Artikel Kesehatan


25-10-2012 | Hit : 7081

Kanker saat ini menjadi penyakit dengan sebaran yang tinggi di samping jantung, dan penyakit pembuluh darah. Di RSUP Dr Kariadi, Semarang, hampir di setiap bangsal terdapat pasien dengan penyakit mematikan tersebut. Untungnya, teknologi kedokteran yang berkembang pesat membuat harapan hidup penderita kanker kini semakin besar, terutama jika deteksi dilakukan lebih dini.

Salah satu cara pengobatan kanker adalah dengan radioterapi, yakni metode yang menggunakan energi pengion (x-ray, zat radioaktif) kepada lokasi tumor atau kelenjar getah bening. "Pengobatan lain adalah dengan pembedahan dan kemoterapi. Kombinasi ketiga metode akan memberikan hasil yang lebih optimal," ujar spesialis Radiologi dari RSUP Dr Kariadi, Semarang, Dr Christina Hari Nawangsih SpRad.

Pengobatan dengan radioterapi sudah ada sejak kurang lebih seratus tahun lalu, tidak lama setelah Prof. Willem Conrad Roentgen menemukan sinar X. Dengan berkembangnya ilmu kedokteran dan teknologi, metode ini makin mendapat tempat dalam pengobatan penyakit kanker.

Prinsip pengobatan ini adalah apabila berkas sinar radioaktif atau partikel dipaparkan ke jaringan, maka akan terjadi berbagai peristiwa antara lain peristiwa ionisasi molekul air yang mengakibatkan terbentuknya radikal bebas di dalam sel yang pada gilirannya akan menyebabkan kematian sel. Lintasan sinar juga menimbulkan kerusakan akibat tertumbuknya DNA (deoxy ribonucleic acid) yang dapat diikuti kematian sel.

Sebenarnya baik sel kanker maupun sel normal akan mengalami peristiwa yang sama, hanya saja pada sebagian besar jenis kanker memperlihatkan kepekaan yang lebih tinggi terhadap sinar ini daripada sel-sel normal. Jadi diharapkan, pada pengobatan penyakit kanker, semua sel kanker telah mengalami kematian sebelum terjadi cedera yang berlebih pada sel-
UNIT radiologi RSUP Dr. Kariadi
sel normal yang masih hidup. Jadi saat pemberian radiasi dihentikan, sel normal ini akan kembali sehat seperti sediakala.

Untuk itu, sinar yang diberikan tidak boleh melewati ambang dosis kemampuan hidup sel normal. Jaringan yang ikut terpapar radiasi juga tidak boleh terlalu banyak. Ini berarti makin sedikit jumlah sel kanker yang disinar makin tinggi kemungkinan penyembuhannya. Jadi, bila benjolan relatif masih kecil maka pengobatan akan lebih efektif.

Dr Hari Nawangsih menambahkan, pengobatan radioterapi biasanya diberikan dalam beberapa minggu. Daerah yang disinari adalah yang tidak bisa dijangkau oleh pembedahan. Sebagai misal pada kanker nasofaring (daerah di belakang rongga hidung sampai di bawah atap tulang tengkorak) dan kanker otak.

"Dari tingkat keganasannya, kanker yang banyak dijumpai di Kariadi adalah leher rahim, payudara dan nasofaring. Selain itu saat ini mulai banyak yang menderita kanker paru-paru. Biasanya pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena kadangkala gejala kanker paru tidak terasa di stadium awal," kata Dr Hari Nawangsih.

Dalam penggunaannya, radioterapi bisa diberikan sebelum, bersamaan, ataupun setelah pengobatan. Hal ini tergantung tujuannya, apakah untuk tujuan kuratif yaitu kesembuhan atau tujuan paliatif yakni dalam rangka memperbaiki kualitas hidup penderita.

Meski teknologi semakin canggih, ditandaskan Dr Hari Nawangsih, paling utama adalah tetap menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan (diet) terutama menghindari makanan kaya lemak, istirahat yang cukup dan olahraga.

Karena, sehebat apa pun pengobatan tetap memiliki efek samping. Untuk Radioterapi, dampak penggunaannya antara lain kulit kemerahan, timbul gelembung, kerusakan kulit, hingga terjadi ulkus atau jaringan nekrotik. Juga, efek lanjutan seperti pengerutan jaringan atau fibrosis, mulut kering, dan pendarahan.
Sumber:Warta Jateng 

Navigation