Artikel Kesehatan


04-10-2017 | Hit : 10

PERKEMBANAN PENGOBATAN HIV-AIDS

Oleh: Muchlis AU Sofro

KSM PENYAKIT DALAM RSUP Dr. KARIADI 

Bulan Desember adalah bulan peringatan HIV-AIDS, karena tanggal 1 Desember adalah tanggal meninggalnya pasien AIDS pertama di dunia. Dengan demikian tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal peringatan Hari AIDS sedunia.

Tujuan pengobatan pasien HIV-AIDS adalah mencegah munculnya infeksi ikutan (infeksi oportunistik) yang menyerang pasien HIV akibat penurunan daya tahan tubuh, dan mengurangi kematian, meningkatkan umur harapan hidup serta mencegah penularan. Pasien terinfeksi HIV akan bertahan sehat selama 5 – 7 tahun, setelah itu akan muncul gejala infeksi ikutan yang menyerang dan memasuki tahap AIDS.

Jika infeksi ikutan berupa jamur di mulut, maka pasien akan mengeluh nafsu makan menurun, rasa perih di rongga mulut. Apabila Tuberkulosis Paru yang menyerang maka pasien mengeluh batuk lama (> 3 minggu), demam di malam hari, berkeringat, dan berat badan turun. Dengan pengobatan antiretroviral/obat ARV (obat untuk mencegah perkembang biakan HIV), maka infeksi ikutan bisa tidak menyerang.

Pengobatan ARV mampu mengurangi angka kematian dan memperpanjang usia harapan hidup pasien HIV. Di RSUP Dr Kariadi sudah ada pasien HIV yang mengkonsumsi obat ARV 12 tahun, di RSCM Jakarta sudah ada yang 18 tahun, di Australia ada pasien yang 28 tahun minum obat ARV, sampai sekarang sehat.

Dengan mengkonsumsi obat ARV secara teratur dan sesuai anjuran dokter akan mencegah penularan. Sudah ada 41 suami yang tidak tertular HIV dari isteri yang terinfeksi HIV karena isteri minum obat ARV teratur. Semakin banyak bayi lahir tidak tertular HIV walaupun ibunya terinfeksi HIV namun minum obat ARV sejak awal kehamilan.

Ukuran keberhasilan pasien HIV dalam menjalani pengobatan adalah: viral load (perbanyakan virus HIV di dalam darah) menjadi tidak terdeteksi. Artinya hasil pemeriksaan darah menunjukkan viral load mendekati nol. Virus HIV tidak beredar di darah tapi bersembunyi di kelenjar getah bening usus. Pemeriksaan viral load sebaiknya dilakukan setahun sekali. Di RSUP Dr Kariadi sudah ada pemeriksaan ini.

Dalam jangka panjang diharapkan pasien HIV yang minum obat ARV dapat memasuki usia lanjut meskipun terinfeksi HIV. Diperlukan kemudahan akses untuk mendapat obat ARV. Saat ini semua Kabupaten/Kota di Jawa Tengah sudah bisa memberikan layanan obat ARV dan ada 50 Rumah sakit di Jawa yang menyediakan obat ARV yang dibiayai pemerintah. Di Kota Semarang ada 7 RS dan 2 Puskesmas (Halmahera dan Lebdosari).

Agar semua pasien HIV mendapat pengobatan ARV sedini mungkin, maka diperlukan peran petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan) untuk secara aktif menganjurkan tes HIV bagi pasien yang dicuriga terinfeksi HIV. Semua ibu hamil dianjurkan tes HIV. Pasien Tuberkulosis Paru, Infeksi menular seksual, harus diskrining HIV.

Semua calon pengantin disarankan untuk tes HIV, jika salah satunya positif HIV tidak harus menggagalkan pernikahan. Ada cara agar tidak menularkan ke pasangannya. Jika salah satu pasangan positif maka hubungan seks menggunakan pengaman dan selalu teratur minum obat ARV bagi yang terinfeksi HIV. Apabila ingin mempunyai anak tetap ada kesempatan, dan bisa tidak menularkan ke anaknya.

Di RSCM Jakarta ada program “sperma washing” pencucian sperma. Suami yang HIV positif, isteri HIV negative, dapat menghamili Isteri tanpa menularkan virus HIV. Sperma suami dicuci agar bebas dari virus HIV lalu disuntikkan ke Rahim isteri (melalui inseminasi buatan dan atau lewat program bayi tabung).

