Artikel Kesehatan


20-01-2017 | Hit : 59

RSUP Dr. Kariadi -Senyuman merupakan komponen penting dalam pergaulan. Ketika senyum mengembang, gigi dan gusi muncul dari balik mulut. Apa jadinya, jika gusi tersebut tak berwarna pink atau merah, melainkan coklat atau coklat kehitaman? Gelapnya warna gusi akan mengurangi kepercayaan diri bagi orang yang memperhitungkan gaya hidup.

Hal itu disampaikan dokter gigi Rendi Sumali dari RSUP dr Kariadi. Menurutnya, persoalan gusi tersebut lebih condong pada estetika. Bukan sebuah kelainan atau penyakit. Orang yang peduli terhadap penampilan gusi lazimnya terkait dengan momen istimewa seperti pernikahan dan menyiapkan foto preweeding. "Di RSUP dr Kariadi telah ada dokter dan alat yang mumpuni untuk mengatasi persoalan gusi itu. Di sini ada klinik kecantikan yang salah satu bidangnya ada rehabilitasi gusi," katanya.

Rendy mengatakan, penyebab gusi berubah warna karena dua faktor yakni endogen dan eksogen. Eksogen berasal dari dalam tubuh sendiri seperti keturunan dan genetik. Dia mencontohkan, orang dengan kulit hitam gusinya cenderung ada bercak-bercak hitam. Bukan merah muda atau pink seperti pada umumnya. Mengubah warna gusi karena faktor tersebut tak dapat dilakukan.

Peluang memperbaiki gusi dimungkinkan terjadi pada penyebab yang bersifat eksogen atau dari luar tubuh. Pola hidup tak sehat seperti merokok menyumbang faktor paling besar pada perubahan warna gusi. Selain itu, pengaruh logam berat seperti timbal juga ikut menyumbang. Obat antibiotik dosis tinggi pada waktu kecil juga berpengaruh.

 "Orang merokok itu ada nikotinnya. Bekasnya melekat pada gusi. Timbal yang dihirup dari bensin itu bisa juga. Jadi orang-orang yang bekerja di pom bensin beresiko gusinya jadi cokat atau coklat kehitaman," ujarnya.

Pendekatan Bedah

Dalam menormalkan gusi terdapat tiga pendekatan yakni ablasi, bedah dan laser. Teknik ablasi, katanya, seperti mengamplas atau mengasah gusi. Bagian gusi yang berwarna hitam diambil, sehingga muncul perubahan pada gusi yang menjadi merah muda atau pink lagi setelah 7-14 hari. Pada 21 hari setelah tindakan, gusi akan normal kembali.

Cara kedua dengan pembedahan melalui cangkok yang berfungsi menebalkan gusi dan membuat gusi normal. Donor gusi diambilkan dari gusinya sendiri seperti di langit-langit mulut untuk kemudian ditambal pada gusi yang warnanya telah berubah.

Pendekatan ketiga, yakni laser mampu menimimalkan pendarahan dan rasa sakit dibandingkan dengan dua cara sebelumnya. Rendy menegaskan, hasil dari tiga metode yang digunakan memiliki kesamaan. Hanya saja, metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan pasien.

Persoalan perubahan warna gusi tersebut dipengaruhi pola hidup. Jika pola hidup tak sehat seperti merokok masih dilakukan, meski gusi telah dinormalkan, maka warna gusi akan kembali coklat atau coklat hitam. 

Navigation