Berita Terbaru


12-03-2019 | Hit : 28

“TINITUS” Telinga berdenging

Muyassaroh, Rano

KSM THT-KL RSUP Dr.Kariadi Semarang

 

Tinitus adalah suara bising di telinga seperti deringan, dengung, raungan, atau bunyi klik. Tinitus merupakan keluhan yang banyak dijumpai sekitar 6% - 30% orang mengalami tinitus yang kontinu. Kejadian tinitus meningkat dengan bertambahnya usia, namun dilaporkan juga bahwa sebanyak 13% anak mengalami tinitus. Terdapat banyak faktor yang berkaitan dengan tinitus, seperti : paparan bising, trauma kepala, penyakit telinga, obat-obatan yang merusak saraf telinga dll. Penyebab tinitus sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, sebagian besar kasus tidak diketahui penyebabnya.              Gejala tinitus berupa suara mendenging, mendengung, menderu, ataupun mendesis dan bunyi lainnya, vertigo (pusing berputar), gangguan pendengaran, gangguan saraf lainnya. Adanya riwayat pengobatan sebelumnya yang berhubungan dengan obat-obatan yang merusak saraf pendengaran. Riwayat cedera kepala, suara bising, trauma akibat suara keras (akustik). Riwayat infeksi telinga dan operasi telinga.

                Dokter melakukan pemeriksaan fisik liang telinga dan gendang telinga adakah kotoran telinga, gendang telinga yang lubang dan tanda-tanda infeksi. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan saraf untuk mengetahui kemungkinan kelainan di batang otak. Pada kasus yang disertai gangguaan pendengaran perlu juga dilakukan uji pendengaran, dan yang paling sederhana adalah tes garpu tala dan pemeriksaan pendengaran (audiometri). Tes dengan alat canggih OAE dan BERA diperlukan untuk menilai fungsi rumah siput dan jalur pendengaran dari n. VIII sampai batang otak, bisa normal ataupun abnormal. Jika normal, maka tinitus mungkin disebabkan karena terpajan bising, intoksikasi obat ototoksik, labirintitis, meniere, fistula perilimfe atau presbikusis. Jika hasil tes BERA abnormal, maka tinitus bisa disebabkan karena tumor (neuroma akustik) atau penekanan pada pembuluh darah. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah darah rutin, profil lipid dan fungsi tiroid. Pada pasien dengan peningkatan hematokrit dan hipertiroid dapat terjadi bising dari pembuluh darah. Pemeriksaan radiologis sebaiknya didasarkan pada hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan audiologi. Pada tinitus berdenyut biasanya bersumber dari pembuluh darah, sehingga pemeriksaan radiologis yang dipilih adalah CT Scan dengan kontras, sedangkan pemeriksaan MRI dengan gadolinium biasanya ditujukan pada keluhan tinitus yang tidak berdenyut. Dengan pemeriksaan tersebut, pemeriksa dapat menilai ada tidaknya kelainan pada saraf pusat, seperti multipel sklerosis, infark dan tumor.

                Penanganan tinitus perlu dilakukan manajemen secara terpadu antara ahli THT-KL, neurologi, audiologi dan psikologi. Meskipun hanya sedikit yang sembuh, pengelolaan tinitus ditekankan untuk membantu mengurangi keluhan sehingga pasien merasa lebih nyaman.

Pada umumnya pengobatan gejala tinitus dapat dibagi dalam 3 cara yaitu :

  1. Pemberian obat obatan untuk meningkatkan aliran darah koklea.
  2. Tindakan bedah dilakukan pada tinitus yang telah terbukti disebabkan oleh tumor. Pada keadaan yang berat, dimana tinitus sangat keras terdengar dapat dilakukan cochlear nerve section. Keberhasilan tindakan ini sekitar 50%. Cochlear nerve section merupakan tindakan yang paling terakhir yang dapat dilakukan.
  3. Terapi perilaku (Behavioral therapy). Menekankan agar tercipta habituasi terhadap tinitusnya. Metode terapi ini biasanya kombinasi dari konseling dan obat obatan.

Edukasi yang dapat diberikan diantaranya:

  • Hindari suara keras yang dapat memperberat tinitus
  • Hindari lingkungan yang sunyi
  • Kurangi makanan bergaram dan berlemak karena dapat meningkatkan tekanan darah yang merupakan salah satu penyebab tinitus
  • Hindari faktor-faktor yang dapat merangsang tinitus seperti kafein dan nikotin
  • Hindari obat-obatan yang bersifat ototoksik
  • Tetap biasakan berolah raga, istarahat yang cukup dan hindari kelelahan.

 

Lamanya terapi cukup sulit ditentukan, tergantung pada respon masing-masing orang. Perbaikan gejala terjadi secara bertahap dan perlahan-lahan, sehingga penentuan akhir terapi sangat tergantung dari yang diharapkan. Ada yang sudah merasa puas dengan sedikit perbaikan, sementara yang lain terus melanjutkan terapi. Biasanya lama terapi mencapai 6 bulan sampai 2 tahun.

 

 

Navigation