Berita Terbaru


20-01-2014 | Hit : 1309

"JKN laksana bayi yang baru lahir,  untuk merangkakpun ia belum bisa, bahkan bergulingpun belum bisa, namun ia dipaksa untuk segera bisa berlari."  Kata-kata itulah yang terucap dari Prof. Dr. Iwan Dwiprahasto, M.MedSc,  Phd membuka acara simposium sehari di RSUP Dr. Kariadi pada hari sabtu, 18 Januari 2014.

 

prof Iwan

Simposium yang bertempat di Gedung Aula RSUP Dr. Kariadi tersebut mengangkat tema tentang "PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL DI ERA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN)". Dengan pembawaan yang santai dan sesekali terselip ungkapan-ungkapan yang mengundang tawa, acara yang berlangsung selama  tiga jam ini membuat peserta yang hadir tak beranjak dari tempat duduknya hingga acara berakhir. 

 

Prof. Iwan banyak menjelaskan tentang peran formularium nasional (FORNAS) yang  digunakan sebagai pengendali penggunaan obat dalam JKN.  FORNAS disusun oleh komite nasional yang ditetapkan oleh MENKES yang dalam penyusunan setiap item yang ada di dalamnya, didasarkan pada bukti ilmiah, keamanan, khasiat dengan harga terjangkau. Selain itu, beberapa aspek yang harus diperhatikan adalah:

 

  • Aspek substantif (bukti ilmiah, memiliki no register BPOM, indikasi diterima BPOM)
  • Aspek legal (UU no 40 tahun 2004 ttg SJSN, PP no 12 tahun 2013 ttg JKN)
  • Aspek manfaat (kendali mutu dan kendali biaya).

 

Aspek ini perlu diperhatikan terutama indikasi karena ada beberapa perubahan yang terjadi dalam FORNAS, misalnya pengobatan untuk lini pertama penyakit malaria malaria telah berubah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa harus ada FORNAS?  Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain:

 

  • Harga obat terus naik setiap tahun.
  • Banyak obat dengan bukti ilmiah terbatas dan tidak valid.
  • Beberapa peresepan obat tidak menggunakan pola peresepan rasional.

 

FORNAS juga digunakan sebagai pengendali harga obat yang beredar di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan harga obat dengan nama dagang dibandingkan dengan obat dengan nama generik. Perbedaan ini sangat signifikan, bahkan ada jenis obat dengan nama dagang tertentu yang harganya 238 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga obat generiknya. Jadi, salah satu cara adalah dengan FORNAS sehingga mewajibkan seluruh dokter dari layanan primer hingga layanan sekunder diwajibkan untuk meresepkan obat sesuai FORNAS. 

 

Dalam akhir materinya,  Prof. Iwan mengungkapkan bahwa masyarakat  harus mengatahui kebenaran, bahwa obat yang teradapat dalam FORNAS ini merupakan obat yang bermutu dan bukan obat murahan, bukan hanya masyarakat, namun juga para tenaga medis tak usah ragu untuk menggunakannya.

Navigation