Berita Terbaru


13-03-2019 | Hit : 24

Pilihan Terapi pada Kanker Usus Besar

 

 

Pilihan dan rekomendasi terapi kanker usus besar tergantung pada beberapa faktor, seperti stadium kanker, histopatologi, kemungkinan efek samping, kondisi pasien dan preferensi pasien. Terapi bedah merupakan modalitas utama untuk kanker stadium dini dengan tujuan kuratif. Kemoterapi adalah pilihan pertama pada kanker stadium lanjut dengan tujuan terapi paliatif. Radioterapi merupakan salah satu modalitas terapi kanker rektum. Saat ini, terapi biologis (targeted therapy) dengan antibodi monoklonal telah berkembang pesat dan dapat diberikan dalam

berbagai situasi klinis, baik sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan modalitas terapi lainnya.

 

Berbagai pilihan pengobatan kanker usus besar

  1. Operasi untuk kanker usus besar stadium awal

Jika kanker Anda kecil, terletak di polip, dan stadiumnya masih sangat awal, dokter mungkin bisa sepenuhnya mengangkat kanker Anda dengan kolonoskopi.

Polip yang lebih besar bisa diangkat menggunakan reseksi mukosa endoskopi atau transanal endoscopic microsurgery. Jika ahli patologi menentukan bahwa kanker tersebut sudah terangkat sepenuhnya, maka tidak diperlukan pengobatan tambahan.

 

 

  1. Operasi untuk kanker usus besar invasif

Jika kanker usus besar Anda telah menyerang ke dalam atau menembus usus besar, dokter bedah bisa menganjurkan kolektomi parsial untuk mengangkat bagian usus besar yang mengandung kanker, bersama dengan margin jaringan normal di setiap sisi kanker. Kelenjar getah bening terdekat biasanya juga diangkat dan diuji laboratorium untuk kanker.

Dokter bedah seringkali mampu untuk menyambungkan kembali bagian usus besar atau rektum yang sehat. Namun, saat itu tidak dimungkinkan, misalnya jika kanker berada di saluran keluar rektum, Anda mungkin perlu menjalani kolostomi temporer atau permanen. Ini mencakup membuat jalan masuk di dinding perut dari bagian usus yang tersisa untuk membuang kotoran tubuh ke dalam kantung khusus. Terkadang kolostomi hanya bersifat sementara, memberikan kesempatan bagi usus besar atau rektum untuk pulih setelah operasi. Namun, dalam beberapa kasus, kolostomi bisa bersifat permanen.

Kolektomi secara laparasokopik merupakan pilihan penatalaksanaan bedah untuk kanker kolorektal. Dalam prosedur ini, dokter bedah akan menjalankan operasi melalui beberapa sayatan kecil di dinding perut, memasukkan peralatan dengan kamera untuk memunculkan gambar usus besar Anda pada video monitor.

 

      

 

Bukti-bukti yang diperoleh dari beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bedah laparoskopik untuk kanker kolorektal memiliki kelebihan dibandingkan dengan bedah konvensional (open surgery), seperti berkurangnya nyeri pasca operasi, penggunaan analgetika, lama rawat di rumah sakit, dan jumlah perdarahan. Sementara itu, tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik dalam hal angka ketahanan hidup keseluruhan atau overall survival (OS), ketahanan hidup bebas penyakit atau disease free survival (DFS), dan kekambuhan lokal di antara bedah laparoskopik dibandingkan open colectomy.

Kriteria pertimbangan untuk melakukan kolektomi laparoskopik: Dokter bedah sudah berpengalaman melakukan pembedahan kolorektal menggunakan laparoskopi; Diperlukan eksplorasi intra abdomen sebelum tindakan definitif; Dilakukan pada tumor stadium dini sampai stadium lanjut lokal yang masih resectable; Tidak ada peningkatan tekanan intraabdomen seperti obstruksi atau distensi usus akut karena tumor.

 

  1. Operasi untuk kanker usus besar stadium lanjut

Jika kanker Anda sangat parah atau kesehatan Anda secara menyeluruh tergolong sangat buruk, pengobatan kanker usus besar yang mungkin paling direkomendasikan adalah operasi untuk menghilangkan penyumbatan di usus besar atau konsisi lainnya untuk meringankan gejala Anda. Operasi ini tidak dilakukan untuk menyembuhkan kanker, tetapi untuk meredakan tanda-tanda dan gejala, seperti perdarahan dan rasa nyeri.

Dalam kasus khusus dimana kanker telah menyebar hanya ke hati, dan jika kesehatan Anda secara keseluruhan baik, dokter bisa menganjurkan operasi untuk mengangkat lesi kanker dari hati Anda. Kemoterapi bisa digunakan sebelum atau setelah jenis operasi ini. Pengobatan ini bisa memperbaiki prognosa Anda.

 

  1. Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan sel-sel kanker. Kemoterapi untuk kanker usus besar dilakukan dengan berbagai pertimbangan, antara lain adalah stadium penyakit, risiko kekambuhan dan performance status. Berdasarkan pertimbangan tersebut kemoterapi pada kanker kolorektal dapat dilakukan sebagai terapi adjuvant, neoadjuvant atau paliatif.

Kemoterapi adjuvant diberikan setelah operasi jika kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening. Dengan cara ini, kemoterapi bisa membantu mengurangi risiko kekambuhan kanker.

Kemoterapi bisa digunakan sebelum operasi (neoadjuvant) untuk menyusutkan kanker sebelum operasi. Pada penderita kanker rektum, kemoterapi biasanya digunakan bersama dengan terapi radiasi.

Kemoterapi juga bisa meredakan gejala kanker usus besar yang telah menyebar ke area tubuh lainnya (kemoterapi paliatif).

 

  1. Terapi radiasi

Terapi radiasi menggunakan sumber energi kuat, seperti X-ray, untuk membunuh sel-sel kanker. Modalitas radioterapi hanya berlaku untuk kanker rektum. Secara umum, radiasi pada karsinoma rektum dapat diberikan baik pada tumor yang dapat dioperasi, maupun yang tidak dapat dioperasi, dengan tujuan: mengurangi risiko kekambuhan lokal, meningkatkan tingkat resektabilitas pada tumor lokal yang besar dan lengket atau tidak resektabel sebelumnya. Terapi radiasi juga dapat dikombinasikan dengan terapi kemoterapi.

 

  1. Terapi biologis (Targeted Therapy)

Obat-obatan yang menargetkan kecacatan khusus yang memungkinkan pertumbuhan kanker tersedia bagi penderita kanker usus besar stadium lanjut, termasuk bevacizumab (Avastin), cetuximab (Erbitux), panitumumab (Vectibix) dan regorafenib (Stivarga). Targeted therapy bisa digunakan bersama dengan kemoterapi atau secara independen dan biasanya digunakan untuk penderita usus besar tingkat lanjut.

Sebagian orang terbantu dengan targeted therapy, sementara yang lainnya tidak. Para peneliti masih bekerja untuk menentukan siapa yang paling mungkin diuntungkan oleh terapi tersebut. Sampai ditemukan jawabannya, dokter akan dengan seksama mempertimbangkan manfaat yang terbatas dari targeted therapy melawan resiko efek samping dan biaya yang mahal saat memutuskan untuk menggunakan pengobatan ini.

Navigation