Berita Terbaru


23-10-2018 | Hit : 25

RSUP DR. Kariadi Medukung Gerakan Anti Tembakau

Semarang (18/10) – Sahabat Sehat, pernahkah anda merokok? Atau bila anda tidak merokok, anda pernah menghirup asap rokok dari orang-orang yang merokok di sekeliling anda? Pernahkah anda merasa sesak napas karena asap tersebut? Bagi sebagian orang, asap rokok merupakan hal yang cukup mengganggu.

undefinedBahan berita foto hari anti rokok  kompres

Pada acara ini RSUP Dr. Kariadi bersama perawat-perawat onkologi melakukan kampanye untuk mendukung gerakan anti Tembakau, khususnya bagi pengunjung di RSUP Dr. Kariadi. kampanye dukung gerakan anti tembakau ini dilaksanakan di ruang Fasilitas Umum RSUP Dr. Kariadi. Kegiatan kampanye diawali dengan pemutaran film tentang fakta merokok di Indonesia. Antusiasme dari pengunjung muncul, berupa share pengalaman dari salah satu pengunjung yang akan menjenguk temannya yang sakit. Bapak Sutarmo, mengatakan bahwa beliau sampai hari ini masih merokok, namun berusaha mengurangi jumlah rokok yang dikonsumsinya. Keprihatinan beliau muncul ketika sering melihat anak-anak sekolah terutama masih usia SMP yang sudah merokok, dan bahkan berani merokok di tempat umum.

Acara kemudian dilanjutkan dengan edukasi mengenai rokok dan bahaya merokok. Dalam paparannya Ibu Enggar, yang merupakan salah satu perawat onkologi di RSUP Dr Kariadi menjelaskan beda antara perokok aktif dan perokok pasif. “ Kalau ada orang yang tidak merokok, tetapi menghirup asap rokok dari suaminya atau temannya yang merokok itu yang namanya perokok pasif, “ ungkapnya. “Bahaya dan resiko kesehatan yang diterima pun sama, “ lanjut bu Enggar. Selain itu dipaparkan pula akibat yang merugikan kesehatan dari merokok, serta manfaat yang akan diterima jika orang berhenti merokok.

Untuk memeriahkan suasana ruang fasilitas umum, pengunjung yang mendengarkan edukasi diberikan kesempatan bertanya sesuai tema, banyak pertanyaan yang muncul, salah satunya dari seorang ibu yang mertuanya bekerja sebagai petani tembakau dan suaminya bekerja sebagai operator mesin pemotong tembakau. “ Setelah mendengar penyuluhan ini, kok saya galau, mertua saya itu petani bako, lah suami saya malah operator mesin pemotong tembakau”. “Itu bagaimana, masa saya sarankan mereka buat keluar kerja”. “Kira-kira seberapa bahayanya buat mereka?” ungkap ibu tersebut dengan lugunya.

Ada juga peserta yang tertarik dengan materi edukasi tentang rokok denganberbagi tentang pengalamannya dengan teman perokok, yang akhirnya mau mengatur konsumsi rokoknya, “ Saya punya teman, dulunya perokok berat, sehari bisa dua bungkus dan sampai sekarang belum mau berhenti merokok, kami tidak pernah melarang dia untuk tidak merokok”. “Namun, dengan pendekatan yang baik, si perokok berat ini bisa mengendalikan konsumsi rokoknya dengan mengurangi konsumsi rokoknya, misal kalau di ruang ber-AC tentu dia tidak akan merokok, merokok pun hanya dia lakukan di ruangan khusus merokok”. “Sekarang,  alhamdulillah, jika di rumah pun frekuensi rokok dia kurangi dan bahkan tidak merokok di dekat anak dan istri.” ungkapnya antusias.

Sebelum acara diakhiri, dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen mendukung gerakan anti rokok. Penandatanganan ini mendapat respon baik dari pengunjung dan pegawai yang kebetulan juga sedang melintasi area fasum. (Fr, Humas RSUP Dr. Kariadi)

 

 

 

 

Navigation