Artikel Kesehatan


28-12-2017 | Hit : 43

PERAN DOKTER ANESTESI DI RUMAH SAKIT

 

Widya Istanto SpAn, KAKV, KAR

KSM Anestesiologi dan Terapi Intensif  RSUP Dr. Kariadi, Semarang

Pendahuluan
Pada era globalisasi ini, beberapa masyarakat masih beranggapan bahwa ilmu anestesi identik dengan kegiatan praktek di dalam kamar operasi untuk memberikan obat yang akan membuat penderita masuk dalam keadaan tidak sadar atau terbius, sehingga dokter bedah dapat melakukan tugasnya yaitu melakukan pembedahan terhadap penderita, padahal keadaan tersebut di atas merupakan gambaran anestesiologi pada awal sejarah pertumbuhannya.
Ketika seorang pasien akan menjalani operasi, sebagian besar dari mereka memikirkan bahwa dokter anestesi adalah “ dokter dengan masker di wajah” yang akan membuat mereka tidur sebelum dilakukan tindakan pembedahan dan membangunkan mereka setelah operasinya selesai. Sebagian besar dari pasien tidak menyadari seberapa besar tanggung jawab dokter anestesi diantara tindakan “menidurkan sampai membangunkan” pasien tersebut. Kadang-kadang mereka lupa pernah “berkenalan” dengan dokter anestesi.

Sejarah
Sejarah anestesiologi diawali pada tanggal 16 oktober 1846 oleh Willian T.G. Morten yang berhasil mendemonstrasikan penggunaan ether didepan umum di Masachusetts General Hospital pada tindakan operasi. Morten adalah seorang dokter gigi yang pada saat yang sama juga menjadi mahasiswa kedokteran. Oleh dr. Oliver Wendell Holmes kemudian tindakan tersebut dinamakan anestesia. Dalam perjalanannya, anestesiologi pernah mengalami periode stagnasi yang panjang, yang hanya kadang-kadang jasa dan kemajuan sedikit dan sporadik yaitu periode tahun 1846 sampai akhir perang dunia I (1920). Namun demikian dalam kurun waktu tersebut terdapat beberapa tokoh yang perlu dikenang antara lain John Snow dari London (1813 – 1857), yang merupakan dokter pertama yang mengabdi diri sepenuhnya pada bidang anestesi. John Snow disamping seorang anestetist juga seorang guru dan peneliti, serta juga dikenal sebagai bapak epidemiologi. Tokoh lain ialah James Young Simpson yang merintis Obstetric Anesthesia, Colton yang dikenal karena menemukan Nitrous Oksida (1863), Paul Bert (1887), Claude Bernard yang banyak konstribusinya dalam fisiologi narkosi Halstead dengan anestesi lokal, Leonard Corning dengan epidural anestesi dan August Bier dengan spinal anestesia dan anestesi regional intravena.
Sedangkan perkembangan anestesiologi di Indonesia telah dirintis oleh Prof. Muh. Kelan. Selain perkembangan dalam teknik anestesi, alat anestesipun berkembang dan dikenal beberapa era. Perkembangan ini dimulai dari era permulaan yaitu tahun 1846 – 1850 dimana pada waktu itu anestesi dilakukan hanya dengan menggunakan sapu tangan yang ditetesi chloroform atau menggunakan ether yang diberi dengan handuk yang dilipat yang kemudian ditutupkan pada hidung penderita. Menjelang abad ke-21 ini obat-obat anestesi dan teknik pemberiannya sudah berkembang pesat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era komputerisasi.

Ruang Lingkup Anestesiologi Di Jaman Modern
Anestesiologi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang tidak berorientasi pada organ atau umur, tetapi pada fungsi. Dengan demikian maka hubungan dengan cabang-cabang ilmu kedokteran (klinik) yang lain cukup banyak, bahkan seringkali di ruang lingkup anestesi merupakan titik temu persilangan cabang ilmu medik dan bedah. Ruang lingkup anestesiologi kini sudah jauh berbeda dibanding dengan keadaan yang digambarkan pada awal sejarah seperti diatas. Anestesiologi tidak lagi dibatasi oleh ruang pembedahan, tetapi telah meluas ke ruang pulih sadar dan terapi/perawatan intensif.
Di dalam mukadimah AD-ART Ikatan Dokter Spesialis Anestesiologi sebagai cabang dari ilmu kedokteran, adalah ilmu yang mendasari berbagai usaha dalam hal pemberian anestesia dan analgesia, serta menjaga keselamatan penderita yang mengalami pembedahan atau tindakan-tindakan lainnya : melakukan tindakan bantuan resusitasi kepada penderita-penderita yang gawat, mengelola Unit Perawatan Intensif, memberi pelayanan terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun, bersama-sama dengan cabang ilmu kedokteran yang lain serta masyarakat ikut aktif mengelola kedokteran gawat darurat.

Tugas Dan Tanggung Jawab Dokter Anestesi
Tindakan anestesi adalah tindakan ilmu kedokteran (bukan perawatan), karena itu tindakan anestesi hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter dan sebaiknya Dokter Spesialis Anestesiologi (DSAn). Bila tindakan ini dilakukan oleh perawat anestesi maka ini adalah atas instruksi dan tanggung jawab dokter bedah. Di kamar bedah dokter anestesi adalah partner dokter bedah. Masing-masing anggota tim mempunyai tugas dan tanggung jawab tersendiri. Dokter bedah melakukan tugas pembedahan untuk menghilangkan penyakit dan mengoreksi kelainan anatomi pasien, sedang tugas dokter anestesi adalah :
- Menghilangkan rasa nyeri dan stress emosi selama pembedahan atau prosedur medik lain (diagnostik, instrumentasi, terapoetik).
- Melakukan pengelolaan tindakan medik umum kepada pasien yang dioperasi, menjaga fungsi organ tubuh dalam batas-batas normal sehingga keselamatan melakukan tugas secara mudah dan efektif.
- Menciptakan kondisi operasi yang sebaik mungkin agar dokter bedah dapat melakukan tugas secara mudah dan efektif.
Tugas lain dokter anestesi di luar kamar bedah adalah :
- Mengelola pasien yang kritis akut oleh sebab pembedahan, penyakit berat atau kecelakaan. Tugas ini dilakukan di ICU
- Mengelola penderita dengan keluhan nyeri
- Mengelola tindakan resusitasi pada pasien gawat darurat yang terancam kelangsungan hidupnya oleh apapun sebabnya.

