Artikel Kesehatan


03-01-2018 | Hit : 17

SERANGAN JANTUNG PADA LEPTOSPIROSIS

 

Muchlis Achsan Udji Sofro

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik Infeksi RSUP Dr Kariadi Semarang

 

Di musim penghujan, sering terdapat genangan air dan kadang banjir. Kondisi seperti ini memudahkan penyebaran penyakit infeksi Leptospirosis, yang antara lain ditularkan melalui air kencing tikus.

Sebagian besar (80%) infeksi Leptospirosis memang ringan, kadang hanya demam, nyeri otot, dan berobat ke dokter layanan primer (dokter keluarga) sudah cukup. Sedangkan yang 20% biasanya akan berlanjut ke berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Sepuluh persen dari kasus Leptospirosis berat akan mengalami kematian.

Gejala Leptospirosis berat antara lain: demam, nyeri otot terutama di tungkai bawah, mata berwarna kuning, air kencing seperti teh (sehingga sering diduga sebagai hepatitis). Leptospirosis berat ditandai dengan komplikasi di berbagai organ, antara lain: hati, ginjal, jantung, paru dan otak.

Komplikasi di jantung sering menyebabkan serangan jantung yang berakibat mati mendadak. Gangguan jantung yang terjadi pada Leptospirosis dapat dilihat dari rekaman elektrokardiografi (EKG) berupa: sinus takikardi (irama jantung yang cepat melebihi 100x/menit), RBBB (right bundle branch block: gangguan irama jantung), atrial fibrilasi, dan peningkatan irama gelombang ST. Komplikasi di jantung yang terbanyak adalah miokarditis, peradangan pada otot jantung. Padahal otot jantung merupakan alat pemompa darah ke seluruh tubuh. Jika otot jantung mengalami miokarditis, bisa dibayangkan akibatnya, jantung akan berhenti mendadak dan pasien meninggal dunia.

Gejala

Gejala serangan jantung dapat bervariasi. Ada yang dimulai dengan rasa sakit tidak jelas, rasa tidak nyaman yang samar, atau rasa sesak di bagian tengah dada. Kadang, rasa tidak nyaman ini ringan sekali sehingga sering disalah-artikan sebagai gangguan pencernaan (sakit maag), atau masuk angin, akibatnya lepas dari perhatian kita.

Sementara itu ada pasien yang mengalami serangan jantung dengan nyeri dada disertai rasa sesak yang luar biasa atau rasa terjepit/tertindih di dada, menjalar ke tenggorokan, atau ke perut. Ada yang keluar keringat dingin, berdebar-debar, mual, sakit kepala dan pingsan. Kebetulan pasien ini mengalami infeksi, sehingga keluar keringat dingin, sering disalah artikan sebagai upaya tubuh untuk menurunkan demam. Akibatnya, komplikasi serangan jantung tidak terdeteksi lebih dini.

Pada saat keluhan ini muncul, sebaiknya dilakukan pemeriksaan EKG (elektrokardiografi) untuk merekam aliran listrik jantung. Pada saat serangan akan terlihat gambaran yang khas pada rekaman jantung. Akan tetapi, pada beberapa pasien bisa saja hasil rekaman jantungnya dalam batas normal, padahal sudah ada serangan jantung. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan EKG secara berkala bagi yang sering mengalami nyeri dada dan sedang terinfeksi Leptospirosis, walaupun usia masih muda (di bawah 40 tahun).

Selain rekaman EKG, serangan jantung pada leptospirosis perlu diketahui dengan pemeriksaan laborat darah enzim jantung yang disebut CKMB dan Troponin T. Biasanya akan meningkat dua kali atau lebih dari kadar normal.

Apabila hasil pemeriksaan EKG dalam batas normal, sementara nyeri dada sering muncul, diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa Ekhokardiografi dan Treadmill. Jika dengan kedua pemeriksaan tersebut belum juga diketahui apakah nyeri dada merupakan tanda serangan jantung sebaiknya menjalani Kateterisasi jantung. Dari dua pasien Leptospirosis di RSUP Dr Kariadi yang menjalani Kateterisasi didapatkan pembuluh darah jantung dalam keadaan normal walaupun jelas serangan jantungnya. 

Jika dengan kateterisasi ternyata hasilnya masih dalam batas normal, tentu harus difikirkan kemungkinan penyebab nyeri dadanya apakah dari paru-paru (Pneumonitis Leptospirosis, salah satu komplikasi berupa batuk darah), peradangan selaput pembungkus paru (pleuritis), atau nyeri dada karena kram otot dinding dada.

Penanganan

Penanganan pasien serangan jantung pada Leptospirosis sama halnya dengan pasien serangan jantung lainnya. Harus segera dikirim ke ruang perawatan intensif (ICU/ICCU) di Rumah Sakit. Pengobatannya sama dengan serangan jantung pasien yang bukan Leptospirosis.

Jika ditangani lebih dini, angka kematiannya dapat ditekan serendah mungkin dan pasien dapat tertolong dengan baik. Yang perlu diperhatikan adalah rehabilitasi pasca serangan jantung. Pasien menjalani mobilisasi secara bertahap, latihan duduk, berdiri, dan berjalan secara perlahan. Tidak boleh langsung berlari. Pasien tidak boleh mengejan saat buang air besar, sehingga mendapatkan obat pencahar selama perawatan. ***

DR dr Muchlis AU Sofro, SpPD-KPTI, FINASIM. RSUP Dr Kariadi/FK UNDIP

Navigation