Artikel Kesehatan


17-10-2017 | Hit : 16

SYOK ANAFILAKTIK

Widya Istanto SpAn, KAKV, KAR

KSM Anestesiologi dan Terapi Intensif  RSUP Dr. Kariadi, Semarang

Pendahuluan

Anafilaktik merupakan keadaan akut yang berpotensi mengancam jiwa dan paling sering disebabkan oleh makanan, obat-obatan, sengatan serangga, dan lateks. Gambaran klinis anafilaktik sangat heterogen dan tidak spesifik. Reaksi awalnya cenderung ringan membuat masyarakat tidak mewaspadai bahaya yang akan timbul, seperti syok, gagal nafas, henti jantung, dan kematian mendadak.

Reaksi anafilaktik ialah suatu sindroma klinis sebagai akibat dari suatu reaksi imunologis atau reaksi alergi yang dapat berdampak sistemik, cepat, dan hebat yang dapat memungkinkan terjadinya gangguan pada sistem sirkulasi, respirasi, pencernaan, kulit, dan atau sistem lainnya. Bilamana reaksi yang terjadi begitu hebatnya maka akan dapat menimbulkan kondisi yang disebut dengan syok anafilaktik atau syok anafilaksis. Keadaan syok ini akan sangat memerlukan penanganan yang serba cepat dan tepat agar prognosis yang didapat tidak terlalu buruk.

Walaupun jarang terjadi, syok anafilaktik dapat berlangsung sangat cepat, tidak terduga, dan dapat terjadi di mana saja yang potensial berbahaya sampai menyebabkan kematian. Identifikasi awal merupakan hal yang penting, dengan melakukan anamnesis, pemerikasaan fisik, dan penunjang untuk menegakkan suatu diagnosis serta penatalaksanaan cepat, tepat, dan adekuat suatu syok anafilaktik dapat mencegah keadaan yang lebih berbahaya.

 

Penyebab Syok Anafilaktik

Alergen adalah apa pun benda yang menjadi penyebab terjadinya syok anafilaktik. Reaksi alergi berlebih ini adalah bagaimana sistem imun tubuh merespons zat-zat yang dianggap berbahaya oleh tubuh secara alamiah. Beberapa alergen yang dapat memicu reaksi syok anafilaktik di antaranya:

  • Makanan, seperti hidangan laut, telur, susu, atau buah-buahan.
  • Sengatan serangga, seperti lebah atau tawon.
  • Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang mede, kacang almond, dan lain-lain.
  • Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik,
  • Lain-lain, seperti karet lateks.

Penderita penyakit asma atau orang yang memiliki kelainan kulit menahun, seperti atopik dermatitis, lebih berisiko terkena syok anafilaktik. Terdapat juga kasus anafilaktik idiopati, yaitu reaksi alergi yang tidak dapat diketahui penyebabnya.

 

Patofisiologi Syok Anafilaktik

Anafilaktik merupakan reaksi alergi yang dimediasi IgE. Jika seseorang sensitif terhadap suatu antigen dan kemudian terjadi kontak lagi terhadap antigen tersebut, akan timbul reaksi hipersensitivitas yang merupakan suatu reaksi anafilaktik yang dapat berujung pada syok anafilaktik. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu reaksi antigen-antibodi yang timbul segera setelah suatu antigen yang sensitif masuk dalam sirkulasi. Syok anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinis dari anafilaktik yang merupakan syok distributif, ditandai oleh adanya hipotensi yang nyata akibat vasodilatasi mendadak pada pembuluh darah dan disertai kolaps pada sirkulasi darah yang dapat menyebabkan terjadinya kematian.

Reaksi anafilaktik akan muncul bilamana sebelumnya telah terbentuk IgE yang spesifik terhadap zat alergen tertentu. Alergen dapat masuk ke dalam tubuh melewati kulit dan mukosa, sistem pernafasan, atau sistem pencernaan.Alergen ini kemudian terpapar pada sel plasma dan menyebabkan produksi IgE spesifik terhadap alergen tersebut. IgE spesifik ini akan berikatan pada reseptor permukaan basofil dan mastosit.

