutnya, obat golongan C: takrolimus dan pimekrolimus aman karena sampai saat ini tidak ada laporan adanya efek samping pada wanita hamil. Untuk yang mengeluh adanya gatal, maka pemberian antihistamin oral/sistemik yang aman adalah yang masuk golongan B yaitu: Klorpeniramin (dikenal sebagai CTM) dan dipenhidramin.

 

Pada penyakit kulit karena infeksi bakteri, obat golongan B yaitu penisilin, sefalosporin dan azitromisin aman digunakan. Tetapi salah satu penelitian survey besar menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara obat sefalosporin tertentu (sefaklor, sefaleksin, seftriakson dan sefadrin) dengan gangguan pembentukan congenital apabila dipakai pada trimester pertama.

 

Pada penyakit kulit karena infeksi jamur, pemakaian obat antijamur oral golongan C yaitu flukonazol yang diberikan pada trimester pertama dengan dosis 400 mg/hari atau lebih menjadi teratogenik dan berhungan dengan kelainan yang meliputi kepala, wajah, tulang dan jantung.

 

Untuk penyakit kulit karena infeksi virus seperti kutil pada kelamin, maka pengobatan topical dengan larutan asam trikloroasetat dan modalitas fisik dengan terapi beku cukup aman. Obat topical golongan C yaitu: podofilin dan podofilotoksin tidak disarankan karena menimbulkan kelainan dan kematian pada janin.

 

Sementara itu penyakakit kulit psoriasis yang ditandai adanya kulit kemerahan dan bersisik pada tempat-tempat tertentu, pemakaian obat golongan C yaitu kortikosteroid telah digunakan secara luas pada kehamilan meskipun gangguan pertumbuhan dalam kandungan dilaporkan pada janin yang ibunya menggunakan 40 mg/hari triamsinolon topical mulai 12 minggu kehamilan. Obat psoriasis golongan C lain yaitu calcipotriene sekitar 6% diserap apabila dalam bentuk salep aman digunakan pada psoriasis lokalisata.

 

Terapi dengan penyinaran ultraviolet B juga aman untuk psoriasis luas pada kehamilan. Tidak direkomendasikan pengobatan dengan psoralen dan ultraviolet A (PUVA) karena teratogenik, meskipun belum pernah ada laporan pada penelitian adanya efek yang tidak dikehendaki pada penelitian wanita yang diterapi PUVA selama kehamilan.

Sumber artikel: Warta Jateng 

 

Navigation