Artikel Kesehatan


03-01-2018 | Hit : 95

TETANUS TIDAK SELALU MENINGGAL

Oleh: Muchlis Achsan Udji Sofro

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik Infeksi RSUP Dr Kariadi Semarang

 

            Saat ini, di seluruh dunia, penyakit infeksi mulai menduduki urutan pertama dalam daftar penyakit yang menyebabkan kematian. Beberapa tahun terakhir penyebab kematian yang utama adalah serangan jantung. Namun, penyakit infeksi menjadi issue yang selalu hangat untuk dibicarakan. Mulai dari HIV-AIDS,  Flu Burung, Difteri dan lain-lain. 

Tetanus merupakan salah satu penyakit infeksi akut (mendadak) dengan gejala-gejala gangguan neuromuscular (saraf dan otot) berupa: kesukaran membuka mulut, kekakuan dan kejang otot di seluruh tubuh. Kekakuan ini selalu tampak pada otot pengunyah dan otot-otot rangka. Akibatnya, pasien mengeluh kesulitan membuka mulut dan otot dinding perut dan punggung sekeras papan. .

            Walaupun sudah dilakukan imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) pada balita,  tapi penyakit tetanus tetap saja ada. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun masih ada penderita tetanus. Hanya saja jumlahnya cenderung menurun. Di Indonesia, laporan mengenai jumlah kasus tetanus tidak jelas. Sebab, jarang dilaporkan penelitian mengenai tetanus.

            Apakah pasien Tetanus mesti meninggal dunia? Tidak semua pasien tetanus akan meninggal dunia. Sebab, hanya sekitar 50% saja yang tidak berhasil ditangani. Sisanya bisa sembuh sempurna. Bahkan dengan dipakainya IPPV (intermittent positive pressure ventilation) untuk perawatan pasien tetanus, angka kematian bisa ditekan lagi hingga kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 20% pada bayi serta anak balita.

Penyebab

            Penyebab Infeksi tetanus adalah kuman Clostridium tetani. Kuman ini tidak membutuhkan udara untuk berkembang biak, sehingga bisa menyusup ke jaringan tubuh yang tidak banyak mengandung oksigen seperti otot dan organ pencernaan. Akibatnya mampu menyusup dan bersembunyi di jaringan yang jauh dari permukaan tubuh.

            Untuk mengetahui kuman itu tidak sulit. Sebab, kuman ini mudah dikenal karena membentuk spora dan bentuknya khas. Menyerupai tongkat pemukul gendering (drum stick) atau raket Squash. Spora Clostridium tetani mampu bertahan sampai bertahun-tahun bila tidak terkena sinar matahari. Spora ini terdapat di tanah atau debu, tahan terhadap antiseptik, pemanasan 100 oC, bahkan dengan otoklaf 120 oC selama 20 menit pun tidak mati. Kuman ini tidak hanya di kotoran kuda saja lho. Pada kotoran manusia, anjing, dan kucing juga bisa ditemukan kuman penyebab tetanus.  

            Bagaimana bisa masuk ke tubuh kita? Caranya melalui luka. Misalnya luka tusuk karena paku, pecahan kaca atau kaleng, pisau dan benda tajam lainnya. Luka karena kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, atau karena perang. Bisa juga melalui luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata, telinga, amandel, gigitan serangga, dan infeksi di gigi. Sebagian besar (60%) tempat masuknya kuman lewat luka tusuk di daerah kaki.

            Walaupun begitu, infeksi tetanus bisa juga terjadi melalui rahim sesudah persalinan atau keguguran yang dipaksakan (abortus provokatus). Pada bayi baru lahir, kuman tetanus dapat masuk melalui talipusat (wudel) jika pemotongannya tidak memperhatikan kaidah sterilisasi.

            Bisakah tanpa melalui luka? Bisa. Misalnya lewat Infeksi di telinga (Ottitis Media) dan gigi yang berlubang. Oleh karena itu, pasien tetanus sering dikonsultasikan ke dokter Spesialis THT dan Dokter Gigi untuk mencari pintu masuknya kuman tetanus.

Gejala Klinik

            Masa inkubasi (mulai masuknya kuman sampai menimbulkan gejala) berkisar antara 3 hari hingga 4 minggu. Semakin cepat masa inkubasi berlangsung maka semakin berat tingkat tetanusnya. Dan lebih besar kemungkinan meninggalnya.

            Pada sebagian pasien bisa timbul tetanus lokal, terutama bagi yang telah mendapatkan imunisasi. Gejalanya berupa kaku di otot di dekat luka yang tercemar kuman tetanus.  Jadi kalau ada kaku otot di sekitar luka, waspadai jangan-jangan merupakan gejala awal tetanus.

            Yang paling sering terjadi adalah tetanus umum. Gejala pertama yang dilihat dan dirasakan oleh pasien adalah kaku otot mengunyah yang mengakibatkan gangguan membuka mulut (trismus). Kemudian kesulitan menelan. Selanjutnya timbul leher kaku dan kaku pinggang. Otot dinding perut menjadi keras seperti papan (disebut perut papan). Wajah berubah, kalau tersenyum mirip setan, akibat kekakuan otot-otot di wajah. Pada sebagain pasien sampai terganggu pernafasan akibat kekakuan otot di rongga dada.