Pada paparan yang berikutnya, alergen yang sama masuk dan berikatan dengan IgE spesifik. Ikatan ini akan memicu reaksi antigen-antibodi yang menyebabkan terlepasnya mediator seperti histamin dari granula yang ada di dalam sel. Selain itu, ikatan ini memicu sintesis SRS-A (Slow Reacting Substance of Anaphylaxis) dan degradasi dari asam arakidonat pada membran sel yang akan menghasilkan leukotrien dan prostaglandin. Reaksi ini akan mencapai puncak dalam lima belas menit. Efek histamin, leukotrien (SRS-A) dan prostaglandin ini pada pembuluh darah akan menyebabkan syok; sementara pada otot polos bronkus akan menyebabkan gangguan pernafasan.

Efek biologis dari histamin ini terutama melalui reseptor H1 dan H2 yang ada pada permukaan saluran pernafasan dan sirkulasi. Stimulasi pada reseptor H1 akan mengakibatkan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah, spasme pada otot bronkus dan pembuluh darah koroner; sedangkan stimulasi pada reseptor H2 mengakibatkan dilatasi otot bronkus dan meningkatnya mukus pada jalan pernafasan. Nah, rasio jumlah H1 dan H2 inilah yang akan menentukan efek mana yang mucul dominan pada akhirnya.

Aktivasi dari basofil dan mastosit juga menyebabkan bifasik dari cAMP intraselluler. Terjadi peningkatan kadar cAMP kemudian penurunan yang drastis sejalan dengan adanya pelepasan mediator dan granulla ke dalam cairan ekstrasellular. Begitu sebaliknya, penurunan cGMP akan menghambat terjadinya pelepasan mediator. Obat-obatan yang mencegah terjadinya penurunan kadar cAMP intraselluler juga dapat menghilangkan gejala anafilaktik. Obat-obat tersebut, yaitu katekolamin (meningkatkan sistesis cAMP) dan golongan metilxantine seperti aminofilin (menghambat degradasi dari cAMP).

Pada tahapan selanjutnya mediator ini akan menyebabkan rangkaian reaksi dan sekeresi dari mediator sekunder dari eosinofil, netrofil, trombosit, mediator primer dan sekunder yang menimbulkan berbagai perubahan patologis pada hemostasis dan vaskuler; begitu sebaliknya obat-obatan yang mampu meningkatkan cGMP (seperti obat kolinergik) dapat memperparah keadaan dikarenakan dapat menstimulasi pelepasan mediator

 undefinedANALIFITIK

Gambar 1. Patofisiologi anafilaksis

 

Reaksi Anafilaktoid

Reaksi Anafilaktoid ialah suatu reaksi yang menyebabkan munculnya keluhan dan gejala yang sama dengan reaksi anafilaktik, tetapi tidak ditemukan adanya reaksi antigen antibodi. Pelepasan mediator biokimia dari mastosit pada reaksi ini belum sepenuhnya dapat dipahami. Bahan dan zat-zat yang seringkali menimbulkan reaksi ini adalah zat kontras radiografi (idionated), tubocurarineopiate, dextran maupun mannitol. Selain itu aspirin maupun NSAID lainnya juga sering menimbulkan reaksi anafilaktoid yang diduga sebagai akibat terhambatnya enzim siklooksgenase.

 

Diagnosis Klinis Reaksi Syok Anafilaktik

Untuk membantu dalam menegakkan diagnosis syok ini, maka American Academy of Allergy, Asthma and Immunology telah membuat suatu kriteria, yaitu:

 

Kriteria pertama

Onset akut dari suatu jenis penyakit (dari beberapa menit hingga beberapa jam) dengan terlibatnya:

  • jaringan mukosa, kulit ataupun kedua-duanya (misalnya terdapat bintik-bintik kemerahan di seluruh tubuh, pembengkakan pada daerah lidah, bibir, uvula, dan terdapatnya pruritus),
  • dan salah satu dari respiratory compromise (seperti sesak nafas, stridor, bronkospasme, wheezing, penurunan nilai PEF, dan hipoksemia),
  • dan penurunan tekanan darah atau gejala-gejala yang berkaitan dengan terjadinya disfungsi organ sasaran (seperti hipotonia, inkontinensia, dan sinkop)

