Artikel Kesehatan


16-01-2013 | Hit : 14675

Dr Muchlis AU Sofro: SpPD-KPTI, FINASIM

Penyakit Tifes (Demam Tifoid) hingga saat ini masih merupakan masalah global. Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun Penyakit Tifes masih merupakan problema masyarakat. 
 
Problema yang muncul adalah dalam hal bagaimana cara menegakkan diagnosis, cara penanganan, dan cara pencegahannya. 
 
Untuk menegakkan diagnosis misalnya, dokter kadang mengalami kesulitan mengingat gejalanya sering mirip penyakit infeksi yang lain, seperti: Demam Dengue, Leptospirosis, Malaria, Infeksi saluran Kencing, atau Infeksi Saluran nafas. 
 
Untuk memastikan Diagnosispun, belum semua Rumah Sakit mampu melakukan pemeriksaan kultur darah. Akibatnya, hanya dengan gejala klinik dan pemeriksaan penunjang sederhana (tes Widal) penyakit ini ditegakkan diagnosisnya. 
 
Obat terpilih (pilihan pertama) untuk penanganan Tifes adalah Chloramphenicol. Sebagian besar dokter masih menggunakan obat tersebut. Sekarang mulai muncul masalah baru yaitu: adanya kekambuhan. Tidak sedikit pasien tifes yang mendapatkan pengobatan tersebut mudah kambuh. 
 

Selanjutnya masalah resistensi obat. Kuman penyebab Tifes, Salmonella typhi, sebagian mengalami resistensi terhadap obat chloramphenicol. Artinya, bila diberikan obat tersebut, maka kuman sudah kebal dengan mekanisme alamiah. 
 
 
Gejala dan tanda
 
Masa inkubasi (masuknya kuman sampai timbul gejala) sekitar 10-14 hari (5-23 hari). Gejala yang muncul antara lain: demam akut (tiba-tiba), demam menggigil, sakit kepala dan gangguan di seputar perut (mual, muntah, rasa tidak nyaman di uluhati) serta nafsu makan menurun. 
 

Tanda penyakit Tifes: demam naik secara bertahap, kadang sampai 41 oC. Kenaikan suhu ini dapat berlangsung terus menerus, atau naik turun. Umumnya suhu badan akan meningkat menjelang sore hari. Terdapat bradikardi relative, yaitu kenaikan denyut nadi tidak sebanding dengan kenaikan suhu badan. 
 

Ada lidah tifes berupa: lidah kemerahan dengan tepi lidah berwarna putih. Sebagian pasien mengalami meteorismus: perut membuncit akibat gerakan usus melemah, sehingga udara tertahan di usus dan sulit dikeluarkan. Kadang pasien mengalami pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali). 
 
 

Diagnosis
 
Untuk menegakkan diagnosis Tifes, masih dapat menggunakan Skor Klinik Demam Tifoid. Skor ini memberi nilai satu dan dua dari tiap gejala dan tanda yang dialami pasien. Skor satu diberikan untuk gejala: demam kurang dari satu minggu, sakit kepala, badan “nglungrah” (tak bertenaga), mual, nyeri perut dan nafsu makan turun. Skor satu diberikan pula untuk tanda: muntah dan penurunan gerakan usus. 
 
Sedangkan skor dua diberikan untuk: kesulitan tidur, pembesaran hati dan limpa, serta demam yang lebih dari satu minggu. 
 
Apabila dijumlahkan, maka skor klinik Tifes dapat sampai angka 20. Akan tetapi bila skor klinik mencapai 13 atau lebih sudah dapat dinyatakan bahwa Klinis Demam Tifoid.
Guna membantu menegakkan diagnosis Tifes, diperlukan pemeriksaan penunjang laboratorium. Antara lain darah rutin kadang ditemukan leukopeni (jumlah leukosit menurun). 
 
Pemeriksaan laboratorium Widal masih dapat digunakan, akan tetapi harus lebih berhati-hati di dalam memberikan interpretasi terhadap Widal. Pada sebagian pasien hasil Widal positif akan bertahan berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai satu tahun setelah serangan Tifes masih positif. Tapi tidak berarti sekarang sedang terserang tifes. 
Pemeriksaan berikutnya yang cukup membantu menegakkan diagnosis Tifes adalah IgM Salmonela (Tubex TF). Pemeriksaan ini menghasilkan hasil positif di saat panas hari ke empat atau kelima. Dan Sebagian akan bertahan tetap positif sampai 35 hari atau ada yang sampai dua bulan masih positif. 
 