            Sebagian pasien mengeluh kesulitan buang air besar (konstipasi), nyeri kepala, berdebar-debar dan berkeringat banyak akibat demam. Frekuensi nafas meningkat. Kejang otot dapat dipicu oleh rangsangan yang lemah sekalipun, seperti: bunyi-bunyian, dan cahaya. Oleh sebab itu, pasien tetanus biasanya ditempatkan di kamar isolasi yang bebas dari pasien lain agar seminimal mungkin mendapat rangsangan suara maupun cahaya. .

            Pasien tetanus umumnya tetap sadar, sehingga sering merasa sangat menderita karena merasakan nyeri akibat otot kaku dan kejang otot. Kalau kekakuan otot itu menyerang otot dinding dada akan menyebabkan kesulitan bernafas, kekurangan oksigen, dan akhirnya meninggal dunia. Oleh sebab itu,  tidak jarang pasien tetanus memerlukan bantuan Ventilator (alat Bantu nafas) yang biasanya disediakan di Ruang Rawat Intensif (ICU) maupun UGD Rumah Sakit.

            Mengapa pasien tetanus meninggal dunia? Biasanya akibat kombinasi berbagai keaadaan seperti kelelahan otot pernafasan (kejang terus), infeksi sekunder di paru-paru yang menyebabkan kegagalan pernafasan, serta gangguan keseimbangan air dan elektrolit.

Diagnosis

            Kapan dokter mendiagnosis pasien sebagai tetanus? Jika ada gejala seperti tersebut di atas: kesulitan membuka mulut, senyum seperti setan, kaku kuduk/leher, perut keras seperti papan, kejang-kejang, dan tidak disertai gangguan kesadaran. Jadi tidak ada pemeriksaan penunjang khusus, seperti pasien penyakit infeksi yang lain. Pembuktian adanya kuman tetanus seringkali tidak perlu, karena amat sulit mengisolasi kuman dari luka pasien. Jadi, lebih banyak didasarkan pada gejala yang muncul.

            Pada tahap awal, diagnosis tetanus agak sulit ditegakkan. Tapi perlu dibedakan dengan penyakit lain yang mirip, misalnya: infeksi lokal di daerah mulut yang sering menimbulkan gejala kesulitan membuka mulut. Juga harus dibedakan dengan Meningitis (infeksi selaput otak), Ensefalitis (infeksi otak), dan pasien hysteria yang gejalanya sering kejang-kejang.

Penanganan

            Pada prinsipnya, penanganan pasien tetanus ada dua hal. Pertama mengatasi toksin yang dihasilkan kuman tetanus yang sudah terikat di susunan sarat pusat. Kedua menetralisir toksin (racun) yang masih beredar dalam darah dan berusaha menghilangkan penyebabnya.

            Merawat dan membersihkan luka sebaik mungkin agar kuman mudah terbasmi. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan pasien membuka mulut dan menelan. Bila mulut susah membuka, maka makanan dapat diberikan melalui sonde (selang yang dimasukkan lewat lubang hidung sampai ke lambung)

            Untuk mengatasi gejala akibat racun yang sudah terikat pada susunan saraf pusat (timbul kaku otot) diperlukan obat pelemas otot. Kalau kaku ototnya di daerah leher, tidak jarang terpaksa dibuatkan saluran nafas darurat di leher depan (Trakeostomi).

            Selanjutnya, diperlukan pengawasan yang ketat terhadap jalan nafas. Jika ada kelelahan dalam bernafas diusahakan  pemasangan Ventilator (alat Bantu nafas).

            Apabila pasien mengalami kejang-kejang, maka diberikan obat anti kejang. Dosisnya bisa dinaikkan secara bertahap. Maksimal, dalam satu hari tidak melebihi 100 mg. Seandainya dengan dosis maksimal masih juga kejang, maka sebaiknya pasien dirawat di ICU untuk dipasang ventilator. Sebab, kejang yang berulang dan tidak dapat dikendalikan dengan obat anti kejang dosis maksimal, berpotensi mengganggu otot-otot pernafasan. Pasien bisa meninggal karena kesulitan bernafas.

            Persyaratan penting yang harus diupayakan: Ruangan harus diusahakan setenang mungkin, untuk menghindari rangsangan (penglihatan, pendengaran, perabaan) yang akan merangsang munculnya kejang.

Pemberian anti toksin sangat dianjurkan. Jenisnya: Tetanus Imun Globulin (TIG) dari manusia, yang lebih dianjurkan pemakaiannya dibandingkan Anti Tetanus Serum (ATS) dari hewan.

 Antibiotik sejenis penisilin yang disuntikkan ke pantat masih potensial untuk mematikan kuman. Akan tetapi akhir-akhir ini dapat diganti dengan Metronidazol yang pemberiannya dapat intravena (ke pembuluh darah).

Pencegahan timbulnya tetanus antara lain: mencegah terjadinya luka, merawat luka sebaik mungkin, dan pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah terjadinya luka. Hal ini akan memberikan kekebalan pasif, sehingga mencegah terjadinya tetanus dan memperpanjang masa inkubasi. Pada umumnya diberikan dalam dosis 1500 Unit melalui suntikan di otot pantat setelah dilakukan tes alergi tidaknya di kulit.  

Seandainya upaya di atas bisa dilaksanakan dengan baik, penyakit Tetanus bisa disembuhkan, dan kemungkinan meninggal dunia menjadi semakin kecil.

Navigation