Kriteria kedua

Dua atau lebih dari gejala berikut yang terjadi secara mendadak setelah terpapar zat alergen yang spesifik pada pasien tersebut (beberapa menit hingga beberapa jam), yaitu:

  • keterlibatan jaringan mukosa atau kulit;
  • terjadinya gangguan pernafasan;
  • menurunnya tekanan darah disertai gejala yang berkaitan;
  • dan gejala-gejala sistem pencernaan yang persisten.

Kriteria ketiga

Penurunan tekanan darah terjadi setelah paparan terhadap zat alergen yang diketahui dalam beberapa menit hingga dalam beberapa jam (syok anafilaktik). Pada usia bayi dan anak-anak, tekanan darah sistolik yang rendah (sesuai spesifik umur) atau terjadinya penurunan darah sistolik lebih dari 30%. Sementara pada orang dewasa, tekanan darah sistolik kurang dari 90 mmHg atau penurunan darah sistolik lebih dari 30% dari tekanan darah awal.

 

Diagnosis Banding Reaksi Syok Anafilaktik

Berikut ini beberapa diagnosis banding dari reaksi syok anafilaksis, yaitu:

infark miokard akut, reaksi vasovagal, reaksi hipoglikemik, reaksi histeris, asma bronkiale, dan rhinitis alergika.

 

Komplikasi Pada Reaksi Syok Anafilaktik

Syok jenis ini akan mengurangi asupan darah ke otak sehingga dapat mengkibatkan kerusakan otak, koma, ataupun dapat menyebakan kematian.

 

Tatalaksana Syok Anafilaktik

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif Reaksi Syok Anafilaktik

Penatalaksanaan Syok Anafilaksis

1. Posisi Tredelenburg

Penderita diposisikan dengan posisi tredelenburg ini yaitu berbaring dengan kedua tungkai diangkat (diganjal dengan kursi). Hal ini akan membantu meningkatkan venous return sehingga diharapkan tekanan darah pun ikut meningkat.

 

2. Pemberian Oksigen

Pemberian oksigen dilakukan sebanyak 3 hingga 5 liter per menit.Pemberian ini dilakukan dengan maksud menjaga asupan oksigen tubuh dan mencegah sistem sirkulasi bertambah parah.Bila diperlukan dapat dilakukan tindakan krikotiroidektomi atau trakeostomi bila dalam keadaan yang ekstrim.

3. Pemasangan infus.

Pemberian cairan plasma expander (Dextran) adalah pilihan pertama dan utama untuk mengisi volume intravaskuler secepatnya.Bilamana cairan ini tidak tersedia, cairan RL atau NaCl fisiologis dapat digunakan sebagai cairan pengganti.Pemberian cairan ini diharapkan dipertahankan minimal sampai tekanan darah penderita stabil dan optimal.

4. Adrenalin

Pemberian adrenalin 0,3 – 0,5 ml dari larutan 1 : 1000. Pemberian dilakukan secara intramuskular dan dapat diulangi dalam 5 hingga 10 menit.Biasanya dosis ulangan ini dibutuhkan dikarenakan lama kerja adrenalin cukup singkat.

Bilamana respon pemberian adrenalin secara intramuskular kurang begitu efektif, maka dapat diberikan secara intravena yaitu 0,1 - 0,2 ml adrenalin dilarutkan dalam spuit 10 mL NaCl fisiologis dan diberikan secara perlahan-lahan. Pemberian adrenalin secara subkutan dinilai kurang efektif dikarenakan efeknya lambat atau bahkan tidak memberikan efek karena adanya proses vasokontriksi kulit. Sebaiknya dihindari pemberian adrenalin secara subkutan.

