Artikel Kesehatan


24-10-2017 | Hit : 44

Mata Kuning, hati-hati hal tersebut bisa menandakan adanya gejala Hepatitis, hal tersebut disampaikan oleh DR. dr. Hery Djagat Purnomo Sp.PD-KGEH disela-sela jadwal praktek beliau yang padat di Poli Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi pada Senin (23/10/2017)

RSUP Dr. Kariadi berupaya memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk peduli dengan gejala-gejala awal adanya gangguan kesehatan yang sering diabaikan oleh seseorang. Salah satunya yang adalah tentang hepatitis.

Gejala yang bisa dirasakan oleh seseorang yang terserang hepatitis adalah sering merasa tidak nyaman di perut, merasakan mual ingin muntah disertai badan yang terasa lemas dan mata berwarna kuning.

"Hepatitis adalah istilah yang berasal dari dua suku kata Hepar (Hati) dan Itis (Peradangan) atau Peradangan di Hati. Hati dapat meradang karena infeksi virus hepatitis yang mengakibatkan penyakit hepatitis B dan C. Selain oleh karena virus hati juga bisa meradang karena sebab lain yaitu beberapa obat, perlemakan hati, diabetes, alkohol dll." terang dokter Hery Djagat.

 Tetapi infeksi virus adalah salah satu penyebab yang sering dan masih menimbulkan masalah kes-ehatan masyarakat, termasuk Indonesia merupakan Negara yang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dikategorikan sebagai salah satu Negara dengan tingkat endemisitas yang sedang-tinggi.

Hati adalah organ dalam yang harus dipelihara karena memiliki tugas yang kompleks dan banyak (sebagai pusat metabolisme karbohidrat, lemak, protein). Menghasilkan faktor-faktor pembekuan darah, menetralkan toksin atau sisa metabolisme di dalam tubuh termasuk pencernaan obat dan masih banyak yang lainnya. Bagaimana hati bisa terinfeksi virus hepatitis ? Sumber yang menjadi pintu masuk virus ke dalam hati (penularannya ) yaitu :

  1. Dari cairan tubuh (darah) : hepatitis B dan C masuk ke dalam tubuh melalui darah. Contohnya saat menggunakan alat-alat yang bisa melukai tubuh sehingga berdarah seperti jarum suntik, cukur yang tidak steril, tato, potongan kuku dan lain sebagainya.
  2. Penularan dari Ibu kepada anak (bayi yang dikandungnya) disebut sebagai vertikal transmisi. Pada saat persalinan ada luka di vagina, bayi lahir darahibu bisa mengandung virus sehingga bayipun bisa tertular. Kejadiannya saat di intra utrine atau waktu persalinan (perinatal).
  3. Hubungan seksual (khususnya penularan hepatitis B dan C)
  4. Melalui makanan dan minuman (Hepatitis A).

Sebagian besar orang yang terinfeksi hepatitis B hanya mengalami gejala yang ringan atau bahkan tidak berge-jala, sehingga sebagian besar datang ke dokter dalam kondisi yang sudah parah. Beberapa gejala yang ringan itu diantaranya seperti sakit influenza (flu like syndrome), panas yang tidak tinggi, mual, muntah dan badannya lemas. Nafsu makan berkurang terasa tidak nyaman di perut atau sebah (istilah jawa). Orang yang terlihat sehat, tidak bergejalapun bisa telah terinfeksi virus hepatitis B. Seringkali pasien baru berobat jika sudah mengalami gejala seperti mata kuning, perut bengkak karena diperutnya ada cairan sehingga liver membesar dan mengeras. Juga terjadi perdarahan (muntah darah/ berak hitam).

Padahal pada gejala ini, menunjukkan penyakit sudah berat. Perj alanan penyakit hepatitis ini yang perlu diketahui jika tidak mendapatkan pengelolaan yang baik menyebabkan peradangan kronis (hepatitis kronis), pengerasan hati (sirosis ) bahkan bisa menjadi kanker hati. Pengobatan penyakit hep atitis ini dilakukan sedini mungkin. Sebelum dokter memberikan obat dievaluasi dulu derajat kronisitas dan berat dari penyakit. Pasien yang berobat ke RSUP Dr. Kariadi dan mempunyai riwayat hepatitis kronis B mendapatkan pengobatan dengan obat (anti virus) yang di minum dengan jangka waktu yang panjang atau obat suntik (imunomodulator) setiap 1 x seminggu selama 48 minggu (1 tahun). Pasien hepa-titis kronis mungkin harus minum obat seumur hidup, karena virus yang sudah masuk sel hati sangat sulit dimatikan. Untuk Hepatitis C kronis bisa diobati dengan baik karena sudah ditemukan obat yang mampu membersihkan virus dengan tingkat kesembuhan 100 persen.

Bagaimana mencegah hepatitis virus ? Untuk mencegah agar tidak terjangkit virus Hepatitis B yang terbaik bisa di-lakukan dengan memberikan vaksinasi pada bayi usia 0-1 tahun (karena tingkat proteksi nya lebih dari 90 %). Kalau sudah dewasa bisa memeriksakan diri untuk mengetahui status kekebalan terhadap infeksi virus hepatitis B.

Dr. Hery Djagat menegaskan jika belum mem-punyai kekebalan dan belum pernah terinfeksi maka bisa dilakukan vaksinasi. Khusus pada ibu hamil harus dipastikan ada tidaknya infeksi hepatitis B agar bisa dilakukan upaya pencegahan penularan pada bayi yang dilahirkan. Hingga saat ini penderita hepatitis di dunia 70 persen tersebar di negara ASIA seperti Cina, India dan Indonesia.

Atas himbauan WHO kepada semua Negara untuk melakukan tindakan segera secara nyata untuk eliminasi hepatitis di dunia sehingga RSUP Dr. Kariadi sebagai Rumah Sakit rujukan dan terbersar di Jawa Tengah berkewajiban untuk mengajak masyarakat untuk memiliki gaya hidup sehat dan lebih waspada terhadap gejala-gejala yang mungkin dirasakan yang berkaitan dengan penyakit hepatiitis ini. Deklarasi WHO dengan tujuan tahun 2030 eliminasi hepatitis didunia bisa dicapai. (Suprih - Humas RSUP Dr. Kariadi )

Navigation