Tahapan Tahapan Pembiusan
Sebelum operasi
Tanggung jawab dokter anestesi dimulai dari sebelum prosedur operasi dilaksanakan. Di fase ini, dokter anestesi membuat evaluasi praanestesi dan membuat rencana anestesi untuk operasi.
Dokter akan mempertimbangkan :
• Kondisi pasien saat ini dan sejarah kesehatan pasien sebelumnya. Apakah pasien memiliki riwayat penyakit tertentu yang mungkin bisa memengaruhi pembiusan, apakah pasien sedang dalam pengobatan untuk penyakit tertentu, dan lain sebagainya.
• Hasil pemeriksaan penunjang (lab, ekg, radiologi, dan penunjang lain)
• Layak atau tidaknya pasien menjalani pembiusan
• Jenis pembiusan yang sesuai
Secara umum dokter anestesi bertanggung jawab mendiagnosis dan menangani masalah yang ada dan yang mungkin akan muncul dalam pembiusan.

Saat operasi
Di kamar operasi, dokter anestesi menentukan teknik anestesi yang akan digunakan, menyesuaikan dengan jenis operasi dan kondisi pasien. Di samping itu faktor ketersediaan alat dan obat juga menentukan jenis teknik anestesi yang dipilih.
Ketika operasi berlangsung, peran dokter anestesi masih diperlukan untuk mendampingi pasien selama operasi. Selama prosedur berjalan, dokter anestesi akan memantau fungsi organ atau tanda-tanda vital pasien seperti denyut dan irama jantung, pernapasan, tekanan darah. Pernapasan juga dipantau dari mesin anestesi yang di kebanyakan kamar operasi sudah memiliki fungsi ventilasi mekanik. Dokter juga bertanggung jawab memantau kecukupan cairan dan menjaga pasien tetap dalam keadaan terbius selama operasi. Selain itu, dokter anestesi juga akan mengawasi tingkat nyeri pasien. Dari semua pemantauan yang dilakukan selama operasi, dokter anestesi dapat mencegah atau mengatasi komplikasi yang muncul selama operasi, sehingga keselamatan pasien tetap terjaga.

Sebagai gambaran, yang harus dipantau seorang dokter anestesi dalam operasi antara lain, jumlah cairan infus yang masuk, jumlah urin yang keluar, jumlah perdarahan, dinamika monitor tanda-tanda vital, dinamika monitor mesin anestesi, jumlah gas yang dialirkan dari mesin anestesi, sampai tindakan apa yang sedang dilakukan oleh dokter bedah dan imbasnya terhadap pasien. Sehingga dapat dibayangkan seorang dokter anestesi harus selalu siaga mata, telinga, dan pikiran dalam pemantauan selama operasi, dan menilai perubahan fisiologis dari pasien yang tertidur, sehingga bisa mengambil keputusan dan tindakan yang diperlukan dengan tepat.
Hal-hal yang berlangsung selama pembiusan dan operasi juga nantinya akan berperan besar dalam menentukan apakah pasien dapat kembali pulih dari pembiusan atau akan memerlukan perawatan intensif pasca operasi, di mana itu juga menjadi tanggung jawab dokter anestesi.
Masing-masing pasien memiliki respon yang berbeda-beda terhadap pembiusan atau terhadap pengaturan mesin anestesi (ventilasi mekanik). Untuk jenis operasi yang sama, jenis pembiusan yang sama, respon seorang pasien dapat berbeda satu dengan yang lain. Oleh karena itu pemantauan harus dilakukan secara terus menerus oleh dokter anestesi.
Jadi, tugas dokter anestesi tidak berakhir dengan menidurkan pasien, tetapi masih terus berlangsung selama operasi berjalan, sampai selesai, bahkan setelah pasien selesai operasi.

Setelah operasi
Setelah operasi selesai, tugas dokter anestesi tidak serta-merta ikut terhenti. Ia ikut tanggung jawab memantau kesadaran dan kondisi pasien selama fase pemulihan. Dokter anestesi juga diperlukan untuk melaksanakan perawatan terhadap rasa nyeri yang muncul setelah operasi hingga pasien merasa nyaman.

Mungkin selama ini Anda tidak terlalu memikirkan mengenai pembiusan seperti apa yang akan diberikan jika Anda akan dioperasi. Tidak ada salahnya mulai sekarang Anda menanyakan atau berdiskusi dengan dokter anestesi mengenai pembiusan yang akan diberikan.


Daftar Pustaka:
1. The Practice of Anesthesiology: Introduction. In: Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Clinical Anesthesiology. 5th ed. 2013.
2. Wacker J, Staender S. The role of the anesthesiologist in perioperative patient safety. Current Opinion in Anaesthesiology. 2014;27(6):649-656. doi: 10.1097/ACO. 0000000000000124.
3. Texas society of Anesthesiologists. The role of anesthesiologists – from surgical anesthesia to critical care medicine and pain medicine. http://www.tsa.org/public/anesthesiologist_role.php

 

 

 

Navigation