Berita Terbaru


24-04-2018 | Hit : 36

Tidak Menyusui, Beresiko Kanker Payudara

(oleh dr. Santosa, Sp.PD-KHOM, FINASIM dokter spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi)

 

Semarang-(23/04) Sahabat Sehat, pernahkan Anda mendengar penyakit kanker payudara, yang kadang tidak bergejala, tiba-tiba datang ke Rumah Sakit ternyata stadiumnya sudah tinggi? Karena tidak ada keluhan sakit, penderita kanker payudara ganas sering datang terlambat saat berobat. Pada kanker payudara yang sudah besar, terjadi perubahan warna kulit, yaitu kulit kemerahan dan bila teraba terasa kasar seperti kulit jeruk. Saat puting dipencet kadang keluar cairan atau darah.

Nah, jika sahabat sehat merasakan nyeri dan panas, bisa jadi hal tersebut karena terjadi peradangan, jika ibu-ibu merasa takut ada tumor di payudara, sebagai deteksi awal bisa melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Waktu terbaik untuk melakukan SADARI adalah beberapa hari setelah menstruasi berakhir. SADARI dapat dilakukan di depan cermin, diraba melingkar keluar searah jarum jam dan diakhiri dengan menekan puting. Apabila terasa ada benjolan yang tidak normal kemungkinan itu tumor.

Tumor, dibedakan menjadi 2, yaitu tumor jinak dan tumor ganas yang disebut kanker payudara. Tumor jinak pertumbuhannya lambat, benjolan bisa digerak-gerakkan, terasa nyeri dan kadang panas, perabaannya tidak keras serta batas-batasnya jelas. Sedangkan untuk tumor ganas, pertumbuhannya cepat hanya dalam beberapa bulan langsung membesar, keras , jika membesar, menyebar ke sekitar, sulit digerakkan. Untuk memastikan apakah tumor ini jinak atau ganas perlu dilakukan biopsi.

Mereka yang memiliki peluang besar terkena kanker payudara ini adalah wanita, riwayat kanker payudara pada satu payudara, riwayat keluarga, paparan radiasi, konsumsi alkohol, terapi hormon, melahirkan anak pertama di usia lebih tua, menstruasi dini, tidak menyusui, obesitas. Wanita berusia lebih dari 55 tahun memiliki resiko yang lebih besar daripada wanita muda. Meskipun, tidak menutup kemungkinan, di usia mudaada perempuan yang sudah terserang penyakit ini. Selain itu, ada faktor resiko lainnya, yaitu mutasi genetik. Gen paling umum adalah gen kanker payudara 1 (BRCA1), dan gen kanker payudara 2 (BRCA2). Akan tetapi sebagian besar orang yang didiagnosis dengan kanker payudara tidak memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga.

Untuk pengobatan kanker sendiri tergantung dari stadiumnya. Pada stadium awal atau pertama disembuhkan dengan operasi, stadium ke-2 dan ke-3 dengan operasi dan kemoterapi. Jika kanker payudara terdiagnosa dini, maka kemungkinan bisa sembuh masih tinggi. Sedangkan pada stadium 4 4, pengobatannya bisa dengan kemoterapi atau terapi radiasi, dan terapi hormonal. Bisa juga dengan terapi target, yaitu suatu terapi spesifik tarhadap kondisi kanker payudara tertentu. Intinya banyak modalitas terapi yang bisa dilakukan untuk mengobati kanker payudarayang melibatkan beberapa dokter dengan keahlian khusus. Meski berhasil sembuh melalui operasi dan kemoterapi,kanker payudara bisa kambuh kembali setelah beberapa tahun kemudian. Oleh karenanya dianjurkan untuk rutin kontrol ke dokter. Khusus bagi yang mendapatkan jalan hormonal, kontrol dilakukan tiap bulan.

Belum ada cara pasti untuk mencegah agar tidak terjangkit penyakit kanker. Maka yang bisa dilakukan dengan memperbaikai gaya hidup dnegan diet tinggi serat dan rendah lemak, dengan memperbanyak konsumsi buah dan syur, serta olahraga teratur. Dengan usaha ini, kondisi obesitas akan terhindar dan selalu bugar. (Fitri –PKRS RSUP Dr. Kariadi)

 

 

Navigation