Pengobatan Dini

Semua pasien HIV sebaiknya secara dini memulai minum obat ARV, terutama jika kekebalan tubuh (CD4) kurang dari 350 sel/ml. Ada beberapa keadaan yang tidak memerlukan panduan CD4 antara lain: Pasien HIV yang ada TB Paru, Hepatitis B, ibu hamil, ibu menyusui, Lelaki seks lelaki, Pekerja seks komersial, dan pengguna jarum suntik narkoba. Mereka langsung mendapat obat ARV sedini mungkin.

Setelah memulai pengobatan ARV harus diperhatikan kepatuhan dan keteraturan minum obat ARV. Bisa dibayangkan pengobatan Tuberkulosis yang 6 bulan saja ada sebagian yang drop-out di tengah jalan. Apalagi pengobatan ARV yang berlangsung seumur hidup. Sangat diperlukan dukungan keluarga untuk mengingatkan pasien HIV agar teratur minum obat. Apabila pengobatan tidak teratur dikhawatirkan akan menurunkan daya tahan tubuh yang ditandai penurunan CD4 dan peningkatan jumlah virus di dalam darah (viral load meningkat).

Diharapkan 90% pasien yang terinfeksi HIV dapat terdeteksi dengan baik. Dari yang terdeteksi HIV positif diharapkan 90% nya memulai pengobatan ARV sedini mungkin. Dan 90% pasien yang mengkonsumsi ARV memiliki viral load yang tidak terdeteksi.

            Sampai dengan bulan Desember Tahun 2015 di Indonesia diperkirakan terdapat 600.000 pasien HIV.  Baru ditemukan 174.923 orang yang diketahui HIV positif. Dari jumlah tersebut yang masih minum obat ARV: 53.233 (55%, belum mencapai 90%).

            Angka kematian pasien HIV menurun tajam setelah ada pengobatan ARV. Tahun 2000 hampir semua pasien AIDS yang dirawat di rumah sakit meninggal dunia. Tahun 2005 prosentase yang meninggal turun menjadi 13% dan tahun 2015 tinggal 0,21%. Artinya setelah ada obat ARV pasien AIDS yang dirawat di rumah sakit berkesempatan lebih banyak untuk tidak meninggal. Harapan hidup pasien HIV-AIDS mendekati populasi non HIV.

            Pasien HIV-AIDS yang mengkonsumsi obat ARV dapat tetap produktif dan bekerja sesuai dengan kompetensinya. Kantor atau perusahaan tempat bekerja seyogyanya memberikan kesempatan yang sama kepada pasien HIV-AIDS yang sudah terlihat sehat untuk bekerja sebagaimana sebelum terinfeksi HIV.

            Namun demikian, pengobatan ARV sesungguhnya belum dapat mengembalikan status imun pasien ke tingkat yang normal sebagaimana pasien non HIV. Sebab tetap terjadi proses pengaktivan system kekebalan tubuh yang berlangsung terus menerus. Hal ini menyebabkan proses inflamasi (peradangan) kronis.

           

            Penuaan Dini

            Akibat lanjut dari proses peradangan kronis adalah proses menua menjadi lebih cepat. Pada penelitian kami pada ODHA di RSUP Dr Kariadi, terdapat 25% ODHA yang berusia muda (20-40 tahun) mengalami demensia atau kepikunan.

            Proses peradangan kronis meningkatkan risiko penyakit degenerative yang lebih besar. ODHA menjadi lebih berpeluang terkena Hipertensi, Diabetes Mellitus, Penyakit Jantung Koroner, maupun Stroke akibat peradangan kronis yang disebabkan infeksi HIV. Dengan demikian pasien yang terinfeksi HIV setelah usia lanjut bukan mengalami AIDS tapi mungkin mengalami penyakit degenerative di atas. Di Usia lanjut pasien HIV dapat meninggal bukan karena AIDS tapi akibat serangan penyakit DM, Hipertensi, Penyakit Ginjal kronik, Stroke dan sebagainya.

            Pemberian obat ARV dalam jangka panjang tentu ada risiko munculnya efek samping, khususnya efek samping metabolic terutama penggunaan obat ARV jenis stavudin, alluvia. Jadi perlu pemantauan berkala terhadap kemungkinan munculnya efek samping metabolic dengan memeriksakan kadar kolesterol, trigliserid, HDL, LDL.