5. Aminofilin

Pemberian obat aminofilin dapat dilakukan apabila bronkospasme belum juga hilang setelah pemberian adrenalin.Pemberian harus dilakukan secara hati-hati.Sebanyak 250 mg aminofilin diberikan secara intravena perlahan-lahan dalam waktu 10 menit.Bisa juga dilanjutkan lagi 250 mg melalui drip infus bilamana diperlukan.

6. Antihistamin dan kortikosteroid

Obat antihistamin dan kortikosteroid dapat diberikan sebagai terapi pilihan kedua setelah adrenalin.Biasanya kedua obat ini dirasakan kurang manfaatnya bila digunakan pada kondisi syok. Obat dapat diberikan bila ada perbaikan pada pasien guna mencegah terjadinya komplikasi berupa serum sickness atau prolonged effect. Antihistamin yang biasa dipakai adalah difenhidramin HCl 5 hingga 20 mg melalui intravena. Steroid yang biasanya digunakan adalah deksametason 5 hingga 10 mg atau dapat juga hidrokortison 100 hingga 250 mg secara intra vena.

 

7. Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP)

Resusitasi ini dapat dilakukan bila seandainya terjadi henti jantung (cardiac arrest). Prosedur RKP harus segera dilakukan sesuai dengan falsafah CAB.

 

 undefinedAlgortima t

 

 Gambar 2. Algortima tatalaksana reaksi anafilaksis

 

Pencegahan Syok Anafilaktik

Syok anafilaktik dapat berujung kepada kematian yang disebabkan oleh terhentinya detak jantung dan pernapasan. Pengenalan gejala dan mempelajari tindakan pencegahan dapat membantu pasien terhindar dari risiko kematian akibat syok anafilaktik. Kenali alergen Anda dengan melakukan tes alergi di rumah sakit atau klinik terdekat. Buat dan bawalah selalu obat-obatan serta catatan kecil berisi daftar alergen Anda dan apa yang harus dilakukan oleh orang di sekitar Anda, termasuk dokter Anda, jika serangan syok anafilaktik terjadi. Selalu perbarui persediaan obat-obatan Anda agar terhindar dari kekurangan obat saat situasi darurat terjadi.Hindari juga makanan atau pemicu alergi lain yang dapat menimbulkan reaksi alergi dengan cara membaca label keterangan pada kemasan makanan, menggunakan losion antiserangga, dan mengonsumsi antibiotik jenis lain yang tidak menyebabkan alergi.

 

Prognosis

Peluang kesembuhan cukup besar apabila penyebab anafilaksis diketahui dan orang yang bersangkutan langsung mendapatkan pengobatan.Meskipun penyebabnya tidak diketahui, apabila tersedia obat-obatan untuk menghentikan reaksi, maka orang tersebut biasanya cepat pulih.Jika sampai terjadi kematian, biasanya diakibatkan oleh masalah pernapasan (umumnya asfiksia) atau masalah kardiovaskuler (syok).Anafilaksis menyebabkan kematian pada 0,7–20% kasus.Beberapa kasus kematian terjadi dalam hitungan menit. Pada orang yang mengalami anafilaksis akibat aktivitas fisik umumnya bisa teratasi dengan baik, dan seiring bertambahnya usia, biasanya kejadian anafilaksis lebih jarang dan lebih ringan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Longecker, DE. Anaphylactic reaction and Anesthesia dalam Anesthesiology. 2008; Chapter 88, hal 1948-1963.2.
  2. Peavy RD, Metcalfe DD. Understanding the mechanisms of anaphylaxis. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2008 August ; 8(4): 310–315. doi:10.1097/ACI.0b013e3283036a90.
  3. Campbell RL, Li JT, et al. Emergency department diagnosis and treatment of anaphylaxis: a practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol 113. 2014. 599e608
  4. Working Group of the Resuscitation Council (UK) Emergency treatment of anaphylactic reactions Guidelines for healthcare providers. January 2008.
  5. ASCIA Guidelines. Acute management of anaphylaxis. 2016.
  6. Simons FER, Ardusso LRF, et al. 2012 Update: World Allergy Organization Guidelines for the assessment and management of anaphylaxis.

 

Navigation