Berita Terbaru


30-10-2018 | Hit : 100

PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA

Oleh dr.Natalia Dewi Wardani, Sp.KJ dari RSUP dr.Kariadi

Semarang (29/10/2018) – Sahabat sehat, selain fisik, kesehatan mental juga sangat butuh perhatian. Tak terkecuali pada remaja. Karena masalah pada kesehatan mental dapat berdampak pada menurunnya produktivitas remaja hingga perilaku ber8isiko berupa bunuh diri.

Dr. Natalia Dewi Wardani, Sp.KJ menuturkan masalah kesehatan mental tidak hanya dialami ole orang-orang dewasa, remaja pun dapat mengalami. Satu diantara enam remaja usia 10-19 tahun, biasanya mengalami gangguan.

Depresi dan gangguan kecemasan menjadi jenis masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada remaja. Depresi lebih cenderung ke perasaan sedih atasu murung. Sebagai contoh, remaja A berasal dari daerah pinggiran kemudian pindah ke kota. Beberapa hal yang berbeda dari anak-anak lain menjadikan ia sering di ejek. Sehingga ia yang sebelumnya bersemangat jadi malas atau sering menangis.

Sedangkan gangguan kecemasan nmerupakan rasa cemas berlebih yang mempengaruhi aktivitas. Seperti kekhawatiran bila masuk sekolah akan diejek oleh teman-teman. Bisa juga bagi remaja laki-laki yang susah mengekspresikan perasaan, jsutru bereaksi marah-marah dan suka membolos.

Hal-hal semacam ini perlu diperhatikan. Jangan sampai anak membolos, orangtua malah berpikir mungkin memanmg sedang masanya. Kalau sebelumnya tidak suka membolos, perlu ditanya, perlu dicari tahu , memang di sekolah ada apa dan kenapa. Selain beberapa perilaku tersebut,a da juga sejumlah gejala yang mengindikasikan remaja tengah mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Diantaranya mudah amrah, penurunan prestasi, jadi mudah menangis, susah tidur, atau yang biasanya berani tidur sendiri jadi  takut sendiri, kemudian yang biasanya semnagat ke sekolah tiba-tiba menjadi malas-malasan.

Bila tidak segera ditangani, gangguan depresi akan memunculkan gejala psikotik. Diantaranya halusinasi dan waham. Halusinasi bisa berupa visual yaitu melihat sesuatu yang tidak ada, mendengar sesuatu yang orang lain tidak dengar. Bisa juga halusinasi penciuman, seperti mencium bau kembang, bau bangkai atau bau-bau lain yang sebetulnya tidak ada. Atau halusinasi indra peraba, seperti banyak semut yang lewat atau badan dikerubuti serangga. Serta halusinasi pengecapan, yaitu merasa merasakan rasa tertentu padahal ia sedang tidak makan.

Sedangkan waham, yaitu keyakinan salah yang dipertahankan secara kuat atau terus-menerus, tapi tidak sesuai dengan kenyataan. Semisal. Ia mengatakan bahwa dirinya paling pintar di sekolah sehingga bisa mendapatkan tanda tangan presiden, tapi saat diminta menunjukkan bukti, ia tidak punya. 

Pada level lanjut bisa mengacu pada perilaku berisiko. Diantaranya, menyilet-nyilet bagian tubuh atau membenturkan kepala hingga yang terparah bunuh diri. Sehingga bila orang tua atau masyarakat menemui remaja dengan gejala-gejala awal depresi maupun gangguan kecemasan, segera bantu atasi. Pendekatan yang bisa dilakukan yaitu dengan mendengar dan menampung terlebih dahulu cerita maupun keluh kesah mereka tanpa menghakimi.

Orang tua jika melihat anak lebih muda dari usianya, rasanya ingin menasehati. Padahal, anak-anak seusia tersebut, jika sedang ada masalah butuh didengarkan. Jadi dengarkan, tampung dulu, jangan langsung menghakimi dengan mengatakan “ papa atau mama waktu seumur kamu juga alami tapi cuek aja”. Karena masa sudah berbeda, begitu juga dengan kepribadian satu dengan kepribadian lainnya.

Bila masyarakat atau orang terdekat menyadari ada perubahan terjadi pada remaja yang mengacu pada depresi, namun tidak bisa mengatasi, maka ia menyarankan agar mereka  sesegera mungkin minta bantuan psikolog atau psikiater.

Sedangkan untuk pencegahan, orang tua diharapkan bisa lebih perhatian dan terbuka pada anak. Biasakan mendengarkan apa yang disampaikan oleh anak dan tidak menyepelekan cerita mereka. Sedangkan di sekolah diharapkan lebih memaksimalkan fungsi guru BP. Sejauh ini, banyak guru BP yang bagus dan akhirnya menyarankan orangtua uintuk membawa anak mereka berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.  (Nz, Tim PKRS RSUP dr.Kariadi)

Navigation