            Mengingat keberhasilan pengobatan ARV antara lain menyebabkan ODHA bisa hidup sampai usia lanjut, maka perlu difikirkan untuk memantau kehadiran penyakit yang terkait dengan usia lanjut: hipertensi, Diabetes mellitus, Penyakit jantung coroner, stroke.

            Pengobatan HIV jangka panjang sebagian dapat menyebabkan HAND HIV (HIV Associated Neurocognitive Disorder), gangguan pada kognitif pasien. Di Indonesaia prevalensinya cukup tinggi, sekitar 40%. Pasien menjadi mudah lupa, gangguan konsentrasi, dan memorinya terbatas. Untuk itu diperlukan peran dan dukungan keluarga, agar program kepatuhan minum obat ARV tetap terjaga.

            Keberhasilan terapi ARV

            Untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan ARV di seluruh Indonesia, diperlukan Panduan Nasional Terapi ARV, agar setiap dokter yang melayani obat ARV mempunyai standar mutu pengobatan yang sama.

            Didukung pelaksanaan SUFA (Strategic Use For Antiretroviral). Pengobatan ARV tidak hanya di Rumah Sakit, akan tetapi perlu didukung oleh peran serta Pusat Kesehatan Masyarakat. Hal ini akan mendekatkan keterjangkauan pengobatan ARV kepada ODHA. Dokter Puskesmas perlu mendapatkan pelatihan khusus terapi ARV, sebab pengobatannya agak rumit, efek sampingnya lumayan, dan memerlukan kepatuhan yang tinggi. Kemampuan dan partisipasi petugas kesehatan dalam pengobatan ARV juga perlu ditingkatkan, sebab pengobatan ARV memerlukan hati yang tulus dan focus kepada ODHA.

            Distribusi obat ARV perlu menjaga kesinambungan, mengingat pengobatan seumur hidup dan harus tepat waktu saat mengkonsumsi obat. Jangan sampai obat ARV mengalami “stock out” (kehabisan). Saat ini mulai digalakkan desentralisasi obat ARV. Obat ARV dikirim ke gudang farmasi di tiap Dinas kesehatan Propinsi, lalu didistribusikan ke Pemberi layanan obat ARV.

            Diperlukan pemantauan pengobatan yang optimal. Pemeriksaan klinis tiap bulan, saat ODHA mengambil obat ARV dengan menanyakan kemungkinan munculnya efek samping. Pemeriksaan berkala CD4 tiap 6 bulan dan Pemeriksaan viral load untuk melihat perkembang biakan virus HIV setiap 12 bulan.

            Mengingat pelayanan ARV memerlukan peran serta petugas kesehatan yang menyeluruh, maka diperlukan keterpaduan pelayanan, mulai dari promosi kesehatan agar meminimalkan penularan HIV, penemuan dini infeksi HIV dengan tes diagnostic sampai ke tingkat puskesmas, pengobatan seawall mungkin, dan pemantauan efek samping ARV. Disamping itu diperlukan pengawasan minum obat oleh keluarga terdekat dan memacu kepatuhan minum obat mendekati 95%.

            Obat ARV yang beredar sekarang ini sebagian besar adalah jenis ARV lini pertama (97%), sedangkan sisanya (3%) jenis ARV lini ke dua. Tidak tertutup kemungkinan aka nada resistensi pengobatan ARV lini ke dua, sehingga perlu dipertimbangkan untuk penyediaan obat ARV lini ketiga yang harganya relative mahal.

            Untuk mengurangi angka kejadian resistensi terhadap pengobatan ARV maka ODHA didorong untuk secara teratur dan terukur sesuai anjuran dokter mengkonsumsi obat ARV. Jadikanlah ARV sebagai penyemangat hidup. Karena dengan obat ARV dapat mengurangi penderitaan (akibat infeksi ikutan) dan memperpanjang usia, serta mampu mencegah penularan HIV ke suami atau isteri serta anak yang dikandungnya.

            Tetap sehat dan sukses dengan infeksi HIV.***

 

DR Muchlis AU Sofro, spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi, FK UNDIP.

           

  • Panduan nasional
  • Sufa
  • Kemampuan dan partisipasi petugas kesehatan
  • Ketersediaan obat
  • Distribusi obat
  • Pemantauan terapi : Early warning indicators, CD4, viral load
  • Integrasi ke pelayanan kesehatan yang sudah ada

 

 

           

 

Navigation