Berita Terbaru


05-06-2018 | Hit : 31

Oleh dr Bantar Suntoko, SpPD K-R FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RSUP dr. Kariadi

undefinedlupus

Semarang- (04/06) Sahabat Sehat, penyakit lupus merupakan penyakit pada sistem kekebalan tubuh. Penyakit ini bersifat autoimun. Sifat ini, membuat tubuh memproduksi antibodi berlebih. Tidak hanya untuk menyerang virus dan penyakit, anti bodi ini justru menyerang diri sendiri hingga menyebabkan kerusakan jaringan.

“Penyakit ini juga bersifat sistemik yang artinya menyebar luas ke berbagai organ tubuh. Gejala yang timbul adalah penderita akan cepat lelah, demam berkepanjangan, penurunan berat badan secara drastis,” jelas Kepala division Rematologi RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Bantar Suntoko Sp PD K-R FINASIM.

Gejala lain akan disesuaikan dengan organ yang diserang. Misal kulit, maka akan timbul kemerahan pada kulit hingga membuat rambut mudah rontok sampai pada kebotakan. Selain kulit, penyakit ini juga menyerang organ lain seperti jantung, paru-paru, tulang, darah, saluran cerna, ginjal.

“Bisa juga di saraf pusat. Kalau menyerang di sentral, penderita bisa sampai kejang-kejang dan teriak-teriak. Atau bisa juga menyerang otak yang kemudian meneybabkan depresi dan bingung,” ujarnya.

Dampak panjang dari penyakit ini bisa menyebabkan kesakitan luar biasa. Lebih jauh, penyakit ini bahkan bisa menyebabkan kematian. “Penyakit ini berlangsung lama. Kadang-kadang akan kumat, kadang hilang,” terangnya.

Penyakit ini dijelaskan dr Bantar, rentan menyerang perempuan usia muda antara 20-30 tahun atau pada usia subur. Meski demikian, penyakit Lupus juga bisa menyerang laki-laki.

Hingga saat ini masih belum diketahui penyebab secara pasti penyakit ini. Kebanyakan, adalah karena faktor genetik. Namun juga dapat dipicu oleh faktor lingkungan, seperti paparan sinar matahari, obat-obatan, hormonal dan infeksi virus.

Karena bersifat genetik, bisa jadi orang yang menderita penyakit ini akan menurunkan kepada anaknya. Upaya yang dapat dilakukan adalah sesegera mungkin melakukan deteksi diri pada penyakit ini. Jika memang terkena, maka disarankan menjaga kesehatan dengan didampingi dokter. “Sementara kalau belum ada, bisa menjaga tubuh dengan pola hidup sehat,” ujarnya.

Akan tetapi, lanjutnya, kadang-kadang penyakit ini tidak mudah terlihat karena berlangsung lama. Bahkan hingga puluhan tahun pasien sudah memiliki penyakit ini, namun tidak terlihat gejala-gejalanya. Untuk kasus seperti ini, pasien disarankan untuk selalu kontrol secara rutin dan mengonsumsi obat sesuai yang dianjurkan dokter. “Namun, karena ini penyakit kadanf muncul dan kadang hilang, ada juga pasien yang tidak minum obat,” ujarnya.

Navigation