Artikel Kesehatan


13-05-2019 | Hit : 140

Semarang - Presbikusis adalah tuli saraf pada usia lanjut akibat proses degenerasi (penuaan) organ pendengaran. Proses ini terjadi secara lambat, berangsur-angsur memberat  dan terjadi pada kedua sisi telinga.

undefineddengar

Penyebab gangguan pendengaran pada presbikusis umumnya merupakan kombinasi dari beberapa hal sebagai berikut:

  • Degenerasi elastisitas gendang telinga
  • Degenerasi sel rambut koklea
  • Degenerasi fleksibilitas dari membran basilar
  • Berkurangnya neuron pada jalur pendengaran
  • Perubahan pada sistem pusat pendengaran dan batang otak
  • Degenerasi jangka pendek dan auditory memory
  • Menurunnya kecepatan proses pada pusat pendengaran di otak (central auditory cortex)

Usia lanjut terjadi juga perubahan organ telinga misalnya degenerasi otot-otot dan tulang-tulang pada telinga tengah.

 

Gejala dan tanda presbikusis secara umum adalah :

  • Berkurangnya kemampuan mendengar
  • Berkurangnya kemampuan mengerti percakapan
  • Telinga menjadi sakit bila lawan bicaranya memperkeras suara
  • Terganggunya fisik dan emosional
  • Hasil pemeriksaan pendengaran didapatkan penurunan tajam (slooping) setelah frekuensi 2000 Hz

 

Faktor risiko kejadian presbikusis antara lain adalah Jenis kelamin laki laki lebih berisiko dibanding perempuan karena laki laki lebih banyak bekerja ditempat bising. Faktor risiko lain adalah kondisi Hipertensi, Diabetes melitus, Kolesterol tinggi, hiperlipidemia, hipertrigliserida, Merokok dan Riwayat terpapar bising.

 

Upaya rehabilitasi dilakukan dengan pemasangan alat bantu dengar (ABD) yang sesuai dengan kebutuhan. Pemasangan alat bantu dengar bertujuan untuk memperkeras (amplifikasi) bunyi yang ada disekitar pengguna.

Kemajuan teknologi ABD saat ini memungkinkan pengguna ABD mendapatkan amplifikasi yang tepat. ABD dengan fasilitas multi channel dapat mengeraskan bunyi yang spesifik pada frekuensi yang mengalami gangguan saja. Selain itu teknologi multi mikrofon dan penyaring (filter) terhadap bising memungkinkan pemahaman percakapan yang lebih baik pada kondisi bising. Hal lain yang cukup penting adalah memilih jenis ABD yang cocok dengan tuntutan gaya hidup dan kemampuan fisik pemakainya. Walaupun telah menggunakan ABD adakalanya masih diperlukan bantuan membaca ujaran bibir (lip reading) namun masalahnya para penderita presbikusis umumnya juga mengalami gangguan penglihatan. 

Penderita presbikusis bila tidak dilakukan upaya rehabilitasi pendengaran maka kemampuan untuk memahami percakapan akan makin terganggu. Masalah fisik dan emosional pada presbikusis antara lain berupa:

  • Terganggunya hubungan perorangan dengan keluarga
  • Kompensasi tingkah laku akibat gangguan pendengaran: pemarah dan mudah frustasi, depresi, menarik diri dari lingkungan (introvert), waham curiga (paranoid), self-critism, berkurangnya aktivitas dengan kelompok sosial, berkurangnya stabilitas emosi.

Angka kesakitan (morbiditas) presbikusis dapat dikurangi dengan upaya penanggulangan secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam mengupayakan usaha tersebut diperlukan kerjasama yang terpadu dari masyarakat itu sendiri, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Pemerintah dalam hal ini institusi kesehatan.

            Masyarakat melalui para kader perlu dilibatkan secara aktif dan inovatif terutama pada tingkat promotif. Lini kesehatan terdepan misalnya Puskesmas, Balai Kesehatan, dll memiliki peran yang besar baik di tingkat promotif, kuratif serta deteksi dini timbulnya komplikasi akibat presbikusis. Selain itu diperlukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan untuk mendiagnosis presbikusis. Skrining pendengaran dilakukan pada pemeriksaan fisik rutin atau pada penderita  dengan usia diatas 60 tahun.

Navigation