Oleh karena itu, jangan protes ke dokter jika sudah sembuh dari tifes kok hasil IgM Salmonelanya masih positif. Ini adalah kekebalan tubuh kita terhadap kuman tifes. Bukan berarti kita sedang tifes, atau kambuh tifesnya, selama tidak ada demam, walaupun IgM Salmonelanya positif. 
Jadi, sebaiknya kita menggunakan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai penunjang diagnosis. Jangan mengobati hasil pemeriksaan laboratorium bila tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke demam Tifoid (tifes). 
 
 
Penanganan Terkini
 
Penanganan Tifes tidak cukup dengan antibiotic. Perlu perawatan umum dan tidak selalu dirawat di rumah sakit. Indikasi dirawat di rumah sakit bila pasien muntah berulang, demam tinggi yang tidak turun dengan obat turun panas, serta badan lemas tak bertenaga. 
 
Antibiotik yang menjadi pilihan utama hingga saat ini masih golongan chloramphenicol. Akan tetapi kelemahan obat ini harus diberikan selama 14 hari dan sehari tiga sampai empat kali minum. Padahal sebagian pasien sering hari ke tujuh sudah tidak demam dan obat akan segera dihentikan dengan sendirinya. Akibatnya pengobatan menjadi tidak efektif serta memungkinkan untuk kambuh lagi. Disamping itu akan memudahkan resistensi kuman (kebal) terhadap antibotik yang diberikan.
 
Antibiotik berikutnya adalah kelompok Fluoroquinolone yakni Ciprofloxacin dan Levofloxacin. Ciprofloxocin merupakan antibiotic yang bagus untuk Tifes. Obat ini mampu mengejar kuman penyebab tifes sampai ke sumsum tulang (tempat bersembunyi Salmonella Typhi di tubuh kita). Hanya saja obat ini diberikan dalam waktu tujuh hari dengan dosis dua kali sehari. 

 
Antibiotik terkini yang sudah dilakukan penelitian di beberapa kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Denpasar, Makasar) adalah Levofloxacin. Keuntungan obat ini, mampu menurunkan panas lebih awal dibandingkan ciprofloxacin. Selain itu, efek samping (mual, muntah, tidak nyaman di perut, mengganggu fungsi hati) lebih ringan daripada ciprofloxacin. Dan diberikan selama tujuh hari namun dengan dosis cukup sekali sehari. Bagi pasien tentu lebih nyaman bila hanya minum obat sekali sehari (bandingkan dengan chloramphenicol yang 3-4 kali, ciprofloxacin yang 2x sehari). 
 
Antibiotik Levofloxacine selama ini dikenal untuk Infeksi Saluran nafas, Infeksi Paru (Pneumoni) dan Infeksi saluran Kencing. Dengan penelitian tersebut ternyata mampu mengatasi kuman Salmonella Typhi dengan hasil yang bagus. 
Sekarang, banyak peneliti yang menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada pasien Tifes se-awal mungkin. Dan ternyata, karena sebagian pasien Tifes tidak menyukai bubur, begitu diberi kesempatan makan nasi langsung meningkat selera makannya. Akibatnya, meningkatkan proses kesembuhan pasien dan tipesnya menjadi cepat sembuh. 
 

Apabila pasien tifes lebih menyukai makan nasi daripada bubur, ya silakan saja. Jangan takut ususnya menjadi bocor hanya karena makan nasi. Karena sampai sekarang masih banyak pasien yang bertanya: “sakit tifes kok disuruh makan nasi tho dok? Kalau seperti ini kapan sembuhnya?”
 
Seperti kita ketahui, apapun makanan kita, akan dilembutkan di lambung kita. Sehingga begitu sampai ke usus halus dan usus besar sudah dalam keadaan lembut. Otomatis tidak mempengaruhi usus kita kan? Jadi tidaklah mungkin usus bocor gara-gara makan nasi! ***
Dr Muchlis AU Sofro: SpPD-KPTI, FINASIM, Bagian/SMF Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi/FK UNDIP

Navigation